Sulitnya Soal Unas untuk Difabel

RADAR JOGJA - Beberapa siswa difabel yang mengikuti Unas tingkat SMA/SMA LB/MA hari pertama di beberapa sekolah kemarin mengeluhkan soal yang sulit. Di SMA Pembangunan Bugisan misalnya, ada tiga siswa difabel dengan keterbatasan penglihatan yang mengikuti Unas, yakni Wahyu Pramono, Taufik Hermawan, dan Arya Widi Rumpoko.

Mereka mengaku soal Bahasa Indonesia sangat sulit. Bahkan mereka tidak terlalu optimistis dengan hasil yang dikerjakannya. "Sulit sekali soalnya. Entah karena saya kurang belajar atau memang soalnya yang sulit. Tetapi, sebagian besar saya tidak bisa mengerjakan," ujar Wahyu.

Menurut Wahyu, siswa seperti dirinya memang memiliki banyak keterbatasan dalam mengerjakan soal ujian seperti Unas. "Bahkan terkadang saya tiodak mengerti makna dari soal itu. Ya, ini tantangan tersendiri bagi kami. Dengan keterbatasan proses belajar mengajar di sekokah, masih harus ada ujian untuk lulus," ujarnya.

Dalam mengerjakan soal Unas, baik Wahyu maupun Taufik dibantu dengan soal berhuruf braile. Dibandingkan dengan siswa lain, soal untuk siswa difabel memiliki tingkat kesulitan yang berbeda atau lebih rendah.

Ketua Panitia UN SLB Negeri 3 Jogja Sudarmono mengakui, sebagian besar siswa dengan keterbatasan fisik khusus memang kesulitan mengerjakan soal Unas. Meski soal yang dibuat untuk mereka memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.

"Ini berkaitan dengan sistem belajar di ruang kelas. Tidak mudah mengajarkan pelajaran matematika dan bahasa Indonesa di SLB. Padahal, soal untuk beberapa siswa di SLB dibuat oleh pemerintah. Misalnya untuk siswa tuna netra. Proses belajar mengajar di kelas kemungkinan belum cukup mampu membuat siswa bisa menerjakan soal Unas," jelas Sudarmono.

Sementara itu, kemarin hanya satu siswa di SLB Negeri 3 yang mengerjakan soal Unas. Dia adalah Heru Singgih Prayogo, siswa tuna netra dan wicara. Berada di dalam ruangan seluas 4 x 6 meter, Heru sendirian mengerjakan sulitnya soal bahasa Indonesia dan matematika. Dia hanya ditemani satu pengawas pria.

"Sulit juga soalnya. Banyak yang nggak bisa. Padahal sudah belajar," ujar siswa asal Kalimantan ini. Kemarin, sekitar 39.716 siswa SMA/MA/SMK di DIJ mengikuti Unas hari pertama. Sekitar 1.003 pemantau dikerahkan untuk memperlancar pelaksanaan Unas. Tidak hanya itu, jajaran keamanan dari Poltabes Jogja juga dikerahkan untuk mengamankan jalannya ujian.

"Kami mengamankan Unas mulai pendistribuan soal dari percetakan sampai ke kelompok kerja sekolah. Diterjunkans ekitar 600 personel. Harapannya, ujian berjalan aman dan lancar," jelas Kepala Bagian Operasional Poltabes Jogja Kompol Zainal Arifin. (lai/uki)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Super Murah "Back To School" Matahari Godean Toserba & Swalayan

Kasus Corona DIY Tambah 10 Jadi 169, Ada dari Klaster Gereja dan Indogrosir

Bebas 2 Pekan, Napi Asimilasi di Yogya Diciduk Gegara Nyolong Motor