|

Jangan Jadikan Jogja Kota Industri

RADAR JOGJA- Keistimewaan kota Jogja terletak pada peninggalan sejarah dan budayanya. Karena itu, pengembangan kota Jogja harus fokus pada pengembangan pariwisata. Menjadikan Jogja sebagai kota industri berat tidak hanya melunturkan imej budaya Jogja tetapi juga merusak lingkungan Jogja.

Presiden Direktur (Presdir) PT Sido Muncul Semarang Irwan Hidayat menilai Jogja tidak boleh dieksploitasi dengan industrialisasi besar-besaran. "Kalau maksa dijadikan kota industry, bisa hancur. Memang industrilasisai mempercepat pertumbuhan ekonomi, tapi banyak juga resiko yang harus ditanggung," ujarnya setelah mengisi seminar Menjawab Tantangan Global dari Jogja Melalui Nilai Budaya Imlek di Pusat Pelatihan Bahasa UAJY kemarin.

Pengembangan industry di Jogja akan lebih efektif dilakukan pada kelompok-kelompok kecil. "Modelnya dengan memberdayakan kelompok industry masyarakat," tuturnya. jenis industry yang dikembangkan juga yang ramah lingkungan. Pembuatan glukosa, misalnya.

Menurut Irwan, pembuatan glukosa bisa menjadi alternatif home industry yang potensial. Bahan yang dibutuhkan banyak tersedia, alat yang dibutuhkan sederhana dan modalnya tidak besar. "Intinya, masyarakat diajari membuat gula. Bahannya bisa dari ketela. Prosesnya tidak sulit, dan masyarakat bisa memanfaatkan untuk keperluan mereka sehari-hari," katanya menawarkan solusi.

Proses pembuatan glukosa ini sudah dipersiapkan olehnya sejak beberapa waktu lalu. Saat ini, Irwan sudah siap membagi cara kerja dan penggunaannya kepada masyarakat. "Saya sudah siapkan alat, tapi saya nggak tahu harus mengadakan pelatihan dimana. Mengenalkan produk itu harus melalui pelatihan, agar masyarakat tahu," tambahnya.

Industry sederhana semacam ini bisa membantu meningkatkan nilai suatu produk. Irwan menyarankan tidak menjual produk mentah. "Jangan dari singkong dijual singkong. Harus dibuat berbagai model alternatifnya. Jadi nilainya naik," terang pria yang mengelola Sido Muncul bersama empat adiknya.

Contoh industry lain yang bisa dikembangkan misalnya pohon kayu putih dan pertanian organic. "Dengan menanam pohon kayu putih, mereka bisa membuat minyaknya. Pertanian organic juga bisa dikembangkan dengan memunculkan beberapa varietas baru. Yang jelas, bukan industry yang mengeksplotasi lingkungan dan sumber daya alam," tandasnya.

Jika pemerintah Jogja serius menggarap Jogja sebagai kota wisata, Irwan mengingatkan unsur-unsur pendukung juga harus dipenuhi. "Misalnya perhotelan, kerajinan tangan sebagai faktor penarik, benda-benda bersejarah yang terawat, dan banyak hal lain," ujarnya.

Walikota Jogja Herry Zudianto menegaskan menegaskan pihaknya berusaha menerapkan peraturan yang efisien dan tidak rumit. "Pemerintah bukan pelaku ekonomi utama. Yang bisa kami lakukan adalah membantu dengan cara memberikan perizinan yang mudah atau memberikan sarana dan fasilitas," paparnya.

Sebagai plasma inti dari DIJ, Kota Jogja harus dikembangakn dengan maksimal. "Sebenarnya kalau mau jujur, sulit juga mengurus Jogja. Luas wilayahnya paling kecil di antara kabupaten/kota di DIJ," ungkapnya.

Meski demikian, Herry juga mengaku pariwisata adalah hal yang harus lebih giat dikembangkan. Rencana relokasi pedagang pasar Ngasem juga merupakan upaya mengembangkan kota Jogja. "Nantinya, pasar Ngasem akan menjadi pintu masuk Tamansari. Sampai saat ini, kemegahan Tamansari tertutup pasar Ngasem," kata Herry sambil berjalan menuju kendaraannya.

Merelokasi pasar Ngasem adalah upaya untuk menguatkan obyek wisata jeron benteng. Padagang burung dan ikan yang selama ini menghuni pasar Ngasem akan dipindahkan ke pasar Dongkelan. "Pembangunan dimulai tahun ini (2009). Pedagang tidak ada yang protes kok. Kita sudah sepakat," paparnya.

Kekhawatiran mengenai oplah pedagang yang akan turun, diakui Herry sesuatu yang wajar. "Tidak Cuma mereka yang takut. Saya sebagai pengambil kebijakan juga takut kalau di tempat baru nanti mereka punya kesulitan. Tapi kita harus punya keyakinan. Toh ini juga sudah melalui kalkulasi yang matang," ujarnya optimistis.

Pasar Dongkelan akan dibuat dengan konsep gardening market. Kompleks pasar burung, ikan dan tanaman hias akan ditata secermat mungkin hingga menimbulkan kenyamanan. "Jadi orang tidak lagi datang ke pasar dan langsung beli. Mereka datang, menikmati suasana, baru memutuskan membeli sesuatu," terangnya. (luf)

Posted by Wawan Kurniawan on 19.25. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels