Senin, 02 Februari 2009

RADAR JOGJA - Lila, seorang teman mengaku pusing bukan kepalang ketika suatu saat membuka e-mailnya. Seperti biasa, rutinitas itu dia lakukan untuk sekadar mendukung kerjanya. Memeriksa pesan yang masuk dari rekanan atau sahabat.

Tapi, ketika itu ketika membukanya ia mendapatkan inbox-nya lebih penuh dari biasanya. Awalnya dia begitu girang, karena kemungkinan besar banyak sahabat dan rekanan yang membalas kiriman e-mailnya.

"Tapi apa yang terjadi, ketika aku klik folder inbox, ternyata banyak e-mail yang masuk yang tidak aku kenal sama sekali," katanya mengenang. Entah dari mana asalnya, ada yang menawarkan obat- obatan, tawaran piknik ke mancanegara, uang gratis dan banyak lagi.

"Kadang memang itu menggoda kita untuk membukanya," tambah Wahyuni teman yang lain. Karyawan swasta ini bahkan akhirnya tergoda untuk membuka e-mail- e-mail kiriman itu. Meskipun dia akhirnya mengakui kebanyakan kiriman itu tidak bermutu isinya dan menghabiskan banyak energi serta beaya. Apalagi kalau bukan menyedot beaya akses.

Apalagi bagi mereka yang memanfaatkan warung internet, memakai modem card. Bahkan, memanfaatkan free hot spot areapun akhirnya juga harus mengeluarkan beaya ekstra. Bagaimana tidak, jika tidak menghapus spam- spam itu, kita bisa memanfaatkan waktu untuk browsing atau keptingan yang lain yang lebih bermanfaat."Kalau begini niy, aku kan harus berlama- lama disini. Kalau dah gitu capek, haus, lapar dan akhirnya harus jajan. Keluar uang juga akhirnya," ujar Rifan yang sedang memanfaatkan free hot spot di Jogjatronik.

Mau tidak mau, lantaran menganggap tidak ingin menanggapinya, mereka ini menghapus dan memasukkan satu-satu e-mail tersebut ke dalam block sender list, dengan harapan semua email tersebut bisa diblokir dan tidak muncul lagi. Ia pun mengatur message rule agar e-mail yang berisi pesan-pesan tertentu langsung terhapus.

Sayangnya, usaha ini ternyata tidak banyak membawa hasil. Esok harinya, ketika mereka membuka e-mail, inboxnya makin banyak saja isinya.Sekalipun sekarang nama-nama pengirimnya berbeda.

Ya, mereka ini adalah diantara korban- korban spam. Yakni e-mail yang tidak dikehendaki. Dikenal juga dengan istilah unsolicited bulk e-mail (UBE). E-mail semacam ini memiliki beberapa karakteristik yang cukup menonjol, terutama adalah si penerima (recipient) belum dan tidak pernah menyetujui atau memberi izin e-mail tersebut dikirim kepadanya. Kemudian, spam biasanya dikirim secara massal (mass mailing).

Tentu tak hanya perseorangan yang mendapatkan dampak dari praktik kirim- mengirim Spam ini. Bagi sebuah korporasi, tentu akan menjadi kerugian tersendiri dan harus dihitung sebagai pengeluaran yang besar. Bagaimana tidak, beberapa karyawan yang mengoperasikan komputer tentu akan lebih lama berada di depan komputernya hanya sekadar menghapus spam- spam itu.

Dan jika dikalikan dengan jumlah karyawan, dikalikan lagi dengan waktu serta beaya, tentu akan menjadi pengeluaran yang cukup besar. (din)


EmoticonEmoticon