|

Seribu Siswa SMP Ikuti EDUkonser Musik Kua Etnika

Butet Sebut Djaduk Tak Boleh Ngomong Saru Dulu
RADAR JOGJA - Komposer, seniman musik dan sekaligus pentholan kelompok musik Kua Etnika G Djaduk Ferianto seharian kemarin benar-benar sibuk. Maklum, dia harus melakoni beberapa tugas sekaligus sebagai presenter acara, pemateri, guru dan sekaligus komposer.

MIFTAHUDIN, Bantul

---

Hal ini lakukan Djaduk di hadapan 1.000 siswa SMP di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kembaran, Tamantirto, Kasihan. Seribu siswa ini berasal dari seluruh DIJ yang terbagi dalam dua sesi. Mereka dikumpulkan dalam Program Anjangsana berupa program apresiasi seni dalam bentuk pergelaran karya seni pertunjukan, yang diciptakan untuk menyampaikan materi-materi pembelajaran spesifik kepada masyarakat.

Djaduk tak sendirian. Sederet musisi- musisi anggota Kua Etnika mendampinginya sebagai tim kreatif penciptaan komposisi musik. Sebut saja Purwanto, Sukoco, Fafan Isfandiar dan 13 musisi lain. Selain itu juga ada Jeannie Park dan Besar Widodo.

''Hari ini dia (Djaduk, Red) tidak boleh ngomong yang saru-saru di hadapan anak-anak SMP ini," kata Ketua YBK Butet Kartaredjasa yang juga kakak kandung Djaduk.

Menurut Direktur Program YBK Besar Widodo, kegiatan yang digelar kali ini adalah bagian dari program-program yang dilakukan oleh Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) sejak setahun lalu dalam rangka pemaknaan seni secara terbuka dan beragam. Salah satunya lewat program Among Sedulur yang ditujukan untuk komunitas nonseni atau masyarakat umum.

"Pembongkaran" kreativitas lewat pemaknaan kegiatan ini, kata Besar, tentu saja bukan dalam rangka menjadikan semua peserta menjadi seniman. Atau menguasai salah satu bidang seni. Melainkan untuk memperkuat masing-masing individu menjadi kaya akan kreativitas yang efektif digunakan pada bidang apapun.

Untuk tahun 2008 ini, bekerjasama dengan Telkomsel, YBK menggelar anjangsana yang diberi nama EDUkonser Musik Kua Etnika. Seribu siswa SMP itu diajak bersama-sama melakukan proses pengayaan diri, sekaligus memahami diri dan orang lain. Proses pengayaan diri itu dilakukan dengan cara berasyik masyuk bersama Djaduk dan Kua Etnika-nya.

''Asyik acaranya dan ini akan menjadi modal saya untuk bisa lebih memaknai kehidupan ini," terang Anggi, seorang peserta.

Mengapa siswa SMP? Menurut Direktur Eksekutif YBK Jeannie Park, usia SMP adalah remaja yang sedang dalam masa pencarian untuk menemukan jati dirinya. "Suatu fase yang kritis terhadap berbagai macam perubahan di dalam dan di luar dirinya," kata Jeannie.

Lewat program ini, para siswa diharapkan mendapatkan alternatif ruang pembelajaran yang secara empirik mampu membawa ke arah pengasahan daya kreasi eksploratif pada pemaknaan peristiwa-peristiwa kehidupan. Dan kepekaan intuitif ini akan secara nyata mampu meningkatkan sekaligus menyeimbangkan proses penalaran ketika mereaksi kondisi di sekitarnya.

Kehadiran siswa-siswa ini bukan hanya sekadar untuk menikmati hiburan atau kenikmatan estetis semata. Tetapi proses pengolahan daya pikir dan kepekaan intuisi bagi proses pertumbuhan dan pengembangan diri. Ya, pada program ini, komposisi musik yang dihadirkan Djaduk dan Kua Etnika, bukan sebatas tontonan. Tapi didesain sebagai alat untuk melakukan pendalaman atas segala sesuatu yang berada dan terjadi di balik tampilan visual dan auditif di atas panggung.

Manajer Corporate Communication PT Telkomsel Suryo Hadiyanto mengatakan, antara YBK dan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Telkomsel memiliki basis dan garis perjuangan yang sama, yakni di bidang pendidikan. Beda tekanananya adalah YBK lebih mengarah kepada pembelajaran spesifik dan segmented yang berisi pengembangan seni, fasilitasi apresiasi seni dan interfacing pemaknaan seni. Sedangkan CSR PT Telkomsel mengarah kepada pendidikan formal dan nonformal. ''Tapi kami sama. Kami membasiskan diri pada bidang edukasi atau literasi," terang Suryo. ***

Posted by Wawan Kurniawan on 20.02. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels