|

615 Warga DIY Idap HIV/AIDS

HARIAN JOGJA - KERATON : Sekretaris Komisi Penananggulangan Aids (KPA) DIY, Riswanto menegaskan penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) saat ini mencapai 615 orang. Mayoritas penderita menurutnya berasal dari pengguna jarum suntik dan narkoba., dengan usia bervariasai antara 17-34 tahun. “60 persen penderita usia muda,banyak yang belum terdeteksi,”ujarnya pada acara peringatan hari AIDS sedunia di monumen serangan umum 11 Maret kemarin.

Jumlah penderita yang belum terdeteksi menurutnya masih mencapai 90%. Setiap bulan, rata-rata jumlah penderita rata-rata mengalami penambahan sebanyak 50 orang. September lalu penderita mencapai 565 orang.

Stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap penderita imbuh Riswanto menjadi persoalan utama. Hal itu menyulitkan KPA untuk mendeteksi penderita. Padahal, semakin banyak penderita yang ditemukan akan semakin mudah untuk mengobati secara dini.

Di sisi lain, masyarakat saat ini belum memahami dengan benar tentang penyakit mematikan tersebut. Pemahaman yang kurang menurutnya menyangkut cara penularan AIDS. Sehingga diskriminasi masih terjadi. Penulran hanya bisa terjadi lewat kontak darah dan hubungan seks.

Tentang obat antiretroviral (ARV), menurutnya DIY memiliki pasokan yang cukup. Saat ini, pasokan obat sudah ada di sejumlah rumah sakit seperti rumah sakit Sardjito, Bethesda, Panti Rapih, dan PKU Muhammdiyah.

Sementara itu Asisten Fasilitasi dan Investasi Provinsi DIY, Suhartuti Sutopo mewakili Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan perubahan perilaku masyarakat mempengaruhi penyebaran penyakit tersebut. Dampak globalisasi membawa pengaruh pada penularan penyakit tersebut. Masyarakat semestinya mewaspadai kondisi tersebut dengan cara melakukan pencegahan secara dini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, Suwarsih Madya menegaskan, pihaknya akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan perguruan tinggi untuk membuat modul tentang bahaya AIDS.

Penyampaian materi kepada anak-anak menurutnya, harus benar-benar dilakukan secara terarah.”Kami akan libatkan ahli psikologi agar tidak keliru,”tegasnya. Karena, informasi yang salah akan membuat anak memilki persepsi yang salah. Pelibatan ahli melalui pemilihan kata yang benar nantinya mempengaruhi keberhasilan strategi tersebut.

Penanaman nilai moral pada anak, remaja dan keluarga berperan untuk menghindari penyakit tersebut. Jogja semestinya menjadi contoh bagi Provinsi lain dalam pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS.

Lebih lanjut, Suwarsih menjelaskan, pendidik sebenarnya bisa menyisipkan pengetahuan tentang seksualitas melalui mata pelajaran biologi. Sehingga, tidak perlu memasukkan kurikulum khusus, karena sudah terintegrasi secara langsung. “Kalau semua dijadikan mata pelajaran susah, makanya diintegrasikan,”imbuhnya.

PENDERITA AIDS DIY
Tahun penderita
2003 31
2004 139
2005 221
2006 296
2007 393
2008 615

Sumber : Dinkes Provinsi DIY
Oleh Shinta Maharani

Posted by Wawan Kurniawan on 15.08. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels