|

Andya Dewakinara, Pemenang Lomba Komik Polisi Idola

Ide Dari Pengalaman Ditilang Polisi
RADAR JOGJA - Dari hobinya membuat komik, Andya Dewakinara berhasil memenangkan lomba membuat komik polisi idola. Indonesian Idol, judul komik buatannya, bercerita tentang polwan cewek yang idealis, cantik, dan tegas. Rupanya, itu adalah kritik halus Andya terhadap tingkah polisi lalu lintas yang tidak ramah, arogan, dan tidak mengayomi.

Tokoh utama dari komik Andya adalah serang polwan muda yang enerjik. Dia dengan sabar menjelaskan aturan tentang surat tilang kepada dua pengendara remaja yang berkendara tanpa helm. Di saat bersamaan, sang polwan juga membantu seorang nenek tua menyebrang jalan, memanggil tukang derek untuk membantu seseorang yang ban kendaraannya bocor, dan menengahi pertengkaran antar pengendara jalan.

Di mata Andya, itulah sosok polisi yang sebenarnya. Seorang polisi haruslah sabar, peduli terhadap pengendara motor di jalanan, dan tidak jadi "pemalak" di jalan. Komik setebal sepuluh halaman itu memenangkan lomba polisi idola yang digelar Polda DIJ.

Andya mendapat ide cerita untuk komiknya dari pengalamannya sendiri. Dia pernah ditilang, tetapi tidak mendapat surat tilang. Karena itu, dia kemudian bertanya kepada polisi lalu lintas yang bertugas. Sayangnya, tidak semua polisi menjawab dengan ramah jika ditanya tentang surat tilang.

"Padahal, setahu aku, bukti surat tilang itu wajib diberikan kepada pengendara yang melanggar aturan. Jadi, kalau kita membayar denda tilang kepada polisi, ada bukti jelasnya," tutur gadis kelahiran Surabaya 18 tahun silam ini.

Untuk mencari aturan yang sebenarnya tentang tilang-menilang, Andya browsing di internet. Dari sana, dia tahu tentang slip biru dan slip merah. Slip biru diberikan kepada pengendara yang menyadari kesalahannya saat itu dan memutuskan membayar denda lewat bank. Sedangkan slip merah diberikan kepada pengendara yang memutuskan meneruskan kasusnya sampai pengadilan.

Menurut Andya, aturan jarang dipahami setiap pengendara. "Nggak semua pengendara, apalagi yang muda seperti aku, paham. Polisi juga tidak suka menjelaskan peraturan ini kepada kami. Malah, tidak jarang mereka (polisi) menyalahgunakan aturan untuk diri sendiri," sesal siswa kelas XII IPS 2 SMAN 11 Jogja ini.

Jadi, komik ini tidak hanya menyampaikan pengetahuan kepada pengendara muda seperti Andya, tetapi juga kritik kepada para polisi lalu lintas. "Polisi tidak boleh malas menjelaskan peraturan kepada pengedara. Juga tidak boleh seenaknya menilep dana tilang," tegasnya.

Setelah menemukan ide, Andya mengerjakan komiknya dengan tergesa-gesa. Dia hanya punya waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Maklum, dia adalah siswa tahun terakhir SMA. Hari-harinya disibukkan dengan les privat dan bimbingan belajar persiapan UN dan ujian masuk universitas.

"Lumayan buru-buru sih bikinnya. Makannya nggak sempat coloring (memberi warna)," kata anak bungsu dari pasangan Heru Setyawan dan Nanik Estidarsani ini. Sewaktu mengumpulkan komiknya ke markas Polda DIJ, Andya sempat ciut nyali. Apalagi ini pertama kalinya dia mengikuti lomba membikin komik. "Saingannya banyak yang mahasiswa, dan mereka pasti bikinnya lebih bagus," paparnya.

Nyatanya, kekhawatiran Andya tidak terbukti. Dia dinyatakan sebagai pemenang pertama. Hadiah yang berupa uang tunai Rp 1,5 juta dan piala diterimanya dengan hati sedikit tidak karuan. Andya bahkan sempat bengong ketika polisi yang menyerahkan amplop berisi uang memintanya menghitung jumlah uang. "Aku agak gugup pas diminta menghitung uang hadiahnya. Kurang atau tidak. Wah, surprise banget!" seru gadis periang berkacamata ini.

Ketika ditanya untuk apa uangnya dipakai, dengan cepat Andya menjawab "Dipakai untuk membaya les privat. Aku membayar uang les pakai uang hadiah ini,". Ada juga sebagian yang dipakai untuk mentraktir teman-temannya.

Saat ini, Andya tinggal bersama ibu dan kakaknya. "Kita bertiga tinggal di kos-kosan lho!" serunya. Ibunya yang seorang dosen di Surabaya saat ini sedang mengambil S3 jurusan Pendidikan di UNY, sedangkan kakaknya, Citta Anindita, bekerja din perusahaan finance. "Dulu ngontrak rumah bertiga. Tapi karena ibu sering pergi-pergi, jadi kita kos saja. Lebih aman. Kita bertiga kamarnya sendiri-sendiri," tutur gadis yang ingin meneruskan kuliahnya di jurusan seni ini. ***

LUTFI RAKHMAWATI, Jogja

Posted by Wawan Kurniawan on 00.52. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented