|

Penderita DB Diprediksi Meningkat

HARIAN JOGJA - SLEMAN: Jumlah penderita demam berdarah (DB) pada 2009 diprediksi meningkat. Pasalnya, tahun depan adalah masa siklus lima tahun kejadian luar biasa (KLB). Selain itu, perkembangan jentik nyamuk semakin canggih. Kini, jentik nyamuk bahkan dapat berkembang di sumur milik warga. Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman , Mafilindati Nuraini mengatakan, KLB penularan DB terakhir kali terjadi pada 2004. Saat itu, KLB terjadi di 12 provinsi di Indonesia, termasuk DIY. Saat itu, jumlah penderita DB di Sleman mencapai 732 dan 14 diantaranya meninggal dunia.

“Berdasarkan perkembangan virologi. jentik nyamuk kini bisa berkembang di air sumur. Padahal, lima tahun lalu, jentik nyamuk tidak bisa berkembang di tempat itu. Tahun depan kasus DB cenderung meningkat. Puncaknya sekitar bulan Januari hingga Maret,” ujarnya Jumat (19/12) kemarin. Dia menjelaskan KLB berlaku ketika terjadi peningkatan kasus DB yang cukup tajam.
Guna mengantisipasi lonjakan kasus DB, pihaknya memfokuskan penanggulangan kasus pada pemberantasan sarang nyamuk. Menurutnya, Dinkes juga membatasi penggunaan metode fogging karena hanya dapat memberantas nyamuk dewasa. Selain itu biaya fogging lumayan mahal. “Satu kali fogging menghabiskan biaya sekitar Rp1,5 juta. Padahal fogging tidak bisa memberantas jentik nyamuk. Kini fokus kami ada pada pemberantasan sarang nyamuk dan pembasmian jentik,” ungkapnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat Sleman untuk mewaspadai kemungkinan lonjakan kasus DB. Dia berharap masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan membudayakan pola hidup bersih dan sehat.
Terpisah, anggota Komisi D (Kesejahteraan Rakyat) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman, Huda Tri Yudiana meminta Pemkab Sleman melakukan langkah antisipasi untuk mencegah kemungkinan terburuk dari ancaman siklus lima tahunan wabah DB. Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan sosialisasi dan upaya preventif secara maksimal pada masyarakat melalui media, Puskesmas dan jaringan pemerintahan.
“Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah [APBD] 2009 telah menyediakan lebih dari Rp1 miliar untuk antisipasi penyakit menular. Kami minta penganggarannya dioptimalkan. Kami tidak menutup kemungkinan untuk mengupayakan penambahan jika memang perlu. Misalnya dapat kami ambil dari dana tak tersangka,” terang dia.

Grafis jumlah penderita DB sejak 2008

Tahun Jumlah kasus Meninggal
2000 142 1
2001 142 2
2002 140 1
2003 552 14
2004 732 14
2005 316 5
2006 655 11
2007 755 8
2008 587 5

Oleh Budi Cahyana

Posted by Wawan Kurniawan on 20.41. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels