|

MANAJEMEN BISNIS : Potongan Harga dan Bonus

STRATEGI penjualan produk dengan iming-iming potongan harga (discount) dan pemberian bonus kini mulai marak. Potongan harga bahkan diberikan sampai 50%, sehingga menjadikan harga jual produk lebih murah dan kompetitif. Sedangkan pemberian bonus dapat berupa penambahan volume (isi) produk inti ataupun bonus produk terkait produk inti. Misal sabun deterjen, makanan atau minuman dalam kemasan memberikan 20% bonus isi, sehingga isi produk menjadi 120% dengan harga tetap. Atau produk kamera dengan bonus tas kamera dan memory card dengan harga tetap. Akan lebih menarik perhatian dan hati konsumen bila penjualan produk di samping memberikan potongan harga juga bonus.

Tetapi yang perlu diperhatikan oleh pemasar dalam menjalankan strategi potongan harga dan pemberian bonus adalah jangan sampai memberikan kesan kepada konsumen bahwa produk yang dijual adalah berkualitas lebih rendah dari pada produk yang dijual sebelum discount harga dan bonus. Karena jika konsumen memiliki kesan terjadi penurunan kualitas produk maka peningkatan volume penjualan akan tidak tercapai dan bahkan kerugian lebih besar terjadi bila ekuitas merek turun.

Ada beberapa alasan yang biasanya mendasari pengambilan strategi pemasaran seperti itu, di antaranya adalah:
(1) Penjualan promo. Produk baru yang masih dalam masa promosi membutuhkan strategi khusus untuk menarik minat calon konsumen. Iming-iming adanya potongan harga dan pemberian bonus dapat menarik konsumen membeli, mencoba dan akhirnya jika terpuaskan maka konsumen akan melakukan pembelian ulang pada produk tersebut.
(2) Meningkatkan volume penjualan. Pemasar perlu menanamkan kesan bahwa strategi ini untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar dari uang yang dibayarkan konsumen ketika membeli produknya. Sehingga konsumen akan membeli produk lebih banyak dari biasanya sehingga volume penjualan akan meningkat
(3) Memenangkan persaingan. Persaingan yang ketat perlu strategi jitu untuk memenangkannya. Pemberian potongan harga dan bonus akan memberi kesan harga produk lebih murah dibanding produk kompetitor sehingga lebih menarik konsumen untuk memilih produk kita dan melakukan pembelian produk.
(4) Mengurangi atau menghabiskan stock barang di gudang. Stock barang yang terlalu banyak di gudang akan menyedot biaya persediaan barang serta menjadikan barang-barang dengan kandungan teknologi, barang fashion, atau makanan menjadi cepat kadaluwarsa. Untuk itu barang tersebut harus dijual cepat melalui strategi ini. Apalagi jika perusahaan sudah siap dengan barang-barang baru yang lebih marketable dan menjanjikan keuntungan lebih besar.
(5) Memperkuat merek dan lini produk. Volume penjualan produk yang tinggi akan memperkuat merek produk. Produk dengan merek kuat akan mempermudah perusahaan mengeluarkan produk baru dalam satu lini produk dengan merek sama.
(6) Mempercepat memperoleh uang kas. Likuiditas yang rendah dalam suatu usaha akan mempersulit manajemen dalam menjalankan bisnisnya. Untuk mempercepat memperoleh uang kas maka strategi ini dapat dijalankan.
(7) Penggantian usaha. Ketika pasar sudah jenuh maka usaha tertentu menjadi kurang prospektif dan menguntungkan. Agar keputusan menutup usaha dapat semakin cepat direalisir di samping menghemat biaya operasional maka strategi ini dapat dilakukan. Jenis usaha lain yang lebih prospektif dan memberikan return lebih tinggi menjadi lebih cepat diwujudkan. q - s

*) Drs Nur Feriyanto, MSi adalah staf pengajar Pascasarjana Ekonomi UII Yogyakarta

Posted by Wawan Kurniawan on 15.31. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels