Kamis, 29 Januari 2009

Sampaikan Kritikan Politik lewat Humor
RADAR JOGJA- "Di Jogja ini, seorang raja derajatnya tinggiiiiii banget!, kok mau-maunya menurunkan derajat untuk menjadi presiden?" Celetukan berbau sindiran itu datang dari seorang budayawan Butet Kartaredjasa, saat berpura-pura menjadi sosok bernama Mas Celathu dalam monolog yang dibawakannya di pertunjukan Presiden Guyonan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Selasa malam kemarin.

Guyonan nyelekit khas seorang Butet itu memang seringkali menjadi bahan tertawaan bagi siapa saja yang mendengarnya. Sebab, guyonan yang disampaikannya itu tak asal nyablak, melainkan sebuah guyonan cerdas yang membawa misi berupa kritikan terhadap keadaan bangsa ini. Terlebih kepada para elite politik yang kini sedang berlomba-lomba menarik simpatik masyarakat dengan berbagai cara.

"Daripada tiba-tiba harus berpura-pura makan nasi aking, atau pura-pura turun ke sawah untuk menjadi sahabat petani, lebih baik jadi presiden guyonan saja," sindir Butet dalam menyikapi fenomena sepak terjang para elite politik menjelang pemilu ini.

Butet juga menyinggung masalah caleg yang belakangan dianggapnya tak memperhatikan nilai estetis dalam berkampanye, dengan membuat kota semakin semrawut oleh banyaknya baliho dan poster kampanye.

Urip mung mampir ngguyu. Begitulah Butet menyampaikan tagline dari isi pertunjukan yang digelar bersamaan dengan peluncuran bukunya yang memiliki judul sama, Presiden Guyonan. Menurutnya, hidup harus diisi dengan tertawa, untuk mengendurkan syaraf-syaraf yang tegang akibat permasalahan hidup yang semakin penat.

Melalui pertunjukan humor yang ringan, dirinya berharap mampu memberikan pencerahan bagi mereka yang sudah jenuh dengan semakin panasnya hawa politik yang sudah terasa. "Ibarat bermain komidi putar, suasana politik kita sekarang ini sudah demikian, memulai permainan," ujar putra seniman kondang (alm) Bagong Kussudiardjo ini.

Pertunjukan yang berlangsung lebih dari dua jam itu dipenuhi dengan guyonan-guyonan segar para seniman Jogja. Sama seperti Butet, mereka juga menyampaikan sebuah kritikan mengenai politik melalui humor. Seperti halnya trio GAM yang terdiri atas Wisben, Gareng, dan Joned yang memainkan parodi dengan masing-masing membawakan peran sebagai Prabowo, Wiranto, dan Megawati.

Dalam salah satu sesi, mereka berperan sebagai capres yang menyampaikan visi misinya kepada rakyat, dengan mengangkat partai Hanuman dan Geliga. Celetukan-celetukan humor yang spontan dari mulut mereka pun mampu membawa penonton tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai Butet yang ikut duduk di salah satu kursi penonton juga dibuat tertawa oleh ulah ketiganya.

Sarat dengan kritikan mengenai politik, pertunjukan juga dilengkapi penampilan beberapa tokoh seniman Jogja dan artis cantik Happy Salma. Happy yang malam itu tampil dengan baju bernuansa hitam putih tampil membacakan salah satu bagian dari apa yang tertulis di buku Presiden Guyonan. Kali ini, kritikan mengenai politik terfokus kepada dua pemimpin yang pernah dan sedang menjadi orang nomor satu di Indonesia, maupun orang yang hangat disebut-sebut oleh media.

Adalah Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono, serta Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani. Dari apa yang dibacakan Happy, Soeharto yang berarti harta telah ditakdirkan untuk bertemu dengan Susilo yang berarti kesusilaan. Sedangkan Urip yang berarti hidup, telah ditaksirkan bertemu Artha (dari Artalyta, Red) yang berarti uang. "Apakah ini berarti hidup karena uang?," tutur Happy disambut tepuk tangan lebih dari 400 penonton itu.

Lain lagi dengan penampilan seniman Whani Dharmawan yang membawakan sebuah monolog yang juga sarat dengan kritikan politik. Pria berambut panjang itu begitu apik membacakan sebuah tulisan mengenai fenomena kehidupan politik di Indonesia akhir-akhir ini. Tentang para eksekutif yang duduk di kursi dewan, maupun para caleg yang berlomba-lomba untuk memperebutkan kursi itu. Tak ketinggalan dirinya juga menyindir keadaan politik saat ini yang dipenuhi caleg-caleg yang mengoperasikan komputer pun tak bisa.

Ada kalanya penonton dibuat tertawa, namun ada kalanya juga mereka dibawa untuk merenung. Di tengah-tengah aksi monolognya, Butet kembali mengingatkan seorang tokoh yang dimiliki Indonesia dengan tulus berbuat untuk bangsanya. Dialah Sophan Sophiaan.

Lighting panggung mulai temaran dengan berkas cahaya yang hanya berwarna biru ketika Butet memulai membawa penonton untuk mengenang almarhun suami Widyowati itu. Menurutnya, sosok Sophan bisa mewakili seorang warga negara yang dengan tulus menyerahkan segenap jiwa raganya untuk bangsa ini sampai titik darah penghabisan. Dengan iringan musik yang menyayat dari orkes Sinten Remen yang menampilkan Djaduk Ferianto, sugesti Butet berhasil menyihir para penonton untuk larut dalam renungan.

Rupanya Butet sangat jitu menyampaikan aspirasinya mengenai kritikan politik itu dengan acara semacam ini. Dirinya berharap pertunjukan itu dihadiri para caleg, khususnya yang ada di Jogja. ''Agar mereka paham bagaimana berkomunikasi dengan cara yang lebih nyeni dan berbudaya," tandas Butet. ***
ANNISA ANDRIANI, Jogja


EmoticonEmoticon