|

Ratusan Pengajar di DIY Menunggu Lebih Setahun; Tunjangan Profesi Guru, Macet

YOGYA (KR) - Meski sudah lulus sertifikasi hampir setahun lalu, namun hingga kini ratusan guru swasta di DIY belum menerima tunjangan profesi. Padahal, menurut Ketua Umum DPD Perkumpulan Guru Karyawan Sekolah Swasta Indonesia (PEGKSSI) DIY Maruli Taufiq SE, dana tersebut sudah dikirim ke DIY. Yang dikhawatirkan, jika tak segera dicairkan, dana tersebut ditarik kembali ke pusat karena sudah hampir habisnya tahun anggaran.

”Bahkan konon hak kami selama empat bulan sudah dihanguskan. Kalau informasi ini benar, tak menutup kemungkinan kami melakukan gugatan,” kata Maruli Taufiq kepada KR tadi malam.
Maruli Taufiq sendiri lulus sertifikasi pada Desember 2007. Dengan demikian hingga saat ini sudah hampir setahun. Mengenai jumlah guru yang bernasib sama dengan dirinya cukup banyak. Untuk Gunungkidul ada sekitar seratus orang, bahkan kini mereka sudah membentuk tim untuk bersama Dinas Pendidikan setempat melakukan pelacakan hingga ke Jakarta guna mengetahui penyebab belum cairnya tunjangan.

”Untuk selain Gunungkidul kami belum tahu, karena belum terdata. Karena itu kami akan mengundang para kepala sekolah swasta untuk mendata guru yang sudah bersertifikat tetapi belum mendapat tunjangan,” jelasnya.
Menurut informasi yang diperolehnya, alasan belum cairnya tunjangan bermacam-macam. Antara lain, kata Kepala SMA Pembangunan Yogyakarta ini, berkas belum lengkap. Namun hal ini dianggap aneh, karena kalau benar masak sampai hampir setahun hanya dibiarkan saja, tetapi tidak ditagih. Alasan lainnya, berkas hilang. Namun terkait masalah ini sudah dilakukan pengiriman ulang. Sedang alasan lain karena untuk guru swasta belum ada ketetapan mengenai pencairannya.
”Saya pernah menemui Direktur LPTK untuk menanyakan masalah ini, jawabannya karena overload, yakni berkas sampai menumpuk sehingga untuk mengerjakan stafnya sampai lembur dan setiap harinya hanya mampu menyelesaikan beberapa saja,” paparnya.

Sementara itu Mendiknas Bambang Sudibyo dalam sambutannya pada puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Depdiknas Jakarta, Selasa (25/11), menjelaskan, para guru yang sudah berhasil meraih sertifikat profesi akan mendapat tambahan kesejahteraan sebesar gaji pokok guru pegawai negeri. ”Ini berlaku baik bagi guru PNS maupun non-PNS,” katanya.

Mendiknas juga menjelaskan, sebagai upaya percepatan peningkatan kualifikasi guru, pemerintah sedang mendesain kebijakan akademik yang memungkinkan pengakuan terhadap hasil belajar yang diperoleh sebelumnya oleh guru. Guru-guru yang menempuh pendidikan dalam jabatan jenjang S1/D-IV akan berkurang beban kredit kuliahnya. Hal ini karena sebagian satuan kredit semester (SKS) yang wajib ditempuh akan diperoleh melalui pengalaman belajar mandiri, prestasi akademik, karya inovatif, pendidikan dan pelatihan dan sebagainya yang diperoleh sebelumnya.
Hari Guru di Magelang
Sementara itu peringatan Hari Guru 2008 di Kota Magelang, kemarin diwarnai kegiatan doa bersama puluhan guru TK yang tergabung dalam IGTKI (Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia) Kota Magelang di TK Pembina Kota Magelang. Saat dilaksanaan doa bersama, suasananya sangat khidmat dan ada juga yang tidak kuat menahan tetesan air mata.

Doa dipimpin Arifin Mustofa SPd, anggota Komisi I DPRD Kota Magelang, yang sebelumnya juga menyampaikan siraman rohani. Orangtua murid juga hadir dalam kegiatan ini. Saat siraman rohani berlangsung, sejumlah guru sempat terkejut ketika kegiatan memasang sebuah tiang pancang proyek pembangunan Stadion Madya Kota Magelang, yang berjarak beberapa meter dari bangunan TK Pembina, dilakukan. Bahkan getaran-getaran pemasangan tiang pancang tersebut juga sangat terasa.

Menurut Kepala TK Pembina Kota Magelang Dra Irine Sri Riswati, kegiatan doa bersama ini digelar di antaranya untuk memohon doa dari para guru TK maupun lainnya serta pasrah kepada Allah SWT, mengingat solusi terbaik adalah Allah SWT yang akan mengaturnya. Doa tersebut adalah doa agar diberi keselamatan, kesehatan, tabah dan dicarikan solusi terbaik untuk TK Pembina Kota Magelang ini. Tidak menuntut apa-apa, kecuali agar para murid TK yang berjumlah 105 siswa tersebut dapat belajar dengan tenang dan nyaman, demikian juga para gurunya. (Ati/Tha/Fie)-n

Posted by Wawan Kurniawan on 15.13. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented