|

Keberlanjutan Media di Era Cyberspace

Pembaca Muda Perlu Digaet sebagai Pembaca Koran
RADAR JOGJA - Tantangan bagi media massa, terutama media cetak, di era cyberspace terus berkembang. Media harus menjaga independensinya dari kooptasi pemilik modal, elite politik, dan negara. Tidak hanya itu, media juga menghadapi tantangan dari ajegnya jumlah pembaca.

Dari tahun ke tahun, jumlah media cetak sangat dinamis. Tahun 1997, terdapat 287 media cetak di Indonesia. 1999, setelah reformasi, jumlahnya membludak hingga 852 media cetak. Tahun 2006, jumlahnya menurun hampir setengahnya menjadi 852.

Jumlah media cetak yang naik turun itu, faktanya, tidak diikuti kenaikan jumlah oplah yang signifikan. Dari tahun ke tahun, jumlah pembaca media cetak cenderun stabil. Artinya, pembaca media cetak adalah para pembaca setia yang kebanyakan berusia tua. Generasi muda, sebaliknya, lebih suka menjelajahi internet untuk mengisi waktu dan aktualisasi diri.

"Itupun yang dibuka adalah situs pertemanan semacam facebook, bukan mencari tahu info terbaru dari media online yang ada. Kita perlu mewaspadai fenomena ini. Pola baca generasi muda kita perlu dibenahi. Tapi ini adalah fenomena global yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi merupakan fenomena global," ujar Thoriq Hadad, Pimpinan Redaksi Majalah Tempo di UGM kemarin (31/10).

Thoriq dan beberapa pentolan media massa di Indonesia datang ke MM UGM untuk mengisi seminar Media Massa di Era Cyberspace yang diselenggarakan Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Equilibrium. Dalam seminar nasional tersebut, salah seorang audien menanyakan fenomena rendahnya budaya baca Koran di kalangan kaum muda.

"Sekarang, update informasi lewat HP dan jaringan internet memang lebih ngetren. Karena itu, media online sebenarnya masih menjadi investasi. Tapi harus dilihat juga, apakah para pembaca cukup kritis?" ujarnya.

Keterlibatan generasi muda dalam keberlanjutan media massa memang menjadi salah satu keprihatinan. Tidak hanya sebagai pembaca, sumbangsih generasi muda dalam menghidupkan media massa juga minim.

"Saya selalu menekankan dan mengajak para mahasiswa untuk menulis. Menuli di Koran dan menyuarakan opini mereka terhadap permasalahan yang ada saat ini. Ini perlu dilakukan agar masyarakat tahu ada banyak ide dari dunia kampus," paparnya.

Minat terhadap dunia jurnalistik juga seringkali muncul dari kalangan dengan latar belakang non-jurusan komunikasi. "Lha ini, seminar tentang media massa malah yang mengadakan FEB. Banyak juga wartawan yang latar belakangnya bukan jurusan jurnalistik. Ada yang dokter hewan, pertanian, atau kehutanan," katanya.

Dewan Redaksi Media Group Djadjat Sudradjat mengungkapkan, menarik minat generasi muda sebagai pembaca koran harus dilakukan dengan cara menarik. Melibatkan para siswa sekolah, baik SMP maupun SMA untuk mengisi halaman di Koran bisa menjadi salah satu cara menggaet para pembaca muda.

"Kalau mereka sudah merasa dilibatkan, ketertarikan akan timbul. Hanya saja, itu tidak bisa dilakukan sekali dua kali saja, tetapi harus rutin. Misalnya menyediakan halaman bagi mereka setiap minggunya. Yang mengisi dan menulis adalah mereka," katanya.

Menghadapi tantangan yang semakin tinggi, media massa harus terus berbenah. Departemen penelitian dan pengembangan (Litbang) adalah salah satu elemen terpenting yang menentukan arah media massa.

"Mencari berita di lapangan seharian bisa kita jalankan. Tapi setelah itu mau diarahkan kemana? Kita membuat berita tujuannya apa? Manfaatnya untuk siapa? Salah satu manfaat terbesar Litbang adalah memandu arah kita," ungkap wakil pimpinan redaksi Lampung Post itu.

Thoriq menambahkan, upaya pengecekan ulang setiap berita juga penting dilakukan karena pengecekan ulang menunjukkan kredibilitas media. "Berita yang naik cetak setelag dicek empat kali tentu lebih baik daripada berita yang hanya dicek satu kali. Semakin banyak pengecekan, semakin baik," paparnya.

Keberlanjutan media, selain mengandalkan kualitas media itu sendiri, banyak bergantung pada factor lain. Posisi tawar media massa dewasa ini dinilai lemah bila dibandingkan dengan pemilik modal dan para elite politik.

"Apalagi terhadap iklan. Iklan kampanye para politikus misalnya, ramai mewarnai media massa kita, baik nasional maupun local," ujarnya.

Selama seminar sesi pertama berlangsung, ketiga narasumber yaitu Djadjat Sudradjat, Thoriq Hadad, dan Octo Lampito banyak audien yang mempertanyakan upaya media massa mempertahankan independensi.

Tidak hanya mempertanyakan, beberapa penanya bahkan menunjukkan sikap skeptis terhadap independensi media saat ini. Salah seorang audien dari SKM Bulaksumur Post misalnya, menanyakan tentang kinerja netralitas media menyikapi sebuah isu.

Mengomentari pertanyaan tersebut, Thoriq menjawab tidak ada media yang netral. Hal terbaik yang bisa dilakukan media adalah mempertahankan independensi dan menunjukkan keberpihakan dengan caranya sendiri.

"Kita menyeleksi isu. Ketika kita memutuskan mengembangkan isu itu, artinya kita sudah menunjukkan keberpihakan. Tidak lagi netral, tapi subyektif. Namun, setiap media punya pandangan sendiri tentang itu," paparnya.

Dalam sesi kedua, hadir Ketua PWI Jawa Timur Dimam Abror, dan Dirut Trans 7 Ishadi SK. Abror membenarkan media massa tidak bisa lepas dari pengaruh di sekitarnya. Organisasi media melakukan fungsinya di bawah tekanan berbagai kekuatan eksternal seperti klien, pemasang iklang, competitor, sampai pengamat.

"Isi media merupakan produk dari tawar menawar dan kompromi antara kebijakan redaksional dan redaksi strategis bisnis organisasi medianya," papar pimpinan redaksi Surabaya Post ini.

Isi media, dengan demikian, tidak hanya mencerminkan realitas sosiologis, tapi juga mereprensentasikan kepentingan di sekitar media atau peristiwa tersebut. Meski demikian, menciptakan jurnalisme obyektif diyakini tidak mustahil. 'Pada dasarnya, proses kerja jurnalistik bisa diukur dengan nilai obyektif. Misalnya pemisahan fakta dan opini," katanya. (luf)

Posted by Wawan Kurniawan on 19.49. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels