|

Jadi PNS, Mau?

Pegawai Negeri Sipil, siapa yang tidak berminat? Salah satu yang menggiurkan tentu saja tunjangan hari tua. Meski sudah pensiun, penghasilan tetap masih bisa dinikmati setiap bulannya.

Tentu kondisi ini berbeda saat periode tahun 70an silam. Kala itu, status PNS menjadi pilihan nomor belakang bagi pencari kerja. Gaji yang minim dengan fasilitas yang kalah jauh dengan pegawai swasta, membuat profesi itu tidak dilirik. Bukan rahasia bila kala itu guru-guru lebih suka mengajar di sekolah swasta ketimbang sekolah negeri. Kini, kondisi itu berbalik 180 derajat. Seiring waktu berjalan, kesejahteraan PNS, terutama guru dan tenaga medis makin meningkat. Di sisi lain, iklim investasi yang buruk dan krisis global semakin mendera sektor swasta hingga banyak terjadi PHK massal. Pada akhirnya, menjadi PNS adalah impian hampir setiap orang di negeri ini.

"Jadi PNS itu impian semua orang. Termasuk saya sendiri," kata Widi Mulyanto, 25, salah satu PNS di Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Gunungkidul. Sejak lulus SMA tahun 2003 silam, ia sengaja tidak kuliah demi menjadi tenaga honorer di kantor Pemkab Gunungkidul. Widi, panggilan akrabnya, baru diangkat sebagai PNS pada awal 2009 lalu. Bahagia? tentu saja. "Rasanya hidup saya menjadi terjamin. Hingga hari tua nanti ada penghasilan yang dipastikan," ujar dia. Bergaji sedikit pernah ia rasakan saat menjadi tenaga honorer. Awal ia bekerja, Widi mengaku bergaji 150 ribu. Meski bergaji minim, ia tak pernah mengeluh. Widi tetap melakoninya demi mendapatkan status PNS. Gajinya sempat naik hingga tiga kali. Gaji terbesar saat ia masih berstatus pegawai honorer, adalah 500 ribu. Setelah diangkat menjadi PNS golongan 2A, gaji itu naik sekitar 50 persen. "Sekarang sudah naik," ujarnya tersenyum.

Mendapat tunjangan dan pensiun atau jaminan hari tua, nampaknya juga dipakai sebagai motivasi oleh para mahasiswa yang baru lulus. Bagi mahasiswa yang baru lulus, bisa dipastikan kegiatan pertama kali yang dilakoninya adalah mencari informasi lowongan PNS, entah di instansi pusat maupun di Pemerintah Daerah. "Sejak lulus kuliah hingga sekarang, setiapkali ada pembukaan CPNS, saya ikut," kata Sridhan, 25, alumnus Fisipol UGM. Sri, panggilan akrabnya, lulus kuliah sejak 2008 lalu. 5,5 tahun ia habiskan untuk menuntut ilmu di bangku kuliah. Meski sudah bekerja menjadi karyawan swasta, namun Sridhan tetap bermimpi untuk menjadi PNS. Sejak lulus hingga sekarang, sudah 6 kali ia mendaftar menjadi PNS. "Namun belum diterima. Mungkin belum rezeki saya," ujarnya.

Lain pula Yanto, 25. Bagi Yanto, lulusan Fakultas Hukum UGM tahun 2006, menjadi PNS tidak cuma memimpikan jaminan hari tua. Ia juga ingin mendapat tempat di hati masyarakat dengan statusnya itu. Untuk itu, Yanto, warga kecamatan Ponjong itu sengaja membidik status PNS di jalur militer. "Saya bercita-cita menjadi Polisi atau tentara," katanya. Yanto memiliki fisik yang mendukung. Badannya besar dan berotot karena rajin berolahraga. Sejak lulus tiga tahun silam hingga sekarang, sudah 5 kali ia mendaftar diri untuk cita-citanya itu. Namun apa daya, ia selalu tercecer saat tes terakhir. "Kalau dihitung, saya sudah lima kali mendaftar militer. 3 kali Akpol, 2 kali Tentara. Tapi belum keterima. Tahun ini saya mendaftar lagi. Bulan depan ada tes lanjutan. Doakan saya!," ujarnya meminta semangat menirukan dialog film-film jepang.

Banyak orang yang ingin sekali bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, tidak semua orang bisa masuk. Harus kita akui motif dasar jadi PNS seperti ketiga pemuda itu, yakni rasa "aman" secara ekonomi karena mendapat gaji rutin setiap bulan, ada benarnya juga. Biaya hidup dijamin oleh negara secara rutin. Walaupun jadi PNS belum tentu bisa kaya karena gaji yang pas-pasan tetapi posisi PNS tetap paling aman disegala kondisi. Disisi lain, tatanan sosial paternalistik dengan konsep pemikiran ala feodal, cenderung mempengaruhi pola pikir masyarakat. Jangan heran, sering ada anggapan bahwa orangtua belum bisa dikatakan berhasil jika anaknya belum jadi PNS. Ironis memang. (hsa)

Posted by Wawan Kurniawan on 17.53. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels