|

Jogja Kembali Bersepeda Didukung 1.500 Pengguna Sepeda Tua Senusantara

RADAR JOGJA- Puncak acara ulang tahun Podjok 9Paguyuban Onthel Djokjakarta) berlangsung meriah. Ratusan orang bersepeda keliling kota Jogja. Tak kurang dari 30 kilo ditempuh oleh para anggota paguyuban sepeda tua dari seluruh Indonesia.

Menurut data panitia, sekitar 1.500 anggota paguyuban yang datang ke Jogja untuk mendukung kampanya Jogja Kembali Bersepeda, Stop Global Warming Save Our Planet. Kirab keliling kota dengan sepeda menempuh rute Benteng Vredeburg- Kebun Binatang Gembiraloka-Gedongkuning-Jalan Solo-Tugu dan berakhir di Benteng Vredeburg, Minggu (23/11).

Setelah berkumpul kembali di Benteng Vredeburg, para peserta asyik mengobrol dan melihat-lihat koleksi sepeda komunitas lain. Kebanyakan dari mereka memakai kostum antik karena perlombaan kostum akan diadakan hari itu juga. Ada yang berkostum ala noni belanda, lelaki jawa tempo dulu, hingga tampil sangat niat dengan kostum pakaian adat.

Paguyuban terjauh yang mengikuti pesta sepeda onthel ini rupanya berasal dari Medan. Ada pula yang berasal dari Lampung. Dua peserta dari paguyuban sepeda tua di Lampung, Indra dan Hendra bahkan menempuh perjalanan Lampung-Jogja dengan bersepeda!

"Butuh waktu sekitar sebelas hari untuk sampai ke sini (Jogja). Soalnya kita jalannya nyantai sih. Kalau capek ya berhenti," ujar Muhammad Hendra Susanto atau Hendra. Pria ini dan seorang temannya bertolak dari Bandar Lampung pada tanggal 9 November. Perjalanan antar pulau itu, diakui olehnya, membuat sepedanya beberapa kali rusak di jalan. "Kadang ya suka juga rewel di Jalan. Sepeda saya tiga kali bermasalah di jalan. Seringnya masalah ban," tuturnya sambil tertawa.

Memang melelahkan berkendara sejauh itu dengan sepeda. Namun Hendra dan seorang temannya merasa enjoy saja. "Kami memang sengaja naik sepeda. Biar beda. Kalau naik mobil semuanya juga bisa," tambah pria yang sehari-hari bekerja di bidang sewa tenda pengantin.

Mereka memulai perjalanan setelah subuh hingga pukul delapan malam. Bila siang hari, mereka berteduh di warung makan atau di bawah pepohonan. Saat malam tiba, mereka memilih masjid, kantor polisi atau pom bensin untuk beristirahat. Merasakan berkendara jarak jauh dengan sepeda membuat Hendra mengenal lebih dekat sosok masyarakat di sepanjang jalan yang dilewatinya. "Senang rasanya. Jadi bisa melihat lebih dekat apa-apa yang kita temui di jalan," katanya.

Kampanye Jogja Kembali Bersepeda tidak lepas dari keprihatinan para anggota paguyuban Podjok tentang global warming. Upaya untuk mengembalikan Jogja sebagai kota sepeda diakui oleh ketua Podjok Towil bukan sesuatu yang mudah. "Tapi dengan dukungan banyak pihak, termasuk pemerintah, kami yakin upaya ini bisa berefek positif," tuturnya.

Bentuk dukungan yang berdatangan dari 60 paguyuban peserta Jogja Kembali Bersepeda menunjukkan upaya ini bisa berhasil. Paguyuban Sepeda Santai Kutoarjo (KP2SK) misalnya, datang beramai-ramai menggunakan bus pariwisata. Ada 26 anggota paguyuban yang datang. Ke-26 sepeda mereka juga ikut "naik" bus. "Kursi yang dipakai Cuma sebagian. Lainnya dilipat untuk tempat sepeda," papar wakil ketua paguyuban Aris Munandar.

Setelah kirab sepeda berakhir, acara selanjutnya adalah ramah tamah. Ada lomba yel dan kontes kostum. (cw10)

Posted by Wawan Kurniawan on 15.08. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented