|

Para Caleg Merasa Dilecehkan

Anggap Persiapan RSJ untuk Mereka Mengada-ada
RADAR JOGJA - Para calon legislatif (caleg) merasa dilecehkan dengan langkah pemerintah provinsi (pemprov) DIJ yang menyiapkan sarana lebih di rumah sakit jiwa (RSJ). Pemprov dinilai keterlaluan karena secara tak langsung dianggap membangun wacana yang kurang mendidik di masyarakat.

''Terlalu mengada-ada kalau sampai berpikiran seperti itu. Caleg-caleg sebelum memutuskan untuk maju kan sudah dibekali persiapan matang. Siap untuk menang dan juga siap untuk kalah,'' tutur MB Indah Yulianti, caleg dari Partai Golkar saat dihubungi Radar Jogja kemarin (23/3).

Dikatakan Indah, sebelumnya dia dan teman-teman seperjuangannya sudah dibekali oleh parpolnya tentang pemahaman peluang jumlah kursi. Pikiran sudah dibentuk bahwa peluang menang adalah satu banding ribuan. ''Kami memang wajib optimistis, tapi peluang kalah itu kami sadari jauh lebih besar ketimbang peluang menang,'' imbuhnya.

Agar tak terlalu merasakan kekecewaan jika nanti kalah, Indah mengaku tak mau terlalu mengeluarkan banyak biaya untuk keperluan kampanye. Dia hanya mengandalkan tenaga dan ilmu yang dimiliki untuk meraih simpati masyarakat agar mendukungnya. ''Kalau stres karena sudah keluar biaya banyak tapi gagal, ya itu salah calegnya sendiri. Kenapa dia hanya mengandalkan uang sebagai modalnya untuk menang?'' ungkapnya.

Riyanto Kuncoro, caleg dari PDIP juga menilai statemen dan prediksi banyak caleg stres terlalu berlebihan. ''Seharusnya pemerintah membuat pendidikan politik yang baik, tidak seperti ini,'' kritiknya.

Menurutnya, para caleg sudah mengukur kemampuan masing-masing dalam mengikuti bursa pemilihan legislatif ini. ''Soal banyaknya biaya yang dikeluarkan, itu sudah diukur sesuai kemampuan. Kalau saya pribadi, biaya untuk nyaleg sudah disiapkan secara khusus, termasuk besarannya. Kalau memang nantinya tak menang, ya sudah itu risiko. Ikhlas. Toh saya sudah hampir 10 tahun duduk di kursi dewan,'' ujar caleg incumbent yang sudah maju pencalonan untuk kali ketiga.

Karena itu, Riyanto yakin tak akan stres jika nanti kalah dalam pemilu legislatif. Uang sebesar Rp 50 juta yang telah dikeluarkan untuk kampanye kali ini sudah dianggapnya sebagai bentuk pengeluaran wajib.

Jawaban ndagel datang dari caleg PPP yang baru pertama kali maju di bursa pemilu legislatif Zaki Sierrad. Selain menyambut pertanyaan ini dengan tawa lepas, dia menganggap ide pemerintah ini keterlaluan. ''Kalau nantinya saya gila karena kalah, saya mau minta antar pendukung-pendukung saya ke RSJ,'' katanya sambil bercanda.

Namun Zaki yakin tak akan sampai stres kalaupun kalah dalam pemilihan. ''Segala sesuatu yang saya tempuh untuk pemilu ini sudah terukur. Saya sudah terbiasa kalah dan menang. Berusaha untuk menjadi sesorang yang realistis dan tidak ambisius adalah jalan untuk memperkecil emosional,'' ungkapnya.

Tanggapan menggebu-gebu datang dari caleg PAN Triningtyasasih. ''Saya pribadi merasa dilecehkan. Saya merasa ketahanan stres para caleg dianggap tidak baik. Padahal kita (para caleg, Red) sudah di-push untuk terima kekalahan. Kami disemangati untuk menang, tapi disiapkan untuk kalah,'' ungkapnya.

Menurutnya, caleg-caleg yang kemungkinan mengalami stres adalah mereka yang berambisi sebagai penguasa, bukan sebagai wakil rakyat. Dengan begitu, caleg tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk menang dengan menempuh berbagai cara. Sehingga tak bisa menerima kekalahan dan depresi.

Sri Panudju Karsa, caleg dari PPRN memberi tanggapan lain. Ia menganggap, persiapan RSJ untuk menampung lebih banyak pasien itu tak lain adalah bagian dari prediksi bisnis. ''Itu insting RSJ. Seperti halnya orang berbisnis, pasti selalu membaca berbagai peluang,'' tuturnya.

Seperti yang lain, dia juga mengaku mempersiapkan diri untuk kalah. Jauh-jauh hari dia sudah membayangkan risiko buruk yang mungkin akan menimpanya. Peluang menang dengan perbandingan satu banding puluhan ribu juga sudah benar-benar dipatri di otaknya. ''Simpel saja, kalau memang tidak menang, ya itu belum rezekinya,'' ungkapnya.

Meski begitu, para caleg itu menyadari bahwa keputusasaan dan kekecewaan sangat mungkin dirasakan jika memang nantinya harus kalah. Mendekatkan diri pada Tuhan menjadi alasan seragam mereka. Yang jelas, mereka mengaku jauh-jauh hari sudah disiapkan untuk menerima kekalahan, sehingga jika kecewa tidak terlalu berlebihan.

Menekan biaya pengeluaran semasa kampanye juga sudah dilakukan. Hal ini untuk menghindari kekecewaan lebih besar yang akan dirasakan. ''Saat kampanye tidak usah terlalu ngoyo,'' ungkap Triningtyasasih.

Indah mengaku lebih banyak mendekati masyarakat untuk meraup dukungan. Jadi jika kalah, setidaknya dia sudah berusaha berbuat baik kepada masyarakat.

Terpisah, caleg nomor satu dapil Bantul dari Partai Golkar DPRD DIJ Erwin Nizar mempertanyakan langkah RS Ghrasia. ''Apa yang dilakukan RS Grhasia cenderung tendensius,'' kritik Erwin ditemui di Gedung DPRD DIJ kemarin.

Wakil Ketua Komisi D DPRD DIJ ini berpendapat, mestinya kesiapan itu bukan hanya ditujukan untuk agenda pemilu. RS Grhasia harus memberikan pelayanan terbaik kepada siapa pun dan kapan pun juga. ''Sebaiknya kesiapan itu jangan semata-mata ditujukan untuk pileg,'' usulnya.

Erwin mengaku, secara pribadi dia telah menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi setelah pemilu legislatif 9 April. Dia juga sudah melakukan sosialisasi ke bawah jauh hari sebelum masa kampanye. Dari upaya yang dilakukan itu, Erwin optimistis dapat meraih dukungan yang maksimal.

Wakil Ketua Komisi A DPRD DIJ Arif Rahman Hakim mengganggap tak tepat bila RS Grhasia menyiapkan 10 kamar VIP untuk merawat caleg yang stres akibat gagal dalam pemilu. Menurut dia, caleg stres karena dilatarbelakangi kehabisan uang. Tak cukup itu, masih ada kewajiban membayar utang yang harus dipenuhi.

''Bagaimana mau dirawat di kelas VIP kalau uangnya saja habis. Faktor penyebab stres karena caleg banyak dililit utang,'' ucapnya.

Karena itu, kelas yang diperbanyak RS Grhasia sebaiknya kelas ekonomi yang tidak memerlukan pengeluaran yang besar. Arif membayangkan, dengan biaya per hari Rp 75 ribu untuk kebutuhan perawatan selama 10 hari telah menghabiskan dana Rp 750 ribu. ''Belum biaya lain-lain. Tentu itu berat,'' ujarnya.

Arif menambahkan, tak semua caleg orang yang berduit. Tak sedikit dari mereka maju caleg dari modal utang dan menjual aset-aset yang dimiliki.

Kader PKS itu sempat berbagi resep kiat menghindari masuk RS Grhasia. Antara lain dalam pemilu, caleg harus menghemat pengeluaran anggaran kampanye. ''Jangan boros apalagi jor-joran money politics. Nanti kalau nggak jadi anggota dewan gelo,'' ungkapnya.

Selain itu, caleg juga tidak perlu mengumbar atau mengobral janji muluk-muluk ke konstituen. Dampak dari obral janji itu bila caleg terpilih atau gagal akan terus dikejar pertanyaan oleh masyarakat.

Anggota FPAN Tuti Masria Widyo mengatakan tak ingin larut dalam stres melihat hasil perhitungan suara. Ia berencana usai pemungutan suara akan melancong ke Australia. ''Saya akan berlibur nengok cucu,'' ujar politikus perempuan yang dikenal dekat dengan mantan Ketua Umum PAN Amien Rais itu.

Kolega Tuti, Nazaruddin mengatakan siapa pun caleg yang gagal meraih kursi di parlemen bakal merasa kecewa. ''Kalau sampai stres nggak lah. Kalau kecewa jelas kecewa,'' akunya.

Nazar mengingatkan dibandingkan caleg yang baru sekali maju pada pileg, mereka yang sekarang menjadi dewan secara pengalaman lebih diuntungkan. Terutama dalam mengelola anggaran selama masa kampanye. ''Jam terbang mungkin yang sedikit membedakan. Kami-kami yang muka lama ini punya pengalaman Pemilu 2004,'' kata pria yang maju lagi menjadi anggota DPRD DIJ dari dapil Kota Jogja ini.

Seperti diberitakan (Radar Jogja, 23/3) guna mengantisipasi banyaknya para caleg yang stres akibat kalah dalam pemilu, Pemprov DIJ telah meminta Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia menambah kamar dan pelayanan untuk pasien, khususnya mantan caleg. Penambahan kamar dan fasilitas dilakukan mengingat kemungkinan jumlah mantan caleg yang stres sangat banyak. Kemungkinan terjadinya goncangan jiwa pada mereka yang gagal pun sangat besar. (nis/kus)

Posted by Wawan Kurniawan on 06.24. Filed under , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented