Senin, 02 Februari 2009

RADAR JOGJA - Rian menjadi salah satu wakil dari regional, DIJ lainnya, yang mengikuti tour ke Australia. Ia pun mempunyai oleh-oleh menarik sepulang dari negeri Kangguru itu. Di sana, pertama kalinya, pelajar asal SMA Bopkri Satu ini merayakan ulang tahun di luar negeri.

Tim Basket SMA Bosa di turnamen antar pelajar terbesar di Indonesia, berhasil mengawinkan dua kampiun.Mereka sukses menjadi jawara di kelompok putra maupun putri.Ketangguhan anak-anak Bosa ini juga mengantarkan mereka lolos ke final antar regional di Surabaya.

Prestasi mereka pun tak pelak mengantarkan sang kapten, Ryan Cristyanto menjadi pemain terbaik. Sebagai bentuk penghargaanya, putra pertama dari tiga bersaudara ini berhak menimba ilmu di benua terkecil di dunia itu.

Pengalaman menarik pun didapatkan pengidola, Kobe Bryant ini. Ketika berada di bus melakukan perjalanan, saat pulang latihan ke hotel, surprise menarik diberikan pelatih dan rekannya."Saya dikerjai sama pelatih. Saat itu saya lupa membawa kaos DBL yang berwarna putih. Sama mas Azrul dan pelatih dimarahi. Teman-teman satu bis pun semuanya diam,"tuturnya, ditemui dirumahnya, di Bumijo.

Kemarahan pelatih dan manajer tim, itu baru Rian ketahui hanya sandiwara ketika, dia sampai di hotel. Sesampainya di hotel, atlet yang mengenal basket secara tidak sengaja ini, lantas mendapatkan pesta kejutan."Saat tahu semuanya, saya menjadi terharu. Bahkan menjadi pengalaman yang paling berkesan,"jelasnya.

Pria yang lahir 18 tahun silam ini, juga mengungkapkan jika perayaanya, itu yang pertama di luar negeri.Ia pun juga memiliki keinginan untuk dapat mengulanginya. Meski, kesempatannya berbeda ketika merayakan ultah yang ketujuh belas.

Dari perayaan ini, Rian juga mendapatkan motivasi untuk meneruskan karir di basket. Impian dapat berseragam merah putih atau bermain di Indonesia Basket League (IBL) memacunya untuk semakin giat berlatih.

Selain itu, baginya, umur 17 tahun menjadi awal untuk menghasilkan prestasi-prestasi yang lebih baik."Semoga perayaan ultah di Australia mengunggugah semangat saya lebih giat lagi berlatih,"paparnya.

Kompetisi Deteksi Basket League (DBL) pada tahun ini memang tidak bisa kembali ia ikuti. Naluri sebagi mantan pemain yang pernah bermain di DBL pun membuatnya kerap membantu yuniornya."Peluang sekolahnya saya mungkin lebih berat daripada tahun lalu. Tetapi mereka selalu saya ingatkan untuk lebih semangat ketika bertanding,"ujarnya.

Selepas tidak bisa Rian membelas sekolahnya ini, juga membuatnya mengurangi intensitnya berlatih. Selain karena sudah menginjak kelas tiga."Untuk saat ini saya fokus ke pelajaran dulu. Setelah lulus tinggal pilih kampus yang bisa menyalurkan hoby saya bermain basket,"tukasnya.


EmoticonEmoticon