|

Kawasan Karst Terancam Punah

HARIAN JOGJA-WONOSARI: Pemkab Gunungkidul dinilai tidak akan mendapatkan keuntungan yang signifikan dari aktivitas penambang karst, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun beberapa perusahaan penambangan skala besar. Sejumlah h bukit karst di Gunungkidul yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai kawasan wisata warisan dunia (word heritage) sudah banyak yang mengalami kehancuran. Untuk mengantisipasi meluasnya kerusakan yang terjadi, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang konsen terhadap kelestarian lingkungan mendesak agar Pemkab Gunungkidul secara tegas menghentikan penambangan karst.

HARIAN JOGJA/ENDRO GUNTORO
“Yang ada, Pemkab hanya akan rugi jika terus membiarkan kawasan karst menjadi lokasi ekploitasi penambangan,” tegas Bagus Yulianto, aktivis lingkungan yang membidangi konservasi goa dan alam sekitar dari Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta kepada Harian Jogja, beberapa waktu lalu.
Menyikapi maraknya aktivitas penambangan batu kapur di Gunungkidul, Bagus menilai perusahaan berskala besar maupun penambang rakyat tidak akan mendatangkan keuntungan. Sebaliknya, aktivitas penambangan batu di sejumlah bukit hanya membuahkan kerugian bagi pemerintah setempat, masyarakat dan wilayah kars itu sendiri. Pernyataan tersebut bukan tidak beralasan, yayasan yang kerab menggelar ekspedisi susur goa kawasan karst di Gunungkidul ini sangat menyayangkan langkah Pemkab jika memberikan perpanjangan izin maupun mengeluarkan izin penambangan baru bagi perusahaan yang hasilnya sangat tidak sebanding dengan nilai kerugian akibat kerusakan kawasan karst.
Bagus menilai, penambangan kawasan karst akan berpengaruh terhadap keselamatan kantong-kantong air dalam perut bumi dan keberadaan sungai bawah tanah yang selama ini menjadi aset bagi masyarakat. “Keberadaan sungai bawah tanah inilah yang perlu menjadi pertimbangan Pemkab secara matang,” katanya. Perhitungan matang dari hasil penarikan pajak galian C, retribusi izin tambang dan retribusi izin usaha penambangan yang diperoleh dalam kurun waktu satu tahun harus dipertimbangkan dengan besarnya kebutuhan anggaran droping air untuk kawasan yang kerap mengalami krisis air.
Ia optimistis, kawasan karst di Gunungkidul yang telah dicanangkan sebagai kawasan paling eksotis kelas dunia ini mempunyai prospek cerah untuk dijadikan sebagai objek wisata minat khusus. Menurutnya, dari sejumlah wisatawan asing yang pernah menikmati keindahan goa dan sungai bawah tanah di Gunungkidul, membuat para wisatawan kagum. “Mereka kerap menyebut kawasan kars Gunungkidul sebagai salah satu keajaiban dunia yang mempunyai prospek cerah untuk menjadi kawasan wisata minat khusus,” imbuh Bagus.
Ditambahkan Bagus, dari sekitar 493 goa karst yang ada di Gunungkidul, seluruhnya bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata minat khusus. “Kini tinggal menyiapkan masyarakat menyongsong kawasan lindung karst yang bisa menyelamatkan peradaban, atau justru menyiapkan masyarakat menjadi buruh tambang,” sentilnya.
Sementara, Hari Sukmono, Kepala Seksi Pemulihan Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) Gunungkidul menyambut baik atas terbitnya PP nomor 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang salah satu pasal 60 tegas menyebutkan bentang alam karst merupakan kawasan lindung. “Kami menyambut baik PP itu yang sisinya secara de facto menyatakan sebagai kawasan lindung,” kata Hari. Dia menyatakan, Kapedal Gunungkidul sudah mencatat secara spesifik kerusakan lingkungan di zona Selatan Gunungkidul adalah kerusakan wilayah karst akibat aktivitas penambangan.
Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dinas Pariwisata Gunungkidul, Birowo Edie saat dikonfirmasi Harian Jogja, beberapa waktu lalu. Menurutnya, saat ini pihaknya telah melakukan promosi wisata hingga ke manca negara atas potensi alam karst yang menjadi harta berharga milik masyarakat Gunungkidul. “Kami terus promosikan sampai manca negara agar wisata minat khusus di kawasan karst terus menggeliat,” pungkas Birowo Edie.

Oleh Endro Guntoro

Posted by Wawan Kurniawan on 16.49. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented