|

UJIAN TAK PERLU DIANGGAP MENAKUTKAN ; Penentuan Kelulusan SD Jangan Asal-asalan

YOGYA (KR) - Wakil Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan pelaksanaan ujian seperti halnya Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) tidak perlu lagi dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Karena ujian sebenarnya merupakan proses biasa yang harus dilalui untuk meningkat ke jenjang sekolah selanjutnya. “Dari pantauan yang kami lakukan, dari sisi penyelenggaraan UASBN di Kota Yogyakarta berjalan cukup lancar. Para siswa juga terlihat gembira dan tidak tertekan. Mudah-mudahan kondisi seperti ini bisa terus dipertahankan. Pelaksanaannya bagus, sementara ujiannya juga tidak dianggap menakutkan oleh siswa,” papar wawali didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogya Syamsury kepada KR di sela-sela pantauan UASBN di SDN Glagah dan SDN Giwangan, Rabu (13/5).

Dipaparkan, dalam UASBN nantinya sekolah berhak untuk menentukan passing grade untuk nilai kelulusan. Namun demikian, harus ada standar nilai minimal sehingga lulusan yang ada nantinya tidak hanya asal-asalan. “Dinas Pendidikan memang tidak menentukan berapa standar kelulusan siswa SD di kota. Itu diserahkan pada sekolah masing-masing, sehingga bisa saja satu sekolah dengan yang lain berbeda. Tapi jangan hanya asal meluluskan,” tandasnya.
Namun demikian wawali meminta agar para siswa tidak sekadar lulus, tetapi bagaimana agar nantinya lulusan tersebut bisa melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya, tentunya sekolah yang berkualitas pula.

“Sekolah tetap dituntut untuk mewujudkan lulusan yang berkualitas dan nantinya juga bisa melanjutkan ke SMP/MTs yang bermutu,” ujar wawali. Sementara itu di SDIT Luqman Al Hakim untuk mengetahui kemampuan anak dan kualitas soal yang diujikan dalam UASBN. Setelah UASBN selesai sekolah sengaja membuat semacam quick qount sendiri dengan menggunakan lembar jawab komputer (LJK) yang disediakan sekolah. “Setelah ujian siswa kami minta, memindahkan jawaban dari kertas ke LJK yang sudah disediakan sekolah. Sementara untuk kunci jawaban, diperoleh dari soal-soal yang dikerjakan guru. Tentunya soal itu dikerjakan setelah ujian selesai, jadi kerahasiaan soal dari Diknas benar-benar terjamin,” terang Kepala SDIT Luqman Al Hakim Drs Ahmad Burhani, seraya menambahkan, dengan melakukan scanner sendiri selain bisa mengetahui nilai siswa lebih awal, sekolah berharap dapat mendeteksi tingkat kesulitan soal untuk dijadikan bahan evaluasi pada tahun berikutnya.

Ahmad Burhani menambahkan, pada tahun ajaran 2008/2009 jumlah peserta UASBN ditempatnya ada 140 siswa. Berdasarkan hasil scanner dan analisis yang dilakukan sekolah rata-rata nilai Bahasa Indonesia mencapai 8,84 dan Matematika 8,94.
Meski peralatan koreksi yang digunakan mirip dengan alat yang ada di Dinas Pendidikan ada kemungkinan nilainya berbeda. Pasalnya waktu yang disediakan sekolah untuk memindahkan jawaban ke LJK terbatas.

“Nilai-nilai ini sifatnya masih perkiraan, jadi ada kemungkinan masih berubah. Kendati demikian sekolah bisa sedikit lebih tenang, karena prediksi nilai diketahui lebih awal,” ungkapnya.
Di SDN Bumijo Yogyakarta siswa yang mengikuti UASBN ada 38 anak menempati 2 ruangan dengan 4 orang pengawas. Menurut Kepala SDN Bumijo Drs Suryanto MA dari hari pertama sampai terakhir semua siswa bisa mengikuti. Ada perasaan lega baik siswa maupun guru karena UASBN sudah selesai meskipun masih harus menghadapi ujian sekolah dan ujian praktik.

Komentar serupa diungkapkan Kepala SD Kanisius Gowongan AP Suharyanto SPd. Menurutnya, sebelum UASBN dimulai sekolah sengaja menyiapkan snack dan minuman untuk 11 siswa pe
serta UASBN. Meski fasilitas dan sarana pembelajaran di SD Kanisius Gowongan tergolong sederhana pelaksanaan ujian sejak hari pertama sampai terakhir berjalan cukup kondusif dan lancar.
Sementara 2 orang siswa SDN Bumijo, Teta Nia Yuspramita dan Chalida Romayasari mengomentari soal UASBN lebih mudah jika dibanding soal latihan. Meskipun begitu, mereka berdua mengaku tetap hati-hati dalam mengerjakannya. Me reka optimis jawaban-jawab- annya banyak yang betul. Mereka tidak berani menyebutkan betul semua karena ada beberapa soal yang mereka anggap sulit.
“Kalau betul semua kelihatannya tidak mungkin,”kata Teta dan Chalida.
(Ret/Ria/War)-m

Posted by Wawan Kurniawan on 02.18. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented