Perajin Piyungan setop ekspor

HARIAN JOGJA - PIYUNGAN : Sejumlah perajin yang ada di Desa Srimartani, Piyungan tidak lagi mengekspor hasil kerajinannya keluar negeri sebagai efek dari krisis global. Suhardiyana, Ketua Paguyuban Kreasi Mandiri, mengatakan dari 12 anggota kelompoknya, tidak ada lagi yang menjual produknya ke luar negeri. “Terakhir sekitar dua bulan lalu ke Amerika,” ujar Suhardiyana yang juga pemilik AKP Craft, perajin pandan.

Dia mengatakan, biasanya dalam 2,5 bulan bisa mengeskpor satu kontainer kerajinan pandan dalam berbagai bentuk. Suhardiyana menuturkan, bagi perajin yang barangnya diekspor, krisis global berdampak sangat fatal. “Sekarang 25 orang pekerja saya menganggur semua, tidak lagi berproduksi karena tidak ada pesanan, barang tidak bisa keluar,” keluhnya.
“Betul-betul off, tidak ada lagi aktivitas pekerjaan,” tambah Suhardiyana.

Dia mengatakan, dari 12 perajin yang bergabung di Paguyuban Kreasi Mandiri, hampir semua dalam kondisi kolaps. Paguyuban ini menampung perajin keramik, kayu, dan pandan.
Dia menambahkan, kelangsungan hidup dari perusahaan sangat bergantung pada marketing. “Saat ini, kami sangat membutuhkan itu, market perajin yang ekspor macet total, jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, kami tidak tahu sampai kapan bisa bertahan,” kata Suhardiyana.

Menurutnya, sejak enam tahun menjadi perajin, baru kali ini AKP Craft macet melakukan ekspor. “Gangguan marketing mulai terasa sekitar tiga bulan lalu, tapi berhenti ekspor dua bulan lalu, ketika itu dua PO (purchasing order) langsung dibatalkan,” lirih Suhardiyana.
Lebih lanjut kata Suhardiyana, perajin tidak bermasalah dengan bahan baku, tenaga kerja, maupun dengan unit produksi, yang menjadi kendala pada pemasaran. Suhardiyana menuturkan, dalam sehari tenaga kerjanya mampu memproduksi 2.000 taplak pandan dan berbagai bentuk kerajinan lain. “Upahnya berkisar antara Rp15.000 hingga Rp18.000 perhari dan dibayar borongan,” terangnya.
Yang menjadi ketakutannya, jika tidak bisa memasarkan produk, pengangguran besar-besaran ada di depan mata. “Jika terus bertahan dalam kondisi seperti ini, kami tidak mampu. Kami khawatir akan ada PHK jika tidak segera diselamatkan,” pungkas Suhardiyana.

Terpisah Yahya, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Bantul mengimbau perajin untuk lebih kreatif mencari buyer baru. Yahya mengatakan pihaknya tidak dapat mengarahkan perajin dalam menjual produknya maupun menjualkan produk perajin.
“Kami tidak dapat menjual produk perajin atau mengarahkan pasar karena perajin lebih mengetahui selera pasar. Perajin tentunya lebih tahu selera buyer dan buyer mana saja yang kira-kira dapat ditawari barang,” kata Yahya.

Mengenai daftar buyer, Yahya mengatakan pihaknya tidak memilikinya namun di Badan Pertahanan Pangan, Ekonomi dan Sektor Masyarakat Nasional (BPN) ada daftar buyer-buyer dari luar negeri. “Pada umumnya mereka adalah buyer besar,” kata Yahya.

Oleh Dian Ade Permana


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Super Murah "Back To School" Matahari Godean Toserba & Swalayan

Kasus Corona DIY Tambah 10 Jadi 169, Ada dari Klaster Gereja dan Indogrosir

Bebas 2 Pekan, Napi Asimilasi di Yogya Diciduk Gegara Nyolong Motor