|

Daya Magis Kyai Guntur Madu dan Nogo Wilogo

Alunannya Masih Menjadi Daya Tarik Sekaten
Dua perangkat gamelan milik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sejak kemarin sudah berada di kompleks Masjid Agung Kauman. Dan mulai saat itu, hingga tujuh hari ke depan dua perangkat gamelan itu akan dibunyikan terus-menerus secara bergantian. DUA gangsa itu --Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nogo Wilogo--diarak keluar dari tempatnya Senin malam (2/3). Prosesi tersebut sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi warga maupun turis.

Begitu keluar dari Pagelaran Keraton Jogja, dua set gamelan itu menjadi perhatian masyarakat yang malam itu memadati arena Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS). Dua gamelan tersebut diusung di kompleks masjid akan dikembalikan lagi dari pagongan Masjid Agung Kauman menuju gedong gangsa di Sri Manganti Kraton Ngayogyakarta.

Setelah berada di kompleks masjid itu, gamelan pun akan ditabuh terus menerus. Lantunan gending- gending itu menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian besar warga. Mereka rela berduyun- duyun mendatanginya untuk mendengarkan lantunan irama yang dimainkan. Irama-irama khas yang dimunculkan dari gamelan pusaka ini seakan menunjukkan betapa kuatnya daya magisnya.

Prosesi ritual dikeluarkannya dua gamelan pusaka yang disebut sebagai upacara Miyos Gangsa itu berlangsung Senin (2/3) malam lalu. Gangsa (gamelan) Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di Pagongan Selatan. Sedangkan di Pagongan Utara ditempatkan gongso Kanjeng Kyai Nogo Wilogo.

Upacara tradisi dikeluarkannya dua perangkat gamelan ini merupakan rangkaian akhir kegiatan Pasar Malam dan Perayaan Sekaten (PMPS). Dengan dikeluarkannya dua perangkat gamelan pusaka itu, sekaligus menandai akhir kegiatan pasar malam yang sudah berlangsung sejak sebulan lalu.

Prosesi Senin malam itu berlangsung meriah. Ribuan warga rela menanti semua rangkaian upacara sejak sore hari. Sebelum dua perangkat gamelan itu dibawa menuju Masjid Agung, terlebih dulu diawali d engan upacara sebar udik-udik oleh Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X yang diwakili Prabukusuma. Sebar udik- udik adalah menyebar uang logam, beras kuning dan bunga setaman kepada masyarakat. Ini sebagai perlambang sedekah dalem untuk kemakmuran rakyat.

Ngalap berkah udik- udik ini juga dilakukan sebagian besar warga yang datang. Suditomo misalnya. Warga Grojogan Bantul ini rela berebut dengan warga yang lain untuk mendapatkan udik-udik."Uang ini tidak akan saya pakai untuk membeli apapun. Tapi untuk disimpan biar memberi rezeki bagi saya," katanya.

Komentar yang sama disampaikan Parti. Warga Banguntapan ini akan memakai uang dan bunga setaman yang dia dapatkan dari pemberian rajanya itu untuk ''memancing'' agar mendapatkan rezeki lebih banyak lagi.

Rangkaian perayaan sekaten akan berakhir Senin (9/3) mendatang. Sebagai penutup, akan dilaksanakan upacara Garebeg (grebeg). Yakni dikeluarkannya Kagungan Dalem Paraden ( gunungan). Ini sebagai wujud sedekah hajad dalem bagi kemakmuran rakyatnya.

DIN MIFTAHUDIN, Jogja

Posted by Wawan Kurniawan on 19.36. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels