Jumat, 06 Februari 2009

Politisi Sering Esok Dele Sore Tempe
RADAR JOGJA - Lazimnya politisi yang maju menjadi calon legislatif (caleg) aktif berkampanye mengajak didukung program kerjanya. Namun, kebiasaan itu tak terlihat di Gedung DPRD DIJ, kemarin. Sebaliknya, anggota dewan yang berlaga lagi di kompetisi Pemilu 2009 diajak agar mengedepankan sikap jujur. Kampanye ini disampaikan Ketua Panwaslu DIJ Agus Triyatno saat mengadakan audiensi dengan pimpinan dewan dan pimpinan fraksi.

''Caleg itu kalau kampanye harus jujur. Kalau agendanya kampanye, bilang saja kampanye. Kenapa mesti malu-malu dengan menyebut sosialisasi," kritik Agus yang datang didampingi anggota Heri Joko Setyono dan Endang Wihdatiningsih. Mereka diterima Wakil Ketua DPRD DIJ Isti'anah ZA, Ketua Komisi A Nuryadi, Sekretaris FPDIP Ternalem, Wakil Ketua FPKS Wajdi Rahman, dan Wakil Ketua FPG Setya Soedjati Soenarto. Satu-satunya anggota dewan yang ikut menemui tapi tidak lagi menjadi caleg adalah Deddy Suwadi Siregar.

Menurut Agus, aturan Pemilu 2009 berbeda jauh dengan Pemilu 2004. Berdasarkan UU No 10 Tahun 2008, masa kampanye caleg alokasi waktunya lebih panjang. Sejak Juli 2008 silam, putaran kampanye telah dimulai. "Kalau kampanye bilang saja kampanye," ulang Agus.

Belum lagi Agus selesai bicara, Ternalem tiba-tiba menyela. Menurut kader PDIP itu, bila kampanye tiga hari sebelumnya harus memberikan pemberitahuan ke KPU dan Panwaslu. Soal pemberitahuan, Agus mengatakan tidak harus formal lewat surat. ''Silakan, SMS juga boleh," ucap ketua Panwaslu.

Selama dialog, jajaran Panwaslu juga mendapatkan curhat Ketua FPAN Afnan Hadikusumo. Politisi yang saat ini maju menjadi calon DPD itu menyoal berubah-ubahnya sikap Sultan Hamengku Buwono X. Awalnya, HB X mengizinkan setiap caleg dari berbagai parpol memasang foto dirinya. Belakangan, raja Keraton Jogja itu mengeluarkan surat pemasangan foto oleh caleg harus ada izin langsung dari HB X.

"Ini bagaimana sih. Dulu kita bebas memasang, kok sekarang harus ada izin. Padahal dulu omongan HB X itu dimuat di banyak media. Saya juga kliping," kata cucu Ki Bagus Hadikusumo itu.

Agus tak bersedia menjawab langsung pertanyaan itu. Pria asal Pati yang berlatar belakang jurnalis radio ini mengatakan lembaganya bertindak atas nama undang-undang. ''Kita juga harus paham dengan ungkapan esuk dele sore tempe. Omongan politisi kadang susah ditebak," sentilnya.

Dalam kesempatan itu Agus juga menginformasikan karena terbatasnya jumlah pelaksana Panwaslu, akan merekrut tenaga relawan untuk pengawas tingkat kelurahan. Ada ratusan relawan yang akan ditugaskan untuk memantau di sejumlah TPS. (kus)


EmoticonEmoticon