Senin, 26 Januari 2009

Rendah, Kualitas dari Jateng - DIJ
JOGJA - Kiriman susu sapi dari Jawa Tengah dan DIJ mendapat penolakan industri susu di Jakarta. Hal ini terjadi karena kualitas susu dari dua provinsi ini masuk kualitas susu paling rendah se-Indonesia. Hal ini disampaikan Staf Ahli Tim Persusuan Jateng-DIJ Tridjoko Wisnu Murti.

Dikatakan, rendahnya kualitas susu di Jateng dan DIJ itu dikarenakan kandungan bahan padat yang jauh di atas standar aturan resmi. Bahan padat yang disyaratkan industri susu minimal 12 persen, sedangkan kualitas susu dari Jateng masih dibawah 10,5 persen, apalagi ditemukan susu dari salah satu koperasi di Ungaran hanya 8 persen. Sedangkan untuk DIJ, bahan padat yang terkandung dalam susu masih sekitar 11-11,5 persen.

Tridjoko mengatakan, penyebab rendahnya bahan padat ini antara lain karena masalah pakan ternak yang jelek. "Yang lebih memprihatinkan, di Jateng banyak terdapat broker susu. Yang memerah susu bukan peternak, melainkan broker yang mencampur susu dengan air atau minyak goreng sehingga volumenya bertambah," tuturnya.

Semakin banyaknya broker susu ini diakibatkan tidak ada lagi pengawasan dari pemerintah. Jika dulu setiap ada susu yang lewat langsung distop dan dicek oleh pemerintah, dan jika tidak memenuhi syarat akan dikembalikan lagi, sekarang hal semacam itu sudah tidak ada.

''Kalau sudah begini Direktorat Jenderal Peternakan hendaknya masuk untuk membina koperasi susu. Kalau hal ini dibiarkan, hancur sudah peternakan susu di Jateng dan DIJ," ungkap Tridjoko.

Selain itu, kualitas susunya sendiri semakin memburuk. Hal ini diakibatkan semakin banyaknya bakteri. Kasus yang pernah ditangani yaitu ditemukannya susu dari Jateng yang bakterinya mencapai 15 juta per mililiter susu. Padahal pemerintah membatasi bakteri maksimal 3 juta per mililiternya.

Banyaknya bakteri itu kebanyakan diakibatkan oleh proses perjalanan ke Jakarta yang tidak menggunakan pendingin pada susu, sehingga bakteri sangat pesat berkembang.

Akibat penolakan ini, sebanyak 15 ton susu dari Semarang harus dibuang. Selain akibat penolakan dan berkurangnya permintaan susu dari industri susu Jakarta, pembuangan tersebut juga diakibatkan bencana banjir yang melanda Jakarta belakangan ini.

Tridjoko juga menjelaskan, susu impor masih menjadi primadona di Indonesia. Sebab, selain bahan padatnya yang telah memenuhi standar Industri pengelola susu, harganya juga seimbang dengan susu produksi dalam negeri. ''Padahal kalau kualitas dan komposisinya sama, susu dalam negeri harganya jauh lebih mahal dari susu impor," imbuhnya.

Untuk menangani masalah ini, Maret 2008 dibentuk Tim Persusuan Jateng-DIJ dengan anggota meliputi Dinas Peternakan, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Koperasi, UGM, Universitas Diponegoro, serta gabungan koperasi susu dan industri pengelola susu. Tim ini mendapat SK dari gubernur untuk memperbaiki persusuan di Jateng dan DIJ, meliputi proses pembuatan susu sejak masa pengadaan bibit ternak hingga kualitas susu. (nis)


EmoticonEmoticon