Senin, 09 Februari 2009

RADAR JOGJA - Jalanan menanjak dan berbatu menuju dusun Kajar desa Piyaman Wonosari. Sejak dulu warga Kajar dikenal sebagai pandai besi. Berbagai alat pertanian dan peralatan lain, seperti cangkul, parang, dan pisau, menjadi produk andalan mereka. Keahlian membuat barang-barang dari besi itu mereka peroleh turun-temurun.

Pandai besi merupakan pekerjaan utama warga Kajar, selain sebagai petani. Pekerjaan sebagai bertani masih dapat dilakukan warga disela-sela kegiatan merajin besi. Tetapi untuk pekerjaan pandai besi, hanya beberapa warga yang dapat melakukannya akibat terbatasnya peralatan kerja.

Untuk memenuhi seluruh kebutuhan alat bengkel sederhana dibutuhkan biaya lebih kurang Rp 3 juta. Nilai itu mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi jumlah yang sangat besar bagi Marmen dan pandai besi lainnya. Sebenarnya, sebuah bengkel pandai besi yang peralatannya lengkap membutuhkan modal Rp 15 juta-Rp 20 juta.

Bahan pembakar besi yang baik adalah arang. Meskipun harganya jauh lebih mahal, tetapi arang menghasilkan pembakaran yang bagus. Proses pemanasan dengan arang juga jauh lebih cepat sehingga produk yang dikomersilkan akan semakin banyak.

Meskipun arang sulit didapat, menurut Marmen, tidak sulit bagi para perajin untuk mencari bahan baku besi. Bahan baku utama kerajinan itu mudah diperoleh dari bengkel-bengkel mobil atau membeli di toko-toko, serta pasokan dari pemulung.

Selain menghadapi sejumlah masalah dalam proses produksi, para perajin pandai besi asal Kajar juga kesulitan memasarkan produk mereka. Selama ini pangsa pasar hasil kerajinan pandai besi, seperti alat-alat pertanian dan peralatan besi lainnya, ada di "Produk perajin lokal justru tidak diberdayakan," keluh Marmen. Padahal, produk yang dikomersilkan para perajin asal Kajar kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan dengan produk yang dijual di toko-toko.

Keberadaan pandai besi (perajin logam besi-red) di Kajar, juga mulai tergusur oleh banyaknya produk impor dari China yang membanjiri pasaran. Kondisi itu makin tak terbendung sejak lima tahun terakhir. Apa boleh buat, demi strategi pasar, ia terpaksa membubuhi kata-kata made in china di setiap produknya.

"Masyarakat sekarang lebih memilih pisau stainless (tahan karat) buatan China daripada yang murni logam buatan perajin lokal," kata Marmin.

Desanya yang puluhan tahun lalu dikenal sebagai kampung pandai besi karena jumlah perajinnya mencapai 200-an orang, kini hanya tersisa 25 perajin dan masing-masing mempekerjakan dua hingga empat karyawan.

Menurut dia, saat ini pendapatan perajin mengalami penurunan meski dalam sehari mampu menghasilkan sekitar 15 kerajinan logam antara lain berupa cangkul, palu, sabit, dan pisau. Meski demikian, ia mengaku kesulitan untuk menghitung rata-rata penghasilan yang ia peroleh perbulannya. "Susah kalau mau hitung mas, tapi kalau dikatakan untung ya untung. Cukup untuk melanjutkan usaha," kata dia. Marmin menambahkan, pendapatan tersebut harus dibagi untuk empat karyawannya termasuk modal perhari.

Selain tergusur produk China, kata dia, para pandai besi juga kesulitan dalam memperoleh arang untuk pembakaran. "Memang sih bahan baku besi masih mudah kita peroleh dengan harga Rp 8.000 perkilogram namun untuk arang, kita sering kali sulit memperolehnya," katanya.

Menurut dia, setiap perajin rata-rata membutuhkan dua karung arang perhari dengan harga Rp 20 ribu perkarung. Meski demikian, para pandai besi di desanya tetap setia menekuni profesi tersebut karena sulit untuk mencari sumber pendapatan yang baru.

HENRI SAPUTRO, Gunungkidul


EmoticonEmoticon