|

Polres GK Bentuk Timsus

HARIAN JOGJA - WONOSARI : Kepolisian Resor Gunungkidul terus melakukan pengusutan dugaan praktik percaloan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Gunungkidul. Percaloan itu diduga melibatkan seorang PNS di lingkungan Pemkab Gunungkidul dan salah seorang tokoh masyarakat. Bahkan, Polres membentuk Tim Khusus (Timsus) untuk memulai ke tahap penyelidikan. Timsus ini bukan saja melibatkan Satuan Reskrim namun juga melibatkan satuan lain seperti Intelkam. Timsus yang akan terus melakukan koordinasi ini secara khusus pula terus mengumpulkan berbagai informasi guna membongkar praktik percaloan CPNS yang meresahkan masyarakat.

‘Kami sudah melakukan langkah koordinasi intensif dengan satuan Intelkam untuk melangkah di tahap penyelidikan awal ini. Melalui tim kecil ini akan berupaya maksimal melakukan penelusuran praktik percaloan CPNS, sebagaimana komitmen Kapolres dalam koordinasi yang sudah dilakukan kemarin,” kata Kasat Reskrim Polres Gunungkidul, Iptu Iswanto kepada Harian Jogja.

Iswanto meminta agar proses penyelidikan awal ini tidak terhambat dengan pemberitaan sejumlah media yang justru membuka pelauang yang bersangkutan untuk menemukan celah untuk menghindar dan berkelit. Untuk itulah media diminta bersabar untuk menunggu berbagai perkembangan dan hasil dari timsus. “Kalau setiap tahap penyelidikan selalu di ekspose media saya khawatir ini akan berdampak menghambat timsus untuk menemukan bukti-bukti kuat baik dari nama-nama yang disebut sebagai calo maupun korban,” terang Kasat Reskrim.

Selaku timsus, Iswanto belum berani memastikan apakah dengan dikantonginya selembar kwitansi bermaterai sebagai bukti pembayaran uang muka CPNS Departemen Pertanian sudah meyakinkan. “Polisi tidak boleh memutuskan hanya dari satu alat bukti. Inilah pentingnya tahap poldat penyelidikan ini butuh banyak hal termasuk keterangan berbagai sumber informasi. Tunggu sebentarlah,” kata Iswanto.

Terpisah, Amminuddin Azis selaku Direktur Lembaga Kajian dan Studi Sosial (LKdS) Gunungkidul meminta polisi untuk segera bertindak cepat. Menurut Azis, dari sejumlah pemberitaan Harian Jogja diistilahkan tinggal nyaplok karena memang sudah secara gamblang dijelaskan. Jika polisi tidak jemput bola, LKdS menilai justru menciptakan peluang terhadap pelaku untuk berupaya memberikan keleluasaan dan menciptakan celah termasuk yang dikhawatirkan sampai berupaya menghilangkan barang bukti sebagai upaya berkelit. “Ya kalau begitu polisi hari ini masih sekadar wait and see atau tidak jemput bola dipastikan timsus ini akan pulang ke barak dengan tangan hampa,” tegas Azis.

Sementara itu salah satu peminat CPNS titipan yang namanya keberatan untuk di korankan mengaku sempat cemas dan khawatir dengan terbongkarnya upayanya menjadi CPNS melalui jalur titipan . Pasalnya lulusan SMU ini yang sudah membayar DP senilai Rp10 juta mengaku semakin ragu. “Ragu sih ragu tapi kayaknya tetap akan menunggu sampai April mendatang. Jika yang dijanjikan B dan NG ternyata hanya omong kosong uang akan saya minta. Karena memang sebagian uang DP saya sudah saya ambil lagi,” kata peminat CPNS dikonfirmasi melalui ponselnya, kemarin.

Oleh Endro Guntoro
HARIAN JOGJA

Posted by Wawan Kurniawan on 15.55. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels