|

Turun ke Jalan, Galang Dukungan

Caleg Perempuan Minta Perlindungan Kapolri
JOGJA - Momentum Hari Perempuan se Dunia yang jatuh kemarin, dimanfaatkan betul oleh ratusan aktivis perempuan dengan menggelar aksi turun ke jalan. Mereka menggelar demo dengan rute mulai depan kantor PLN Jalan Mangkubumi hingga perempatan Kantor Pos Besar Jogja.

Ikut bergabung dalam aksi tersebut beberapa orang calon legislatif (caleg) perempuan dari lintas partai. Selama aksi, mereka bukan hanya menyuarakan soal hak-hak asasi perempuan. Namun juga menggalang dukungan bagi kaumnya yang sedang berjuang menghadapi Pemilu 9 April mendatang.

Demi mengefektifkan potensi dukungan para perempuan itu membuat gerakan yang bertajuk Jaringan untuk Peningkatan Keterwakilan Perempuan. "Perempuan hanya menjadi objek kebijakan tanpa punya akses dan kontrol memberikan masukan, kritik dan perubahan kebijakan," ujar Wasingatu Zakiyah, aktivis perempuan dari Institute for Development and Economic Analysis (IDEA), sebuah LSM yang aktif bergerak di bidang pengawasan anggaran.

Zaki memaparkan jumlah perempuan mencapai 49,8 persen dari total penduduk Indonesia sebesar 224 juta. Jumlah perempuan yang besar tidak diimbangi oleh keterwakilan dalam lembaga strategis.

Karena itu, Zaki terang-terangan mengajak masyarakat DIJ tidak melakukan golput tapi menjadi pemilih rasional dengan memilih caleg perempuan. "Perempuan Jogjakarta menjadi inisiator terwujudnya pemilu bersih dan anti kekerasan," tegas ibu dua anak ini berapi-api.

Dalam aksi itu, Zaki mengatakan kaukus perempuan itu juga mengirimkan surat ke Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri. "Kita minta Kapolri dan jajarannya memberikan perlindungan hukum kepada caleg perempuan baik sebelum, saat dan sesudah pemilu," ujarnya.

Perlindungan itu penting untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Termasuk adanya teror atau intimidasi terhadap mereka. Saat melintas di depan gedung DPRD DIJ, massa sempat berhenti. Sebuah baliho besar bertulisan 10 komitmen politik caleg perempuan dipajang persis di muka gerbang gedung dewan.

Komitmen politik itu berisi tawaran para caleg perempuan untuk mewujudkan perubahan. Isinya antara lain tekad memperjuangan hak asasi perempuan, memperjuangkan kebijakan pengurangan angka kematian ibu dan menolak poligami dan perkawinan anak.

"Kami juga menolak segala bentuk kekerasan dan anti korupsi kolusi dan nipotisme," ungkap Triningtyasasih, mantan aktivis perempuan yang sekarang mencalon menjadi wakil rakyat DPRD DIJ dari PAN.

Selain itu, para caleg perempuan dari lintas partai itu juga berkomitmen memperjuangkan anggaran responsif gender, menolak kebijakan merusak sumber dalam alam (SDA) dan memperjuangkan ekonomi kerakyatan.

"Caleg perempuan juga menolak segala bentuk kebijakan diskriminatif," tandas perempuan yang pernah aktif di Rifka Annisa ini. Usai membacakan 10 komitmen politik itu, Tyas bersama 11 caleg perempuan lintas partai menuliskan nama dan membubuhkan tanda tangan di baliho tersebut.

Adapun 11 caleg perempuan itu adalah Siti Minarsih, Asih Handayani, Sri Murtini, Heru Martani, Teti Kuswati dan Diani Anindiati. Lalu disusul Bandriyati, Freeda Musthikasari, Ninuk Dian, Atin Qomariyah dan Hidayatut Thoyyibah.

Dari 11 yang meneken kontrak politik itu tak ada satu pun caleg perempuan yang saat ini sedang menjabat anggota dewan. Semua adalah muka baru yang kali pertama berlaga pada pemilu. Sebagai saksi terhadap janji para caleg perempuan itu, dosen UNY yang juga dikenal penggiat perempuan Nahiyah JF. (kus/din)

Posted by Wawan Kurniawan on 17.44. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels