|

Program KKN Pemberantasan Buta Aksara di UNY Berhenti

RADAR JOGJA - KKN Pemberantasan Buta Aksara (PBA) yang digagas UNY tidak bisa lagi dilaksanakan. Dana menjadi alasan utama mandegnya program ini. Di DIJ, terdapat tiga universitas yang menggelar KKN PBA yaitu UGM, UNY dan UAD. Sementara UNY harus menutup program untuk sementara karena masalah dana, UGM berencana membantu program PBA di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kepala LPPM UNY Burhan Nurgiyantoro menjelaskan, dana KKN PBA UNY selama ini didukung PNFI (Pendidikan Non Formal dan Informal) Depdiknas. "Mulai tahun 2008, anggaran ini dihentikan," tuturnya saat ditemui Radar Jogja di kantor LPPM UNY kemarin.

Selama ini, dana yang diberikan sebesar Rp 360 ribu per orang. KKN PBA UNY sengaja ditempatkan di daerah kantong dimana tingkat buta aksaranya tinggi. "Tahun 2007 lalu, kami berhasil mengentaskan 834 warga dari buta aksara," paparnya.

PBA dikhususkan bagi warga berusia 15-45 tahun. "Dalam rentang usia produktif itu, (15-45 tahun), orang punya kebutuhan informasi yang harus dipenuhi. Membaca salah satunya," terang Burhan.

Meskipun PBA adalah program resmi pemerintah, beberapa universitas ikut serta membantuk melaksanakan program. Selain mereka, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) juga aktif menjalankan program.

Kerjasama PKBM, universitas, dan pemerintah setempat, diakui Burhan, secara signifikan mengurangi jumlah buta aksara di DIJ. Data BPS tahun 2005 menunjukkan jumlah buta aksara di DIJ mencapai 340.661 jiwa. Awal 2008, data statistic menujukkan penurunan berarti. Saat ini, jumlah buta aksara adalah 75.301 jiwa.

Meski sudah terjadi penurunan yang besar, Burhan mengingatkan usaha ini belum bisa dikatakan sepenuhnya berhasil. "Upaya masih dibutuhkan. Karena kami sekarang tidak bisa lagi menggelar KKN khusus PBA, kami hanya mennyertakan program serupa di KKN regular," ungkapnya.

Bila UNY memutus program KKN PBA karena masalah dana, Kepala LPM UGM Danang Parikesit menyatakan hal berbeda. Dia menjelaskan, dana bukan menjadi masalah utama di UGM. "Kami punya lebih dari satu sumber dana. Jadi sebenarnya, dana bukan masalah utama buat kami," tuturnya.

Danang tidak memungkiri angka buta aksara di beberapa kabupaten DIJ seperti Gunungkidul masih perlu mendapat perhatian. Namun dia berkata UGM tidak hanya berkonsentrasi dalam mengentaskan buta aksara di DIJ.

"Buta aksara masih menjadi masalah serius di beberapa provinsi lain di Indonesia, tidak hanya DIJ," tambahnya. KKN PBA UGM saat ini sudah mencapai Kutai Kartanegara, Bangka Belitung, dan Madura. "Kami punya illiterate map yang kami jadikan referensi untuk menentukan daerah kantong buta aksara," kata Danang. (luf)

Posted by Wawan Kurniawan on 05.46. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented