|

Wisudawati Pascasarjana Kedokteran Hewan UGM Peraih IPK 4,00

Disamping Ngurus Anak, Juga Sering Baca Jurnal-Jurnal Terbaru
Berada jauh dari keluarga, toh bukan menjadi kendala untuk meraih ilmu dan cita-cita-cita setinggi langit. Bahkan justru bisa memotivasi diri untuk menjadi yang terbaik. Dan meski bidang studi yang diambilnya tergolong cukup sulit, tapi Drh. Sri Utami M.Sc mampu merampungkan program pascasarjananya di Fakultas Kedokteran Hewan UGM dengan IPK 4,00

Kegembiraan sekitar 1273 wisudawan/wisudawati Program Pascasarjana UGM Periode IV Tahun Akademik 2008/2009 tergambar jelas Selasa (28/7) lalu. Bagaimana tidak, masa studi yang mereka tempuh sekitar 2 tahun lebih sudah terlampui dengan baik. Dan diantara ribuan wisudawan itu, Sri Utami adalah salah satunya yang diwisuda di hari itu. Ibu 2 putra ini patut berbangga. Karena namanya masuk dalam daftar 157 wisudawan berpredikat cumlaude dan 7 diantaranya mendapat IPK 4,00 dari berbagai fakultas. Apalagi dari Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan UGM, hanya dirinya yang mampu mencapai nilai tertinggi itu.

Semuanya berawal dari profesinya sebagai dokter hewan karantina di Balai Besar Karantina Pertanian Makassar. "Motivasi utama saya mengambil kedokteran hewan adalah karena ilmu kedokteran hewan berpeluang untuk dikembangkan. Hal ini bisa dilihat dari aspek kesehatan hewan dan keamanan produk-produk pangan asal hewan belum banyak diperhatikan masyarakat," jelas Sri Utami. Padahal, sambung Sri, keseharian kita selalu berhubungan dengan pangan asal hewan seperti ayam, telur, daging dan susu. "Kalau produk-produk itu tidak sehat, maka kita mendapat asupan gizi protein hewani dari mana? Semua aspek kesehatan manusia juga banyak berhubungan dengan hewan dan produk asal hewan. Contohnya penyakit flu burung, flu babi, rabies dan anthraks semua berhubungan dengan hewan," terangnya.

Dan karena profesi serta kepeduliannya akan berbagai aspek itu, maka Sri Utami mendapat sponsor beasiswa dari Departemen Pertanian bagian pengembangan sumber daya manusia pertanian. Menurut Sri, dari segi nominal, beasiswa yang diterimanya lumayan besar. Bahkan pihak Dinas juga sudah menyediakan segala kebutuhannya, muilai dari SPP, biaya operasional, biaya buku, biaya hidup, dan sebagainya. "Oleh karena itu saya sangat bersyukur mendapat kesempatan ini dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Departemen Pertanian," katanya.

Beasiswa yang diperolehnya itu tak disia-siakan begitu saja oleh alumnus Kedokteran Hewan Unair ini. Bersama dengan 2 orang buah hatinya, tahun 2007 dia berangkat ke Jogja untuk mengambil program masternya. "Saya kost di Jl. Pandega Tamtama CT 8/108 B. Beruntung ibu kostnya baik banget, karena saya boleh membawa kedua anak saya. Saya enjoy sekali tinggal di Jogja, karena kota ini ramah dan bersahabat. Beli makan juga murah," ungkapnya. Menurut Sri, kedua anaknya sengaja dia bawa serta sebagai penambah motivasinya belajar agar cepat selesai. "Keluarga memang ada di Makassar. Tapi setiap 2 bulan sekali ketemu gantian, saya pulang ke Makassar atau keluarga yang ke Jogja," tambahnya. Hasil pengorbanannya jauh dari keluargapun tak sia-sia. Sri Utami sukses menggapai gelar S2 nya hanya dalam waktu 1 tahun 7 bulan dengan nilai sempurna. Masa studinya ini dia tempuh lebih cepat dibanding rata-rata studi yang 2 tahun lebih.

Lantas apa saja kiatnya bisa sukses dalam belajar? "Simple aja sih. Pertama, saya selalu mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa. Selalu minta perlindungan dan pertolonganNya. Kedua, karena tujuan kita ke Jogja belajar, ya saya membatasi kegiatan-kegiatan di luar aktivitas belajar. Karena begitu pulang kuliah, anak sudah nunggu di kost," papar wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1976 ini. Apalagi, sambung Sri, pembantunya pulang sore dan selebihnya ia harus mengurus keperluan anaknya seorang diri. "Namun begitu, agar nilai kita baik, yang paling penting adalah rajin membaca. Utamanya jurnal-jurnal terbaru untuk meningkatkan wawasan dan literatur, sehingga dalam pembuatan tugas-tugas dari dosen bisa lebih berbobot.

Dan itu memang dibuktikannya pada tesis yang dibuatnya. Tidak hanya berbobot, tapi hasil tesisnya bermanfaat bagi masyarakat luas. "Kebetulan waktu itu, saya mengambil tema Seroepidemiologi dan identifikasi virus rabies pada anjing di kota Makassar," kata Sri. Dikatakan Sri, ada beberapa alasan mengapa ia mengambil tema tersebut. Pertama adalah Makassar sebagai salah satu Kota di Propinsi Sulawesi Selatan merupakan daerah endemis / terjadi kasus penyakit Rabies pada anjing. Setiap tahun terjadi kasus gigitan anjing pada manusia cukup tinggi, dengan angka kematian 50-80% dari jumlah kasus gigitan. Kedua adalah tingginya kejadian penyakit Rabies di kota Makassar kemungkinan disebabkan karena rendahnya tingkat kekebalan anjing-anjing di Kota Makassar terhadap Rabies. Sehingga hal ini menyebabkan tingkat penularan rabies pada anjing melalui gigitan tinggi. Oleh karena itu perlu dikaji seberapa besar jumlah anjing-anjing di kota Makassar yang memiliki kekebalan untuk menangkal infeksi Virus Rabies. "Selain itu, saya ingin mengetahui/ mengidentifikasi virus rabies pada anjing liar, sehingga dapat menggambarkan seberapa besar kemungkinan anjing liar sebagai pembawa virus rabies," paparnya.

Hasil penelitiannyapun cukup mencengangkan, yaitu menunjukkan tingkat kekebalan anjing-anjing di kota Makassar sangat rendah (hanya 19% dari populasi). Padahal menurut organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) suatu daerah akan terlindungi dari infeksi rabies, jika anjing-anjingnya memiliki tingkat kekebalan minimal 70%. Program surveilance tingkat kekebalan anjing perlu dilakukan secara periodik di semua daerah dalam rangka monitoring dan pencegahan kejadian rabies. "Sehingga apabila diketahui tingkat kekebalan rabies di suatu daerah rendah perlu digalakkan program vaksinasi massal terhadap anjing untuk mencegah penyebaran rabies pada hewan dan manusia," lanjutnya.

Tak heran,bila kemudian Sri merasa beruntung bisa kuliah di UGM. "UGM mempunyai bidang studi yang lebih bervariasi. Dan memang telah ditunjuk oleh Departemen Pertanian sebagai salah satu perguruan tinggi bermutu untuk diajak bekerja sama," jelasnya. Sehingga Sri mengakui bahwa ilmu yang ia peroleh selama studi S2 di UGM, sangat bermanfaat untuk pengembangan skills dan pengetahuan di kantor. Karena salah satu tugas pokoknya di Karantina adalah melakukan surveilance suatu penyakit di wilayah kerjanya setiap tahun. Sehingga ke depan diharapkan dapat melakukan pengambilan sampel secara representatif yang menggambarkan keadaan populasi sebenarnya.

Kendati demikian, Sri mengaku belum puas dengan ilmu yang dimilikinya saat ini. "Kalau ada sponsor, saya sangat ingin melanjutkan S3. Saya punya mimpi ingin melanjutkan studi ke luar negeri dengan biaya dari negara asal/ scholarship. Mudah-mudahan bisa," paparnya. Menurut Sri, di era saat ini, wanita memang dituntut memiliki intelegensi dan skill memadai untuk berperan di bidangnya. "Apalagi wanita mempunyai tugas mendidik anak. Jadi kita harus pintar supaya kualitas generasi bangsa juga meningkat dan tidak kalah dengan negara asing," terangnya. (*)

VENNY MAYA D, Jogja

Posted by Wawan Kurniawan on 19.33. Filed under , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented