Minggu, 08 Februari 2009

YOGYA (KR) - Pelestarian budaya termasuk Sekaten tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah (Pemda) tapi perlu diimbangi dengan sinergitas dari sekolah. Konsekuensinya selain materi pembelajaran yang terkait dengan seni dan budaya siswa juga perlu diajak untuk melihat Sekaten dari dekat (berkunjung). Tentunya semua itu akan bisa terwujud jika acara dalam Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) dikemas lebih menarik sesuai dengan minat dan kreativitas peserta didik. Hal itu dikemukakan oleh beberapa Kepala SD dan SMP di Yogyakarta yang ditemui KR secara terpisah, Kamis (5/2).

Kepala SDN Baciro Drs Musa Dahwad mengatakan, kecintaan siswa terhadap budaya lokal bisa ditumbuhkan dari hal-hal sederhana termasuk berkunjung ke Sekaten. Sebab dengan berkunjung dan melihat dari dekat aktivitas yang ada di PMPS selain wawasan siswa bisa berkembang, mereka akan termotivasi untuk melestarikan budaya warisan leluhur.
Walaupun dalam praktiknya untuk mewujudkan hal itu bukan sesuatu yang mudah. Pengaruh budaya asing yang sudah cukup mengkhawatirkan dan penyelenggaraan PMPS yang terkesan monoton menjadikan siswa kurang antusias untuk melihat dari dekat.

"Supaya siswa tidak merasa bosan untuk berkunjung ke PMPS, perlu ada perubahan di sana-sini. Mulai dari stand, hiburan yang ditampilkan sampai lomba-lomba yang terkait dengan dunia pendidikan. Saya optimis jika hal itu bisa dilakukan, guru akan lebih mudah mengajak siswa ke PMPS," jelasnya, seraya menambahkan, berkunjung ke Sekaten tidak hanya menambah wawasan tentang sejarah tapi bisa mengenalkan budaya warisan leluhur sejak dini.

Terpisah, Kepala SMPN 6 Yogya Drs Martoyo menyatakan, jam buka Sekaten dari sore hingga malam, menyulitkan pihak sekolah untuk mengajak anak didik mereka menyaksikan Sekaten secara bersama-sama. Jika pergi pada pagi jelas tidak bisa karena mengganggu jam belajar siswa. Sedang pada malam hari menyulitkan pihak sekolah untuk melakukan koordinasi karena tidak semua siswa tempat tinggalnya dekat dengan sekolah.

"Kalau Sekaten buka pada siang hari atau setelah jam pulang sekolah kami bisa mempertimbangkannya untuk mengajak siswa kami mengunjungi Sekaten. Apalagi jarak sekolah kami juga cukup dekat, dari sarana transportasi juga mendukung. Namun kalau bukanya hanya malam, kami belum bisa melakukannya karena anak didik kami ada yang tinggal di Bantul," ungkap Kepala Sekolah SMPN 6 Yogyakarta, Drs Martoyo.

Ditambahkannya, selama ini jika ada siswa yang melihat Sekaten biasanya bersama keluarga masing-masing. "Untuk yang demikian kami tidak bisa melarangnya," tegas Martoyo seraya menambahkan, pada dasarnya dia setuju dengan usulan itu. Namun tetap harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Dia juga mengusulkan diterbitkannya anjuran Walikota mengenai ini, sehingga pihak sekolah bisa mempertimbangkan untuk itu.

Sementara itu, Mardi SPd selaku Kepala SDN Lempuyangwangi Yogyakarta mengatakan hampir setiap ada perayaan Sekaten sekolahnya selalu terlibat untuk unjuk kreasi. Itu secara tidak langsung membuat siswanya datang untuk menyaksikan Sekaten. "Namun di luar itu, kami belum pernah mengajak siswa kami untuk bersama-sama mengunjungi Sekaten," akunya. (Ria/*-9/War)-m


EmoticonEmoticon