|

Prioritaskan Maintenance Pesawat Angkutan

Tambahan Anggaran TNI AU
RADAR JOGJA - SLEMAN- Kasus jatuhnya pesawat milik TNI yang beberapa kali terjadi tahun ini, sering disebut akibat kondisi pesawat yang tidak layak pakai. Puluhan nyawa prajurit pun melayang sia-sia. Melayangnya nyawa prajurit akibat pesawat tak layak pakai ternyata terjadi sejak zaman perjuangan. Bedanya, kecelakaan yang sering terjadi belakangan ini justeru menimbulkan pertanyaan soal kesiapan dan kualitas Alutsista TNI.

Sedangkan jatuhnya pesawat dalam Operasi Pertama AURI pada tanggal 29 Juli 1947 berhasil meski memakan korban. Hingga sekarang, tanggal terjadinya peristiwa itu diperingati sebagai Hari Bakti TNI Angkatan Udara. Saat itu tiga orang Kadet Penerbang, Mulyono, Sutarjo Sigit, dan Suharnoko melakukan aksi heroik dengan menyerang kedudukan Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga.

Aksi nekat itu dilakukan para pelopor dan perintis TNI AU itu menggunakan pesawat Jepang Dakota VT-CLA yang rusak, dan telah diperbaiki. Aksi itupun berhasil, meski pesawat yang ditumpangi para pejuang tanpa diuji kelayakannya. Keberhasilan aksi itu dibayar dengan jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di Desa Ngoto, setelah ditembak oleh pasukan Belanda. Para pelopor dan perintis TNI AU pun gugur. Setidaknya, kronologis sejarah yang dikenal dengan perang Maguwo itu menjadi narasi dalam upacara peringatan ke-62 Hari Bakti TNI AU di Lapangan Dirgantara Komplek Akademi Angkatan Udara, Maguwoharjo, kemarin (29/7).

Banyaknya kasus pesawat jatuh itulah yang mendorong jajaran TNI AU lebih memprioritaskan penambahan anggaran pertahanan sebesar kurang lebih 15 persen atau sekitar Rp 7 triliun, untuk kebutuhan pemeliharaan dan perawatan Alutsista. Bukan pengadaan alutsista baru. "Anggaran kan masih harus dibagi tiga matra. Tambahan anggaran kami prioritaskan untuk maintenance pesawat angkutan dan transportasi. Tapi, pesawat lain (tempur) juga ditingkatkan kesehatannya," ujar Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Subandrio usai menjadi inspektur dalam upacara peringatan Hari Bakti ke 62 TNI AU. Dengan kenaikan anggaran tersebut, lanjut Subandrio, kesiapan pesawat TNI AU bisa naik antara 10 persen hingga 15 persen. Hanya saja, Subandrio belum bisa menargetkan kesiapan pesawat untuk operasional. "Maintenance kan tergantung uang. Jadi nggak bisa langsung. Kalau besok ada uang, ya langsung dibelanjakan," terang jenderal berbintang empat itu.

Kadispenau Marsma TNI Bambang Soelistyo menambahkan soal keterbatasan anggaran petahanan juga mengakibatkan tiap skuadron TNI AU mengalami kekurangan pesawat tempur. "Idealnya satu skuadron ada 16 pesawat. Tapi dengan 12 pesawat pun bisa dibilang siap. Soal penambahan pesawat kami tidak bisa menargetkan karena anggaran terbatas," ujarnya.

Pada bagian lain, terkait rencana pemindahan bandara dan lanud Adi Sutjipto dari Maguwo ke Gunung Kidul, mengatakan menyerahkan sepenuhnya pada pemerintah daerah. Hanya saja, saat ditanya mana yang harus dipindahkan, pernyataan perwira tinggi bintang satu menyiratkan agar lanud tetap dipertahankan di Maguwo. "Maguwo ini sangat bernilai historis. Bukan hanya untuk TNI AU. Kalau sampai hilang, makna penghormatan terhadap pelopor akan berkurang. Jangan sampai peninggalan sejarah dihilangkan," katanya.

Turut hadir dalam upacara Hari Bakti Ke-62 TNI AU, Gubernur DIJ Hamengku Buwono X, Ketua Pepabri Agum Gumelar, Mantan KSAU Marsekal (purn) TNI Herman Prayitno, Gubernur AAU Marsda B.S Silaen, Danlanud Adi Sutjipto Marsma Hari Muljono, Kapolda DIJ Brigjen Polisi Sunaryono, Danrem Kol CZT Soepeno, dan Danlanal Kolonel Laut (Pelaut) Soetarmono.

Upacara dipimpin oleh Kol. Pnb. Dedi Permadi dan diikuti oleh Korps Musik Lanud Adi Sutjipto, 1 kompi pasukan perwira menengah dan perwira pertama, 2 kompi karbol, 1 kompi paskhas, 2 kompi bintara dan tamtama, serta 1 kompi PNS di lingkungan TNI AU. Usai upacara, dilanjutkan devile pasukan dan displai Drumband Gita Dirgantara Karbol AAU. Acara dilanjutkan wisuda purna wira di Gedung Handrawina. Wisuda purna wira adalah kegiatan rutin bagi setiap perwira tinggi yang masuk masa pensiun. Dimana mantan KSAU Marsekal (purn) TNI Herman Prayitno menjadi salah seorang wisudawan. (yog)

Posted by Wawan Kurniawan on 15.42. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented