|

RIBUAN WARGA BEREBUT BERKAH DI BATURADEN; ’Kendi Ijo’ Dibagikan di Suran Mbah Demang

SLEMAN (KR) - Masyarakat Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Sleman kembali menggelar upacara adat Suran Mbah Demang. Upacara adat yang dilaksanakan setiap bulan Sura tanggal 7 atau tepatnya saat tengah malam tanggal 8 Sura (bulan Jawa) untuk tahun ini jatuh pada hari Minggu (4/1).
Rangkaian puncak upacara adat Suran Mbah Demang diawali dengan pembagian ‘Kendi Ijo’ kepada pengunjung sekitar jam 13.30 di sekitar pendapa Mbah Demang. ‘Kendi Ijo’ adalah nasi yang dilengkapi lauk pauk dibungkus dengan daun pisang yang berwarna hijau.

Ada kepercayaan di masyarakat, dengan mendapatkan ‘Kendi Ijo’ maka akan mengalirkan berkah dari Tuhan. Selain sebagai manivestasi ajaran luhur Ki Demang Cokrodikromo yakni kedermawanan. Acara dilanjutkan dengan tahlil di pendapa dan nyekar di makam Mbah Demang.
Pada malam harinya sekitar jam 19.30 WIB prosesi Suran Mbah Demang dilanjutkan dengan kirab dipimpin Ki Murdopuspito dari Sanggar Widyo Permono di Dusun Cokrowijayan menuju pendapa Mbah Demang di Dusun Guyangan. Sesampai di sana Ki Murdopuspito menyerahkan benda dan pusaka Mbah Demang yang dikirab kepada ahli waris yang diwakili M Abdul Kadir. Prosesi dilanjutkan dengan Salawatan di pendapa dan Srokal (mandi Jamas Trah Mbah Demang) di sumur petilasan Mbah Demang.
Sementara itu di Lokawisata Baturaden, Banyumas, Minggu (4/1), tradisi Suran yang dinamai Grebeg Sura Baturaden Tahun 1430 H juga berlangsung semarak. Ribuan warga yang menyaksikan berebut berkah hasil bumi yang disatukan dalam sebuah gunungan setinggi sekitar satu setengah meter.
Prosesi Grebeg Sura Baturaden dimulai dengan arak-arakan warga dan peserta dari Wanawisata PT Perhutani Alam Wisata (Palawi) menuju Lokawisata Baturaden sejauh sekitar tiga kilometer. Usai arak-arakan, warga berebut gunungan hasil bumi.                   (Sto/*-1)-e

di lapangan parkir Lokawisata Baturaden. Setelah itu dilanjutkan dengan larung sesaji berupa tumpeng triwarna serta melepas benih ikan di Sungai Gumawang. Ditutup dengan kenduri dan makan bersama di petilasan Baturaden.
Penanggungjawab kirab, Atmono mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya warga sekitar Baturaden menjaga tradisi budaya turun temurun. “Secara filosofis, Grebeg Sura Baturaden merupakan bentuk penghormatan pada kekuatan alam dan rasa terima kasih warga kepada Tuhan atas karunia yang telah diberikan,” tuturnya.
Sedangkan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lokawisata Baturaden, Sudarto mengutarakan, kegiatan itu berimbas positif bagi tingkat kunjungan di lokasi wisata yang dikelolanya. (Sto/*-1)

Posted by Wawan Kurniawan on 22.19. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels