"Klithikan IT" Menuju Yogya Cyber Province

YOGYA (KR) - Obsesi mewujudkan Yogya cyber province masih membutuhkan banyak dukungan dan peran berbagai pihak. Selain pemerintah, maka peran yang sangat dibutuhkan terutama adalah masyarakat sendiri dan pelaku Information Technology/IT.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi 'Prospek IT di Yogyakarta' yang digelar Forum IT di gedung Jogja Expo Center/JEC, Sabtu (1/11). Sultan HB X menegaskan bahwa dalam blue print tahun 2009, Propinsi DIY siap menjalankan Jogja Cyber Province (JCP). Tekad tersebut sudah mulai dilaksanakan lewat penggunaan IT pada 8 dinas yang ada di lingkungan Propinsi DIY.

Ketua Forum Information Technology (IT) Yogyakarta Franz Budiono, mengungkapkan, Forum IT Yogyakarta yang baru berdiri dalam beberapa tahun terakhir bertujuan agar seluruh potensi IT di Yogyakarta bersama-sama memberikan warna pada perkembangan IT di Yogyakarta. Salah satu program yang dilaksanakan antara lain dengan memberikan bantuan berupa 1.000 software tentang manajemen pendidikan yang diberikan secara gratis kepada sekolah lewat Dinas Pendidikan Propinsi DIY. "Kami juga tengah merencanakan digelarnya 'Sunday Morning' atau 'Sunday Market' , yang akan membawa konsep 'klithikan' disini, dan masyarakat bisa mendapatkan barang-barang IT dengan harga yang terjangkau. Selain itu, juga bisa melakukan konsultasi" kata Franz Budiono. Kegiatan ini sendiri bertujuan untuk memberikan edukasi ke masyarakat umum, bahwa IT tidak hanya untuk masyarakat tertentu.

Kepala Badan Informasi Daerah/BID Propinsi DIY, Prof Dr Achmad Djunaedi menegaskan bahwa propinsi DIY serius untuk mengenalkan IT di tengah masyarakat. Langkah tersebut setidaknya sudah dirintis lewat keberadaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Lewat keberadaan kelompok ini, pemerintah mencoba memberikan pemahaman akan pentingnya informasi. "Pelan-pelan kami perkenalkan komputer dan internet, sehingga jika sebelumnya misalnya petani mencari referensi dari media cetak, atau TV atau radio kami mulai perkenalkan pada internet," kata Achmad Junaedi. Meski demikian, tanpa dukungan berbagai pihak terutama swasta, program tersebut tidak bisa berjalan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah persoalan infrastruktur jaringan akses internet maupun memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang IT.

Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan DIY, Prof Dr Suwarsih Madya PhD menegaskan pentingnya peran berbagai pihak sehingga IT bisa dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Sekarang ini IT merupakan hal sentral di dunia pendidikan. Sayangnya masih banyak sekolah-sekolah di Yogyakarta yang belum mendapatkan kesempatan untuk menikmati akses IT. Di sisi lain kendala yang muncul kadangkala merupakan kendala yang bisa diatasi dengan kerja sama dengan stakeholder yang lain. "Ketika perangkat IT sudah dimiliki, misalnya komputer dan internet, justru muncul kendala yang tidak diduga seperti naiknya tagihan listrik karena menggunakan IT. Yang terjadi ada sekolah yang terpaksa tidak menghidupkan perangkat IT nya karena takut tagihan melonjak," jelas Suwarsih Madya.
Kendala lain yang muncul misalnya, listrik sering mati, sulitnya akses internet di wilayah tertentu. Jika kondisi ini tidak dicarikan solusinya, anak-anak yang sebenarnya memiliki semangat yang tinggi dalam belajar bisa terpukul.

Sementara Kadinas Disperindagkop DIY, Drs F Koesdarto Pramono mengemukakan peran IT di dunia perindustrian jelas tidak bisa disepelekan. Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu pihak yang diuntungkan dengan adanya infrastruktur IT. "Tidak bisa jika hanya dilakukan sendiri, perlu sinergi yang kuat antar berbagai pihak untuk menjadikan IT dimanfaatkan secara maksimal oleh UKM," kata Koesdarto. (Apw/Rsv)-b

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Super Murah "Back To School" Matahari Godean Toserba & Swalayan

Kasus Corona DIY Tambah 10 Jadi 169, Ada dari Klaster Gereja dan Indogrosir

Bebas 2 Pekan, Napi Asimilasi di Yogya Diciduk Gegara Nyolong Motor