|

KULINER BARU GAYA BANTUL, Bonggol Pisang Jadi Keripik

BONGGOL pisang yang selama ini hanya dianggap limbah ternyata dapat diolah menjadi keripik yang tidak hanya enak dikonsumsi, tapi juga mengandung serat tinggi. Ini pula yang dikerjakan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Sedya Rahayu Desa Argorejo Sedayu Bantul. Sejak tahun 2006, ibu-ibu anggota KWT mengembangkan home industri keripik bonggol pisang. Inilah kuliner baru ala Bantul.
Mencicipi keripik yang namanya masih terdengar aneh ini rasanya memang cukup nikmat.

Meski bahan bakunya berasal dari pohon pisang bagian akar, tapi keripik ini tetap renyah dan tidak terasa pahit. Orang yang belum tahu pun tidak akan mengira bahwa panganan tersebut dibuat dari limbah pohon pisang. Mengkonsumsi keripik ini juga tidak perlu takut keracunan karena sudah mendapat izin dari Depkes.
Keberhasilan warga mengolah bonggol pisang bermula dari coba-coba. Tahun 2004, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Argorejo, Sumarjan mengikuti temu petani nasional di Samarinda. Di acara tersebut dipamerkan keripik daun pisang. ”Dari situ muncul gagasan, kalau daun saja bisa dibuat keripik kenapa bonggolnya tidak,” tutur Sumarjan mengisahkan awal mula munculnya keripik bonggol pisang.
Apalagi bahan baku berupa bonggol pisang tersedia dalam jumlah banyak dan selama ini tidak dimanfaatkan. Desa Argorejo merupakan salah satu sentra penghasil pisang di Bantul. Sejak tahun 2004, budidaya pisang mulai digencarkan dan menjadi komoditas pertanian andalan di daerah itu.
Gagasan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh ibu-ibu anggota KWT Sedya Rahayu. ”Kami terus mencoba bagaimana mengolah bonggol pisang agar tidak terasa pahit hingga ditemukan resep seperti yang digunakan sekarang,” kata sekretaris KWT Sedya Rahayu, Tintin Kartikasari.
Dijelaskan, tidak ada perlakuan khusus untuk mengolah bonggol pisang menjadi keripik. Hanya saja, tidak semua jenis bonggol pisang enak dijadikan keripik. ”Kami hanya menggunakan bonggol pisang kepok dan kluthuk. Selain kedua jenis itu rasanya pahit,” ujarnya.
Cara mengolahnya pun cukup mudah. Bonggol pisang dikuliti kemudian direndam dengan air yang dicampur baking powder. Setelah itu bonggol diiris tipis lalu direndam kembali dalam baking powder. Sedang untuk bumbunya sama dengan bumbu membuat peyek. Menggunakan bawang putih, ketumbar, kemiri, kencur dan daun jeruk nipis yang diiris lembut. Semua bumbu tersebut dihaluskan kemudian dicampur tepung beras, santan kental dan telur untuk dibuat adonan.
Bonggol pisang yang sudah diiris ditiriskan dan dicampur dengan adonan sedikit demi sedikit. Selanjutnya digoreng. Agar hasilnya maksimal, penggorengan dilakukan 2 kali. Setelah dingin keripik bisa langsung dikemas dalam plastik atau ditambah bumbu untuk memberi rasa pedas dan manis.
Dalam proses pengolahan ini, Tintin mengatakan, pihaknya tidak menggunakan penyedap rasa (moto). ”Sebagai gantinya digunakan campuran gula dan sedikit garam. Kami juga tidak menggunakan bahan pengawet sama sekali,” terangnya. Meski begitu keripik buatan warga ini bisa tahan sampai 1 bulan asal pengemasannya bagus.
Keripik bonggol pisang selama ini dipasarkan di warung-warung dan banyak diminati sebagai oleh-oleh. Satu kilogramnya dijual seharga Rp 25 ribu. ”Tapi dalam pengemasannya kami buat ukuran 1 ons dengan harga Rp 3 ribu,” ucap Tintin. Keripik ini juga sering ditampilkan dalam pameran hasil olahan produk pertanian di beberapa daerah.
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, bonggol pisang memiliki kandungan kalori, protein, karbohidrat, fosfor, zat besi, kalsium, vitamin B dan C. Hasil olahannya juga mengandung serat tinggi sehingga bagus untuk pencernaan.(Dwi Astuti)-n

Posted by Wawan Kurniawan on 22.41. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented