|

Nuansa Bali di Prambanan

Umat Hindu Sinergikan Ritual Agama dan Seni
SLEMAN - Umat Hindu di Jogja menyambut Hari Raya Nyepi dengan menyatukan ritual keagamaan dan seni. Mereka menggelar Prambanan Happening Art 2009 dan Santri Ratri di halaman komplek candi Hindu terbesar di Indonesia ini. Dalam pentas itu, sinergi antara ritual ibadah dan kesenian budaya bisa terbentuk.

Pagi itu cuaca cerah saat ratusan penari sedang bersiap untuk tampil di salah satu halaman Candi Prambanan. Tak lupa berbagai pernak-pernik dikenakan oleh setiap penari untuk menunjukkan kekhasan jenis tarian yang akan dibawakan. Alunan musik tradisional Bali mengalun pelan menghibur para pengunjung yang telah datang lebih awal.

Di meja pendaftaran, dua orang panitia sibuk mencatat siapa saja yang akan mengisi dan terlibat secara langsung dalam acara Prambanan Happening Art 2009 dan Santi Ratri. Tidak ada batasan, siapa saja boleh mengisi acara dalam rangkaian Perayaan hari Raya Nyepi Tahun Saka 1931 atau tepat pada 26 Maret mendatang.

Selain penari, acara tersebut dimeriahkan oleh puluhan pelukis dari semua aliran. Di antaranya naturalis, ekspresionis dan kontemporer. Ada juga pelukis asing yang turut mencari stage yang pas untuk mengimprovisasikan imajinasinya pada Candi Hindu Kuno itu dengan berbagai alat lukis mulai dari pulpen, spidol, krayon sampai cat minyak.

Areal Candi Prambanan sengaja dipilih sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan yang melibatkan para seniman itu. Selain menyesuaikan dengan tema "Merespons Eksistensi Spiritual dan Estetika Candi Prambanan Sebagai Situs Universal dan Kedamaian", kegiatan ini diharapkan mampu menjadi identitas sinergi antara ritual dan seni budaya.

"Perayaan Nyepi bukan sekedar ritual. Tetapi bagaimana dikembangkan secara positif spiritual untuk wisata," tutur Ketua Perayaan Nyepi AAK Suryahadi.

Ke depan, tentu ada harapan bisa menyerap banyak wisatawan. Terbukti, tak hanya wisatawan domestik saja yang tertarik menyaksikan kegiatan tersebut. Beberapa turis asing pun sangat antusias menonton. "Kegiatan ini sangat unik. Tariannya dari Bali. Tapi penarinya banyak juga ya yang asal Jogja. It's so wonderful," tutur Margareth, 33 turis asal Swedia, menirukan pernyataan pembawa acara.

Ketika matahari sudah tampak sepenggalahan, acara tari-tarian pun dimulai. Secara serentak, para pelukis mencari stage sendiri-sendiri dan langsung menyapukan kuas pada kanvasnya.

Tari Kelangwaning Prambanan mengawali pertunjukan setelah beberapa sambutan disampaikan oleh panitia. Kelompok penari dengan baju dominan warna merah jambu itu mampu menimbulkan decak kagum penonton. Selang sekitar lima menit berlalu, penari binaan Suratmi Eka Kapti itu kembali ke tepi lapangan dan diteruskan Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok juga. Tarian yang biasa dibawakan saat berlangsungnya suatu upacara di halaman pura ini disajikan oleh 150 penari yang terdiri dari para mahasiswi di Jogjakarta.

"Tidak semuanya asal Bali. Sebagian penari asli Jawa dan ada juga yang dari Jepang," tutur Ketua Pelaksana Happening Art 2009 I Gede Arya Sucitra yang sekaligus sebagai Master of Ceremony (MC).

Ciri khas dari tarian ini adalah para penari saling memegang selendang satu sama lain. Meski nuansanya Bali, ada juga tari tradisional Jawa yang disuguhkan. Yakni tari Golek Ayun-Ayun. Dilanjutkan tari Joged Bumbung Topeng yang asal Bali. Tak hanya tari-tarian saja yang memeriahkan acara ini. Pembacaan sastra dan pertunjukan spontanitas oleh kelompok tater Institut Seni Indonesia (ISI) turut menyemarakkan peringatan Hari Raya Nyepi ini.

"Kami berharap, kegiatan ini bisa dikembangkan lebih dan dipertahankan untuk tahun depan," tutur I Gede Arya Sucitra yang tampil mengenakan pakaian khas penari topeng Bali. (yog)

Posted by Wawan Kurniawan on 23.03. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented