|

Festival Upacara Adat Akan Digelar

RADAR JOGJA - Untuk pertama kalinya di Jogja, sebuah peristiwa budaya yang langka mengangkat berbagai upacara adat yang dipertunjukkan dalam sebuah kemasan atraksi budaya dengan koreografi yang menarik.

Kegiatan ini adalah untuk memperkuat nilai-nilai kearifan lokal, pewarisan semangat pelestarian pada generasi muda, mendukung ruang ekspresi budaya bagi kaum adat, meningkatkan kualitas dan tampilan upacara adat yang akan menjadi atraksi budaya rutin tahunan serta menunjang kepariwisataan di Jogjakarta.

Dalam jumpa pers dengan media di Dinas Kebudayaan DIJ, Rabu (25/11) kemarin, Djoko Dwiyanto selaku Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi bahwa rangkaian kegiatan ini adalah salah satu puncak kegiatan upaya pelestarian adat.

"Upaya pelestarian ini dimaksudkan agar penggarapan upacara adat agar memenuhi standar, agar upacara adat itu nantinya bisa diselenggarakan sebaik-baiknya, tidak berlebihan dan tetap pada ruhnya. Maka dari itu akan diadakan penilaian. Tetapi, harap dicatat ini bukan sebuah perlombaan," jelas Djoko.

Meski begitu, para peserta tetap diberi batasan yang terkait dengan kriteria masing-masing, sebab upacara adat ini tidak bisa disamaratakan. Akan dipilih lima penyaji unggulan yang akan mendapatkan tropi yang masing-masing bertuliskan Mbah Marijan (Mas Kliwon Surakso Hargo), RP Surakso Tarwono, Mas Ngabehi Rekso Laksono, Ki Empu Djeno Harum Brojo dan Ki Aryo Djuru Permono.

Keseluruhan ritual adat yang dipagelarkan adalah yang berhubungan eksistensi air (laut), bumi (tanah) dan gunung (api). Pelaksanaan upacara adat sendiri merupakan perwujudan jati diri masyarakat Jawa dengan karakter yang relijius, memuja Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa dengan ubarampe atau simbol-simbol yang memiliki makna, jadi bukan sebagai hal yang saat ini banyak dipersepsikan sebagai hal yang musyrik atau berlebihan karena tidak mengetahui arti filosofis yang dikandungnya.

Hal lain yang menarik adalah bagaimana menyaksikan upacara adat yang langka, jarang kita dengar, apalagi disaksikan oleh generasi muda, namun tetap eksis di pelosok pedesaan, di antaranya seperti Tuk Sibedug dan Bekakak (Sleman), Babad Dalan dan Cingcing Goling (Gunungkidul), Nawu Enceh dan Maheso Suro (Bantul), Wiwitan dan Nawu Sendang (KulonProgo), serta Ruwatan dan Merti Code (Jogja) akan ditampilkan dengan pelaku-pelaku dan properti aslinya.

"Nantinya, festival ini akan digelar di tengah-tengah kota, tetapi bukan berarti festival ini adalah upaya memindahkannya ke Alun-Alun Utara, tetapi sebagai promo bahwa kita punya bermacam-macam upacara adat. Sebab penyelenggaraan upacara adat sendiri memiliki waktu dan tempat tertentu," lanjut Djoko.

Rencananya Festival Upacara Adat ini akan diselenggarakan pada hari Minggu (29/11). Acaranya sendiri akan dibuka oleh Gubernur Propinsi DIJ, Sri Sultan Hamengku Buwono X mulai jam 14.00 WIB dan acara ini terbuka untuk umum.

Bertempat di Alun Alun Utara diawali pentas repertoar tari yang menjadi representasi ekspresi ritual selanjutnya diikuti oleh ratusan peserta upacara adat dari 5 daerah kabupaten & kota se-DIJ, yang masing-masing mengutus 2 kontingen. Peserta kemudian mendemokan upacara adat tersebut di Alun Alun Utara untuk kemudian melaksanakan pawai Kirab mengelilingi Beteng Kraton - dari Kantor Pos besar kebarat - Jl. KHA Dahlan - Jl. Wahid Hasyim - Jl. MT Haryono - Jl. Sutoyo - Jl. Katamso - kembali ke Alun Alun Utara. (isa)

Posted by Wawan Kurniawan on 17.18. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels