Sabtu, 31 Januari 2009

RADAR JOGJA - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ kembali menyita puluhan ribu produk makanan di pasaran yang mengandung bahan melamin. Di antaranya produk makanan berupa biskuit dengan merek Munchy's Lexus jenis peanut butter dan Telur Pitan awetan. Dari hasil uji laboratorium, produk Munchy's Lexus Peanut Butter menggunakan bahan amonium bicarbonate dari China yang tercemar melamin.

Telur Pitan yang beredar di pasaran juga banyak mengandung melamin. Sedangkan produk makanan wafer berlumur coklat dengan merek Apollo Golden Super Bar hingga saat ini tidak terdaftar. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, bahwa melamin jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan penyakit kanker.

Kepala Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BPPOM Dra Zulaimah, MSi, Apt. mengatakan, sebelumnya BBPOM telah menerima surat edaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI agar produk-produk tersebut segera dimusnahkan. "Produk-produk ini dari Malaysia. Variannya sangat banyak dan masih dalam uji laboratorium. Jadi untuk sementara Munchy's Lexus dan Apollo dengan varian lain masih kami amankan," tuturnya kepada wartawan saat ditemui di kantornya, kemarin.

Dari 22 distributor Munchy's Lexus yang didatangi BBPOM di seluruh wilayah DIJ, terdapat 12 distributor yang kedapatan menjual produk ini. Untuk itu BBPOM langsung menyita produk-produk yang dilarang tersebut. Kemudian memberi tenggat waktu satu bulan sejak dilakukannya pengawasan 13 Januari lalu kepada para distributor itu untuk menarik produk-produk yang sudah terlanjur disetorkan ke toko-toko.

Begitu juga dengan Telur Pitan. Makanan ini berasal dari telur bebek yang disuntik dengan campuran tertentu, yang salah satunya mengandung bahan melamin. Telur awetan ini dalamnya berwarna hitam dan kenyal seperti jeli. Biasanya dikonsumsi oleh kaum Tionghoa untuk perayaan-perayaan hari-hari besar China. Saat ini Telur Pitan banyak beredar di pasaran karena bertepatan dengan perayaan Imlek.

"Kalau menurut penjualnya, telur ini dimakan dengan cara dipotong kecil-kecil dan dicampur bubur. Rasanya pekat seperti jeli karena sudah dicampur dengan bahan-bahan tertentu tadi," imbuh Zulaimah.

Ditambahkan, masa kedaluwarsanya juga sangat lama, yakni mencapai tiga tahun, sehingga disebut juga telur seribu tahun.

Dari masa kedaluwarsa yang terhitung lama itu juga dikhawatirkan proses pembuatannya menggunakan bahan pengawet yang besarnya melebihi batas yang ditentukan untuk makanan. Zulaimah mengimbau kepada para konsumen Telur Pitan yang sebagian besar adalah kaum Tionghoa, agar lebih selektif memilih telur ini saat perayaan-perayaan hari besar kaum Tionghoa. (nis)


EmoticonEmoticon