|

ANGKA PUTUS SEKOLAH TINGGI; 30 Persen Warga Dlingo Hidup Miskin

DLINGO (KR) - Sekitar 30 persen warga di Kecamatan Dlingo saat ini hidup di bawah garis kemiskinan dan tergolong dalam kategori Rumah Tangga Miskin (RTM). Kemiskinan ternyata juga membawa dampak di sektor pendidikan, karena berdasarkan data dari beberapa desa, anak yang putus sekolah jumlahnya cukup banyak. Camat Dlingo Hermawan Setiaji SIP kemarin mengungkapkan, jumlah RTM di Dlingo sebanyak 3.411 KK, total jumlah penduduk sekitar 10-11 ribu KK. Selain kemiskinan, jumlah anak yang drop out (DO) sekolah di Dlingo juga tinggi. Di Desa Temuwuh mencapai 61 anak, Desa Mangunan 18 anak, Desa Jatimulyo 9 anak.

Selanjutnya di Desa Dlingo 21 anak. Sedang anak usia sekolah yang tidak bersekolah di Desa Dlingo ada 78 anak dan Jatimulyo 46 anak. Sementara angka buta huruf di Dlingo sekitar 900 orang.
Sejumlah langkah untuk menangani kemiskinan pun telah dilakukan. Antara lain dengan melakukan validasi data RTM. “Pengurangan beban RTM dilakukan dengan pambagian raskin. Sedangkan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga miskin dilakukan pemberdayaan. Warga diminta membuat kelompok usaha kemudian diberi bantuan modal,” kata Hermawan.

Kabag Ekonomi Pembangunan, Bangun Rahina menambahkan, tingginya angka putus sekolah disebabkan beberapa faktor. Banyak anak usia sekolah yang DO karena menikah. Ada pula yang enggan sekolah karena memilih bekerja. “Kebanyakan bekerja di sektor kerajinan. Setelah mendapatkan uang mereka lantas memilih tidak melanjutkan sekolah,” ujarnya.

Kecuali itu, lanjut Bangun, pola pikir masyarakat dan ketidakmampuan ekonomi juga jadi kendala. Banyak warga yang menganggap pendidikan itu kurang penting. Bagi mereka yang penting bisa bekerja dan menghasilkan uang. “Mengubah pola pikir ini yang paling sulit,” imbuhnya.
Bangun mengatakan, pihak kecamatan sudah sering melakukan sosialisasi. Memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan. Juni 2009 mendatang juga akan dilakukan sweeping untuk mendata jumlah anak putus sekolah maupun yang tidak sekolah. Mereka nantinya diminta untuk melanjutkan sekolah. Bagi yang sudah bukan usia sekolah diarahkan mengikuti kejar paket.

Sedang jumlah sekolah di Dlingo, Bangun menyebutkan, ada 26 SD/MI, 9 SMP dan 3 SMA/SMK baik negeri maupun swasta. Pihaknya pernah mengusulkan agar di Dlingo didirikan SLB, tapi belum disetujui. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) diarahkan untuk masuk ke sekolah formal, adalah yang telah menjalankan program inklusi. Hanya saja hingga sekarang juga belum ada sekolah inklusi di Dlingo.
(R-4)-d

Posted by Wawan Kurniawan on 18.02. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels