|

Hidupkan Seni Asli Jogja di Malioboro

RADAR JOGJA - Kawasan sekitar Malioboro kembali dihidupkan. Jalan legendaris yang dianggap sebagai ikon Kota Jogja itu dihidupkan dengan sejumlah pergelaran seni budaya. Setidaknya, itulah yang dimulai tadi malam dan malam-malam Minggu selanjutnya.

Ya, kegiatan pentas seni secara reguler kembali akan digelar selama setahun ini. Pentas seni reguler ini akan digelar setiap Sabtu malam dan malam-malam libur nasional. Kegiatan itu dipusatkan di dua lokasi strategis di jantung Kota Jogja, yakni di kawasan Malioboro, tepatnya di Taman Parkir Abubakar Ali dan depan Beteng Vredeburg.

Dan kemarin (14/3) petang, kegiatan yang diprakarsai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja itu secara resmi diluncurkan. Launching bertema "Pesona Seni Jogja dalam Balutan Seni Pertunjukan Jalanan" itu dipusatkan di sepanjang Jalan Malioboro dengan bentuk street performance.

"Ini kami pilih karena mewakili gemuruh kreativitas seniman-seniman yang ada di Kota Jogja," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja Hadi Mochtar. Sejumlah seniman ambil bagian dalam pembukaan kegiatan untuk pengembangan kesenian berbasis kewilayahan dan penguatan pariwisata berbasis budaya ini.

Sebut saja Sanggar Tari Natya Lakshita pimpinan Didik Ninik Thowok, Komunitas Anak Budaya, Jathilan Turangga Wiwaha dan lain-lain. Selain mengikuti prosesi, mereka juga tampil menghibur warga pada malam harinya di depan Beteng Vredeburg. Setelah pembukaan nanti, setiap malam minggu di dua lokasi itu akan tampil kesenian-kesenian dari semua kelurahan se Jogja secara bergantian.

Sejumlah warga menyambut positif prakarsa kegiatan ini. Namun, sejumlah masukan juga mereka sampaikan. Di antaranya agar pengetatan jumlah kendaraan yang masuk ke Jalan Malioboro bersamaan pergelaran seni budaya itu. Dengan harapan, mereka bisa menikmatinya lebih leluasa.

''Kalau ada pentas, tapi kendaraan tetap bebas masuk akan mengganggu kenyamanan," terang Rofia, warga Sleman yang kemarin berlibur di Malioboro. Yang lain berharap ada kesempatan semua elemen masyarakat termasuk seniman- seniman dari berbagai aliran untuk mengekspresikan diri. (din)

Posted by Wawan Kurniawan on 16.51. Filed under , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels