Selasa, 27 Januari 2009

Harian Jogja - Siang itu, sebuah rumah makan di kawasan Beskalan, Jogja tampak ramai dipadati pengunjung. Beberapa di antara mereka warga keturunan Tionghoa. Mereka asyik menyantap bakmi yang disajikan.
Bakmi bisa dikatakan bukanlah makanan khas untuk perayaan Imlek. Hanya, dalam setiap perayaan Imlek, bakmi dimaknai sebagai simbol untuk memperoleh umur panjang.
Setiap keluarga Tionghoa yang merayakan Imlek, akan memaknai perayaan ini dengan berbagai macam cara sesuai dengan tradisi yang diturunkan leluhurnya.

Ada yang memaknai dengan mengadakan perayaan makan bersama, mengucapkan silaturahmi kepada orang yang lebih tua, hingga membagikan angpao.

Surijanadi Tanudjaja (58) dan Sin Tjun, keluarga yang merayakan Imlek pada tahun ini, mengaku merasakan kegembiraan karena Imlek bisa dirayakan secara lebih terbuka.

Pemilik Depot Mie Ayam ini menceritakan enam tahun yang lalu, perayaan Imlek dilakukan lebih tertutup. Setiap keluarga Tionghoa selalu sembunyi-sembunyi merayakannya, paling-paling sebatas anggota keluarga.

“Kalau sekarang pas Imlek sudah banyak yang memasang lampion, pakai baju Shanghai, dan anter-anter kue keranjang. Dulu mana berani,” ujar Surijanadi kepada Harian Jogja, Senin (26/1).

Pria yang akrab disapa Surya ini secara pribadi mengganggap Imlek sebagai tradisi. Ada masa persiapan menjelang Imlek, seperti mengadakan bersih makam di pusara para leluhur, sebagai bentuk penghormatan terhadap arwah mereka.

Pada malam hari sebelum Imlek, Surya bersama keluarga melakukan doa bersama yang dilanjutkan dengan makan bersama. Ada menu khusus yang disajikan pada saat Imlek yakni bakmi.

Menurut kepercayaan Tiongkok, bagi warga Tionghoa yang memakan bakmi pada saat Imlek, diyakini bakal mendapatkan umur panjang.

Pagi harinya, Surya dan keluarga melakukan tradisi sungkeman kepada seluruh keluarga besar, biasanya diawali ke rumah orangtua, lalu dilanjutkan relasi.

Kalau tidak sempat berkunjung, cukup memberikan ucapan lewat telepon atau pesan layanan singkat (SMS). “Anak saya kebetulan juga tidak pulang, jadi hanya saling mengucapkan lewat telepon. Menyampaikan ucapan Gong Xi Fa Cai, yang artinya selamat berbahagia dan semoga bertambah rezekinya...”

Bagi-bagi angpao
Begitu pula halnya dengan keluarga Tjundaka Prabawa, yang mengaku selalu setia merayakan tradisi Imlek dari tahun ke tahun.
Pada saat Imlek berlangsung, Tjundaka dan keluarga melakukan silaturahmi ke rumah keluarga yang lebih tua. Selain orangtua, bisa juga ke tempat paman atau bibi dan relasi.

“Biasanya ada tradisi membagi-bagikan angpao, terutama bagi yang belum menikah yang mendapat angpao,” jelas Tjundaka, pemilik toko mas di Ketandan.

Selain sebagai bentuk penghormatan kepada orangtua, menurut Tjundaka, yang juga Ketua RW 05 Kampung Ketandan, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Imlek dimaknai sebagai bentuk ucapan syukur karena sudah diberikan rezeki selama setahun.

Dari situ, muncul harapan baru agar tahun yang akan dijalankan selama setahun ini lebih baik lagi daripada tahun yang sudah lewat. “Kami berharap diberi kesehatan, keselamatan dan selalu bertambah rezekinya...”

Chang Wendryanto, warga keturunan Tionghoa, mengatakan Imlek lebih dirayakan sebagai sebuah budaya. Dalam tradisi itu, hal yang tidak boleh dilupakan adalah bentuk penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Sampai sekarang, Chang dan keluarga selalu berkunjung ke rumah orangtua dan saudara yang lebih tua.

“Kalau saya masih datang bersilaturahmi ke tempat orangtua dan juga ke pakde, bude, saudara, tetangga serta relasi untuk mengucapkan selamat tahun baru. Kebiasaan itu sampai sekarang masih berlangsung,” ujar anggota DPRD Kota Jogja ini.

Menurut Sidik W Martowidjoyo, salah tokoh warga keturunan Tionghoa, tradisi Imlek itninya adalah perayaan syukur. Itu sebabnya pada saat Imlek, keluarga-keluarga Tionghoa berkumpul untuk melakukan sembahyang dan makan bersama keluarga.

Sidik menuturkan cikal bakal Imlek sudah ada sejak zaman Tiongkok kuno. Hari Raya Imlek selalu jatuh pada saat akhir musim dingin, dalam kondisi itu membuat keluarga-keluarga di Tiongkok berkumpul bersama, saling menghangatkan.

Mereka membunyikan genderang dan juga memperdengarkan bunyi-bunyian dari batu --sekarang mercon, petasan-- untuk mengusir hal-hal bersifat jahat.

Mereka memiliki kepercayaan bahwa rasa bersatu yang kuat dalam sebuah keluarga, diyakini bisa mengusir segala bentuk roh-roh jahat yang akan mendekati.

“Setelah pagi, mereka bergembira karena sudah terhindar dari bahaya. Mereka lalu memakai baju merah, dan menghiasi rumah-rumah dengan berbagai ornamen berwarna merah sebagai lambang kegembiraan,” ujar Sidik.

Sebagai ungkapan kegembiraan, mereka lalu melakukan persembahan bagi para dewa-dewi dan leluhur dengan mengantarkan berbagai bentuk makanan, kue-kue dan buah-buahan.

Ada beberapa makanan dan sajian yang wajib dipersembahkan, seperti kue keranjang (niangao), yang disusun membentuk pagoda tujuh tingkat, yang artinya agar tiap tahun semakin bertambah rezekinya.

Ada pula kue-kue lain seperti zabanr (manisan buah kering), mijian (manisan buah segar, ditusuk pada tusukan sate yang panjang lalu ditancapkan di tempat seperti meja pendek berukuran sekitar 30 x 20 cm), migong (kue ketan goreng yang dibalut gula cair), kue ku (dari ketan yang dibalut kacang hijau lalu dikukus), kue mangkok, dan cae (wajik).

Juga tujuh macam buah yakni pisang, apel, pir, jeruk bali, jeruk mandarin, kelengkeng serta nanas. “Makanan dan buah-buahan itu tadi jadi simbol untuk memanggil kemakmuran, menghadirkan keselamatan dan rezeki yang terus menerus tanpa ada suatu kekurangan apapun,” jelas Sidik lagi.(Theresia T Andayani)


EmoticonEmoticon