|

Dari Seminar Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital

Putarkan Game Tarzan, Ibu-Ibu Nyaris Histeris
Pesatnya perkembangan teknologi banyak membawa pengaruh negatif terhadap anak jika tak mendapat pengawasan dan perhatian orangtuanya. Game, komik, serta tayangan televisi yang dikemas untuk segmentasi anak-anak, ternyata banyak dijejali sesuatu yang justru dilarang untuk anak di bawah usia remaja.

Hal ini mengemuka dalam Smart Parenting Seminar "Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital" dengan pembicara psikolog Elly Risman dan artis Shahnaz Haque di Kelapa Gading Resto, kemarin. Seminar yang diadakan Female Radio bersama Delta FM serta Yayasan Kita dan Buah Hati ini membahas bahaya apa saja yang dapat berpengaruh pada perilaku dan psikologis anak yang diakibatkan pesatnya era teknologi digital.

Dari hasil kunjungan konselor remaja Yayasan Kita dan Buah Hati ke beberapa SD di Jabodetabek didapatkan hasil yang mengejutkan. Dari Januari 2007 hingga Agustus 2008 dengan responden 1.997 siswa diperoleh data yang menunjukkan, mereka terpapar materi pornografi dari komik 27 persen, games 16 persen, film televisi 13 persen, handphone 13 persen, internet 12 persen, VCD dan DVD 10 persen, majalah 6 persen, koran 2 persen, serta novel 1 persen.

''Siapa yang tidak tahu Naruto?," tanya Elly kepada peserta seminar. Sebagian besar peserta sangat tahu bahwa film yang diputar di salah satu TV swasta di Indonesia itu adalah tontonan sehari-hari anaknya yang masih berusia sekitar 8 hingga 10 tahun. Elly lalu menunjukkan apa saja yang ada di film Naruto itu. Dengan screen power point ia menunjukkan dan menjelaskan secara detail gambar-gambar dan adegan yang tak pantas ditonton anak di bawah umur.

Elly menyoroti gambar kartun yang menampilkan adegan ciuman dan gambar bagian tubuh wanita yang di tampilkan secara jelas. "Seperti inikah tontonan anak kita sehari-hari?," lanjutnya. Selain itu, Elly juga mencontohkan satu permainan game Tarzan yang berdasarkan hasil penelitian merupakan game yang memiliki konsumen tinggi.

Dalam game itu, Tarzan yang digambarkan sebagai Tarzan kecil harus mengumpulkan poin dengan mengambil beberapa wanita telanjang yang jumlahnya puluhan. Setelah seluruh wanita itu terambil, adegan persetubuhan antara Tarzan dengan wanita itu ditampilkan sekitar 5 detik.

Melihat game itu, peserta seminar yang sebagian besar adalah ibu-ibu menahan histeris. Beberapa di antaranya mengaku tidak mengetahui jika game-game yang selama ini ia belikan untuk anaknya, ternyata memuat hal-hal tak senonoh. ''Tahunya kan game untuk anak-anak," tutur salah seorang peserta kepada Radar Jogja.

Elly juga mengingatkan bahaya handphone canggih yang sudah dipakai anak-anak akhir-akhir ini. Dirinya menunjukkan bahwa dalam HP itu terdapat beberapa game yang juga menampilkan adegan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Meski dikemas dalam benuk game anak.

Dari fenomena ini, Elly mengingatkan para orang tua untuk lebih berhati-hati menjaga anaknya. ''Betapa jauh jarak antara kita dan anak-anak jika apa yang mereka mainkan saja kita tidak tahu," lanjut Elly, setengah menangis.

Wanita yang aktif dalam Yayasan Kita dan Buah Hati ini terlihat begitu peduli dengan perkembangan kehidupan anak pada masa sekarang ini. Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian anak. Dengan mengetahui tahapan perkembangan anak serta memahami otak anak bekerja, orang tua bisa memantau optimalnya tumbuh kembang anak. Dirinya menyayangkan kondisi orang tua yang terlalu sibuk hingga komunikasi dengan anak terganggu.

Hal senada diungkapkan artis Shahnaz Haque. Ibu tiga anak yang baru saja meluncurkan buku berjudul Keep Smiling Mengasuh Anak Tanpa Panik itu mengatakan, dalam mengonsumsi tayangan televisi, game, maupun internet, orang tua harus selalu mendampingi dan memberi rambu-rambu terhadap tayangan-tayangan itu.

''Harus dibedakan mana yang masuk dalam rambu merah, kuning, dan hijau," tuturnya. Ditambahkan, untuk mendidik anak, jangan menjejalinya dengan hal-hal ilmiah, melainkan contoh-contoh sederhana yang dapat dipetik dari kehidupan sehari-hari. "Jangan juga kita mengintimidasi, anak akan melanggar dan justru tambah bandel jika diintimidasi," tandasnya. ***

ANNISA ANDRIANI, Jogja

Posted by Wawan Kurniawan on 15.26. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented