|

Kejahatan Seks di GK Tertinggi

WONOSARI: Kabupaten Gunungkidul menempati teratas di DIY terkait meningkatnya kasus kejahatan seksual menimpa remaja putri. Dari data kasus pada 2008 dari 300 kasus yang ada di DIY didominasi Kabupaten Gunungkidul dibanding kabupaten lain.

Ironisnya, kecenderungan kasus kejahatan seksual yang ditemukan mulai menunjukkan adanya gejala permisifi tas perilaku seksual di kalangan remaja baik pelaku maupun korban. Catur Udi Handayani, Manager Divisi Pendampingan LSM Rifka Annisa Jogja mengidentifi kasi gejala permisifi tas perilaku seksual di kalangan remaja akibat pengaruh dari luar seperti di antaranya gambar-gambar dan tayangan media massa, dorongan teman sebaya, lingkungan dan belum mema dainya informasi dan pendidikan seksualitas dan kesehatan reporduksi di kalangan remaja.

”Dari beberapa faktor tersebut mendorong kalangan remaja dominan memiliki anggapan pemikiran seks sudah lumrah sekaligus menjadi model atau gaya hidup,” kata Catur kepada Harian Jogja di sela acara diskusi Forum Hukum dan Psikologi Riska Annisa dengan kalangan siswa pelajar, guru, pemerhati remaja dan Pemkab Gunungkidul berlangsung di Wonosari, kemarin.

Dengan minimnya pemahaman dan pendidikan seks di kalangan remaja saat ini mendorong perilaku seks bebas. Apalagi tidak adanya langkah konkret dari semua pihak menumpuhkan pandangan seks dianggap sebagai cara pergaulan yang modern. Tak heran dengan minimnya pendidikan seks dikalangan anak dan remaja ini juga membuat kebingungan bagi kalangan guru untuk menjelaskan jawaban secara tepat setiap kali muncul pertanyaan di kalangan siswa di bawah umur.

Langkah antisipasi Setidaknya, seperti yang sering dialami tenaga guru Pendidikan anak usia dini yang sudah sering melempar pertanyaan tentang proses pembuahan dan penyebab kehamilan. ’Karena saya kebingungan memberikan jawaban kepada anak usia dini maka saya terpaksa menipu anak itu bahwahamil itu dibuat Tuhan,” kata Endang Sur yati selaku tenaga pendamping Paud di Wareng kecamatan Wonosari.

Ia menilai anak usia dini yang sudah mulai mempertanyakan seks ini disebabkan karena masih seringnya anak tidur dengan kedua orang tuanya dan secaratak sadar menyaksikan seks orang tuanya tanpa dibarengi dengan pemahaman dan pendampingan orangtua untuk memperkenalkan makna secara sehat dan tepat. Dewi Wahid, dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan KB mengatakan perlu upaya bersama semua pihak untuk melakukan berbagai langkah antisipasi termasuk keterbukaan orang tua terhadap anak. (Endro Guntoro)

Posted by Wawan Kurniawan on 04.21. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented