Selasa, 27 Januari 2009

RADAR JOGJA - PDIP DIJ secara resmi mengukuhkan pasangan Megawati Soekarnoputri -Hamengku Buwono X atau Mega-Buwono sebagai pasangan capres dan cawapres. Pengukuhan itu dilakukan di sela acara konsolidasi dan pembekalan pengurus struktural PDIP se-DIJ di Gedung Jogja Expo Center (JEC) kemarin.

Turut hadir dalam acara tersebut Gubernur DIJ Hamengku Buwono X, Bupati Bantul Idham Samawi, dan sejumlah fungsionaris DPP PDIP yang datang mendampingi Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) DPP PDIP Taufik Kiemas.

"Kita memimpikan terwujudnya pemimpin baru Mega-Buwono karena pemimpinan nasional (SBY-JK) sekarang, sudah kehilangan arah," ucap Ketua DPD PDIP DIJ H Akhmad Djuwarto saat mengawali sambutan di depan ribuan pengurus PDIP dari tingkat provinsi hingga desa yang mengikuti pembekalan itu.

Djuwarto yang biasanya tampil kalem saat itu berpidato dengan nada berapi-api. Di depan massanya, Djuwarto sempat menanting kader dan simpatisan PDIP apakah sanggup menyukseskan duet Mega-Buwono tersebut. Spontan massa yang hadir menjawab, "sanggup, sanggup!" teriak mereka kompak.

Suasana itu bertambah meriah saat seorang pengurus DPC PDIP Kulonprogo mendadak berdiri sambil mengangkat spanduk dukungan saat Taufik Kiemas berbicara. Tahu aksi itu, Kiemas sejenak menghentikan pidatonya. Suami Megawati itu meminta spanduk itu dibawa maju ke depan. "Mendukung Sultan Hamengku Buwono X mendampingi Ibu Megawati sebagai wakil presiden 2009-2014," ucapnya membaca tulisan di spanduk diikuti pekikan massa: ''Merdeka! Merdeka!''

Melihat aksi itu, HB X yang duduk di deretan depan hanya terdiam. Raja Keraton Jogjakarta seolah menahan senyum. Kiemas sendiri memilih menghentikan pidatonya. Ia menilai pembacaan spanduk itu merupakan klimaks dari acara tersebut.

"Semoga Mbak Mega dengan Ngarsa Dalem HB X saling berbaik-baik, Kedua-keduanya sama-sama orang Jogja. Sama-sama anak pejuang dan sama-sama tokoh reformasi," puji mantan aktivis GMNI ini.

Sedianya dalam acara tersebut sebagai ketua umum Mega akan hadir. Puteri Bung Karno itu mendadak membatalkan dan memilih mengadakan kunjungan ke Imogiri Bantul.

Saat Kiemas menginformasikan ketidakhadiran Mega, teriakan hu hu hu hu...., sempat terdengar. Tahu keadaan itu Kiemas cepat menguasai keadaan.

Menurut dia kalau sudah tahu alasannya, mereka yang ikut pembekalan dapat memahami. " Mbak Mega menyapa rakyat Sri Sultan dan Ngarso Dalem HB X menyapa PDIP. Jadi kita silang menyapa," sahut Kiemas.

Usai acara pembekalan tadi malam, HB X mengundang Mega ke keraton untuk acara jamuan makam malam.

Meski PDIP DIJ telah bulat memintanya berduet dengan Mega, HB X tidak bersedia memberikan tanggapan. Ia mengaku kehadirannya ke acara PDIP sekadar memenuhi undangan. "Saya datang sebagai gubernur," kilahnya.

Untuk menjaga kehati-hatian agar tak keseleo lidah, HB X juga enggan mengikuti cara pidato Djuwarto dan Kiemas yang tampil tanpa teks. "Saya tidak bisa bicara oral (tanpa teks) karena di sini banyak wartawan, nanti salah tafsir," kelitnya.

Usai acara, Kiemas menyatakan dukungan Mega-Buwono itu sebagai aspirasi PDIP DIJ dan belum menjadi keputusan partai. Keputusan orang yang yang ditunjuk menjadi pendamping Mega saat pilpres ditentukan dalam Rakernas Solo 27-29 Januari ini.

"Ini bukan meminang HB X, tapi kita saling meminang," elaknya.(kus/mar)


EmoticonEmoticon