|

ANALISIS : PHK dan Inovasi

Oleh : E Kusumadmo PhD
BILA kita membaca tulisan Michael Backman yang berjudul Asia Future Shock, khususnya tentang Indonesia, hati kita sebagai warga bangsa sungguh menjadi sedih, meskipun tidak akan menjadi mandeg berpikir. Bagaimana tidak? Backman bertanya, apakah Indonesia punya masa depan? Untuk kontek situasi saat ini, dampak krisis keuangan global terhadap pemutusan hubungan kerja di berbagai industri di negeri kita, mungkin tulisan Backman ada unsur kebenarannya juga. Dikatakan bahwa upah di Indonesia rendah. Tetapi, negara ini adalah tempat yang tinggi biaya untuk berbisnis. Alasan sebenarnya adalah ruwetnya mengurus segala sesuatu. Transparansi rendah, yang berarti bahwa ketidakjelasan tinggi. Terlalu banyak pihak yang berkepentingan dalam mempertahankan transparansi yang rendah ini.

Semakin banyak ketidakjelasan, semakin banyak peluang bagi para pihak menjejalkan diri ke dalam situasi untuk membantu orang-orang bisnis mengarungi kekacauan. Pemutusan hubungan kerja bagi ratusan ribu pekerja di Indonesia saat ini merupakan mimpi buruk yang sudah lama dikhawatirkan. Hidup dan bekerja di lingkungan perusahaan-perusahaan yang sangat tergantung oleh bisnis yang tidak inovatif tentu amat sangat riskan. Dalam industri manufaktur kita, secara rata-rata, 43 persen dari perusahaan tidak melakukan inovasi, sebagaimana data dari Indikator Iptek Indonesia tahun 2006.

Dalam kondisi demikian, bisnis yang ‘setia’ pada pasar industri yang ada secara alamiah akan selalu berada dalam situasi persaingan yang berdarah. Dalam jangka panjang keunggulan bersaing yang mereka ciptakan tidak akan lama dapat dipertahankan. Korban selalu lebih besar daripada hasil. Penderitaan akan lebih lama dialami oleh perusahaan-perusahaan yang absen melakukan inovasi nilai atas pasar yang dilayani. Belum ditemukan suatu penelitian yang komprehensif untuk membuktikan bahwa rendahnya inovasi bisnis disebabkan oleh mental korup suatu bangsa, namun secara spekulatif dapat dikatakan bahwa rintangan inovasi bisnis sangat dikontribusi oleh rendahnya daya kreasi, kemalasan memupuk semangat juara dan adanya pembiaran rasa bangga menggunakan produk asing. Persoalan pemutusan hubungan kerja yang semakin meningkat saat ini tentu tidak dapat otomatis diselesaikan melalui refleksi tentang kelemahan inovasi bisnis kita.

Namun apabila kesadaran berkreasi, berinovasi, selalu menjadi agenda, ancaman krisis serta pemutusan hubungan kerja tentu akan sangat merangsang munculnya strategi baru dalam mengatasi berbagai masalah yang mengancam. (Sebagaimana disampaikan E Kusumadmo PhD, Pengajar dan Konsultan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kepada Ronny SV)-z

Posted by Wawan Kurniawan on 17.05. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels