Sabtu, 17 Januari 2009

HARIAN JOGJA: Kota Jogja hanya memiliki dua pos Pemadam Kebakaran (PK) dari empat pos yang dibutuhkan, kondisi ini membuat pelayanan terhadap korban bencana kebakaran tidak maksimal.

“Demi pelayanan yang cepat, setiap wilayah harus memiliki pos pemadam kebakaran. Sehingga bila terjadi bencana bisa ditangani dengan cepat,” ujar Sudarsono, Kepala Kantor Penanggulangan Kebakaran, Bencana dan Perlindungan Masyarakat, kemarin.

Saat ini, kata dia, wilayah Jogja bagian tengah dipantau dari pos pemadam kebakaran Balaikota dan daerah selatan dipantau dari Pos Mojo. Sedangkan wilayah Barat dan Utara dipantau dari kedua pos yang sudah ada itu.

“Jarak bagian barat dan utara dengan kedua pos yang ada cukup jauh. Bila ada kejadian dibutuhkan waktu yang cukup banyak, terutama bila kondisi lalu lintas sedang padat. Padahal, pemadaman kebakaran memerlukan penanganan sejak dini agar tidak mengalami kerugian lebih besar,” imbuhnya.

Sudarsono menilai, wilayah barat dan utara idealnya memiliki pos kebakaran sendiri. Selain bisa menjaga wilayah, pos yang tersebar memudahkan kabupaten lain saat memerlukan bantuan armada pemadam kota.

Setiap pos sedikitnya memiliki 2 mobil pemadam dan 10 personel. Sehingga bila semua wilayah Jogja dibangun pos PK, diperlukan sebanyak 8 mobil pemadam dan 80 personel. Kondisi saat ini, Pemkot Jogja sudah memiliki 8 mobil pemadam dan 85 personel. Sehingga, untuk pelayanan maksimal tinggal kurang bangunan pos di wilayah barat dan utara.

Peralatan khusus
Pulung Suroyo, Kasi Operasional Pemadam Kebakaran, menambahkan, keberadaan wilayah padat penduduk di Kota Jogja memerlukan peralatan pemadam kebakaran khusus. Tentunya selain alat pemadam kebakaran tabung yang dimiliki warga.

Alat pemadam kebakaran khusus daerah padat penduduk disebut impuls gun. Alat ini berfungsi untuk menangani kebakaran tahap awal di daerah yang jauh dari akses jalan maupun sumber air. “Kita perlu dua unit dan sampai saat ini belum memiliki,” ujar Pulung.

Dia menguraikan, alat ini bisa diletakkan di punggung dan dibawa menggunakan sepeda motor. Sehingga bisa menembus daerah padat sekalipun. Harga setiap unit impuls gun berkisar antara Rp150 juta. Pihaknya sudah mengusulkan pada anggaran tahun ini tetapi tidak disetujui.

“Selain peralatan lengkap, masyarakat perlu berhati-hari mencegah terjadi kebakaran. Sehingga meski alat belum lengkap, kebakaran diharapkan tidak terjadi,” imbaunya. (Harian Jogja Cetak)


EmoticonEmoticon