|

HUT Ke 62, Kota Jogja Masih Banyak PR

RADAR JOGJA- Memasuki usia ke 62, sejumlah persoalan masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Kota Jogja. Baik masalah kesehatan, kebersihan dan penghijauan, pendidikan, pengentasan kemiskinan, sampai dengan pengembangan sektor ekonomi kawasan selatan. Persoalan-persoalan ini meskipun sudah menampakkan hasil yang signifikan, terutama dilihat dari indikator-indikator keberhasilannya, tapi masih tetap harus ditingkatkan. Setidaknya, itu menjadi target pemerintahan Herry Zudianto-Haryadi Suyuti sampai akhir masa jabatannya yang tinggal beberapa saat.

"Mudah-mudahan di akhir masa jabatan kami sejumlah persoalan bisa kami tuntaskan," terang Wali Kota Jogja Herry Zudianto usai Upacara Peringatan HUT ke 62 Pemerintah Kota Jogja di Balai Kota Jogja kemarin (7/6).

Di bidang kebersihan dan penghijauan, meskipun Kota Jogja kembali meraih penghargaan Adipura, tapi itu belum cukup. Herry mengakui, jika saat ini gerakan yang terjadi masih sebatas gerakan fisik semata. "Yang harus ditingkatkan. Sekarang, gerakan ini belum menjadi nilai-nilai bagi masyarakat," akunya.

Di bidang pendidikan, Kota Jogja masih mempunyai target untuk pemerataan kualitas pendidikan di semua jenjang pendidikan. Baik untuk sekolah negeri maupun swasta. Di bidang kesehatan, Herry menargetkan program universal coverage bisa dilaksanakan secepatnya."Setidaknya sebelum masa jabatan saya habis, program itu bisa diterapkan," janjinya.

Di bidang penanggulangan kemiskinan, Pemkot Jogja menargetkan untuk pengentasan bisa dilakukan bukan hanya dengan memberikan bantuan-bantuan. Pengentaan kemiskinn bisa dilakukan dengan menggerakkan potensi-potensi yang dimiliki untuk menaikkan pendapatan masyarakat.

Soal lain yang dianggap penting untuk segera dilakukan oleh Pemkot Jogja adalah pengembangan ekonomi kawasan selatan Kota Jogja yang selama ini dianggap belum bisa maksimal. Sebagai kawasan yang diciptakan untuk pengambangan ekonomi, kawasan itu belum bisa digarap optimal. Terlebih pascagempa 27 Mei 2006 silam yang ikut memengaruhi kondisi yang ada.

Karena itu, Herry optimistis dengan segera dibangunnya Pasar Burung di Dongkelan, Pusat Seni dan Kerajinan Yogyakarta (PSKY), serta pengembangan Terminal Penumpang Giwangan, target menghidupkan ekonomi kawasan selatan Jogja itu bisa direalisasikan secepatnya.

Di bagian lain, nuansa Jawa mewarnai upacara HUT Pemkot Jogja ke 62 di Halaman Balai Kota Jogja kemarin. Para pejabat, dan karyawan Pemkot Jogja mengenakan pakaian Jawa (Gagrak Ngayogyakarto). Pun juga tata laksana upacara menggunakan Bahasa Jawa, dan iringan gending-gending Jawa. Meskipun, Wali Kota Jogja Herry Zudianto menyampaikan pidatonya dalam Bahasa Indonesia.

Kepada ratusan karyawan dan pejabat yang hadir, Herry meminta komitmen semuanya untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Dan itu, lanjut Herry, bisa dilakukan dengan meningkatkan tanggungjawab dan empati kepada masyarakat. "Saya harap semua bisa meningkatkan responsibilitas terhadap kebutuhan masyarakat," harapnya.

Bagi sebagian peserta upacara, terutama yang bukan berasal dari Pulau Jawa, memakai pakaian Jawa punya kesan dan makna tersendiri. Buktinya, meskipun terlihat serasi memakai pakaian Jawa lengkap dengan keris di pinggangnya, Ketua KPU Kota Jogja Nasrullah cukup kerepotan saat harus memakai pakaian khas Jawa itu. "Makainya memang tidak lama. Tapi, cari pinjamannya yang lama. Sebab, saya harus putar-putar mencari persewaan," aku Nasrullah yang berasal dari Sumatera ini.(din)

Posted by Wawan Kurniawan on 18.30. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented