Sabtu, 31 Januari 2009

HARIAN JOGJA - KRATON: Pasar Malam Perayaan Sekaten kemarin resmi dibuka oleh Gubernur Provinsi DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Meski di guyur hujan deras, pembukaan Sekaten berjalan lancar dan tetap dipadati pengunjung.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong sebanyak lima kali. Sekaten tahun ini mengusung tema Perayaan Sekaten 2009 Memperkokoh Semangat Kebersamaan bagi Wong Jogja, Inspirasi Untuk Wong Indonesia. Tiba di Alun-alun Utara tepat pukul 16.00 WIB, Sultan didampingi oleh GKR Hemas langsung disambut dengan suguhan kesenian khas Jawa Timur, Reog Ponorogo yang ditarikan oleh 23 penari.

Dalam sambutannya Sultan mengatakan, tema sekaten tersebut pada hakikatnya menunjukan bahwa semangat Jogja untuk Indonesia tidak pernah pudar oleh zaman. ”Dan kita sebagai wong Jogja hendaknya setia kepada NKRI [Negara Kesatuan Republik Indonesia],” tegasnya.

Sultan menambahkan tradisi Sekaten bisa tetap hidup karena adanya energi kultural yang dibangun dari kreativitas internal sebagai komunitas lokal yang dinamik. Sultan juga mengingatkan masyarakat Jogja bisa menemukan bentuk penyemaian produk-produk lokal dalam restorasi Sekaten.

“Restorasi harus bisa kembali mendapatkan makna pemulihan identitas. Sehingga memiliki daya tahan untuk bertanding dengan budaya global yang datang menyerbu,” katanya.

Usai membuka secara resmi Sekaten, Sultan dan ratusan tamu undangan yang hadir sore kemarin dihibur oleh penampilan tarian kontemporer permainan anak-anak. Namun sayangnya agenda kunjungan stand yang akan dilakukan oleh Sri Sultan dan rombongan batal dilakukan karena guyuran hujan kian lebat.

Sementara itu sebelumnya Walikota Jogja, Herry Zudianto juga menyampaikan sambutannya. Dia menyebutkan Sekaten tahun ini diharapkan mampu menjadi media promosi berbagai potensi budaya kekayaan Kota Jogja.

"Melalui keragaman atraksi seni dan budaya, penyelenggaraannya diharapkan mampu menjadi media promosi yang efektif bagi berbagai potensi budaya dengan tidak meninggalkan misi utama Sekaten yakni dakwah syiar Islam," katanya.

Menurut dia, selaras dengan tematik pembangunan Kota Jogja yakni Pariwisata Berbasis Budaya maka apa yang ditampilkan diupayakan semaksimal mungkin dapat mencerminkan identitas dan keragaman masyarakat Yogyakarta baik unsur budaya, religi maupun ekonomi.

"Dengan demikian tradisi Sekaten akan mampu memberi pemaknaan eksistensi dan nilai adiluhung (luhur) yang terkandung dibalik di balik penyelenggaraannya secara lebih konstektual sesuai realita sosial saat ini. Harapan kami pelaksanaan tahun ini akan lebih baik, terutama dari sisi budaya dan dakwah," katanya seperti dilansir Antara.

Sekatenan akan berlangsung hingga 20 Maret, dengan menggelar berbagai atraksi seni dan budaya serta ekonomi. Perayaan Sekaten diantaranya meliputi Sekaten Sepisan yakni dibunyikannya dua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu, kemudian pemberian sedekah Ngarso Dalem Sri Sultan HB X berupa udhik-udhik (menyebar uang) dan kemudian diangkatnya kedua gamelan menuju Masjid Agung Jogja dan ditutup dengan Gerebeg.

Sedangkan keramaian penunjang berisi kesenian rakyat tradisional yang menyertai upacara tradisional seperti penjaja makanan tradisional, mainan tradisional serta kesenian rakyat tradisional. Kemudian untuk keramaian pendukung berupa pameran pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah maupun instansi sektoral dan vertikal, promosi pemasaran barang produksi dalam negeri dan meningkatkan barang ekspor nonmigas serta keramaian lainnya seperti permainan anak-anak, rumah makan dan cinderamata. (Harian Jogja Cetak/Yuspita Anjar Palupi)


EmoticonEmoticon