|

Kembalikan Jazz ke Rumah

BANTUL: Ngayogjazz ke 3 dengan mengangkat tema Jazz Besuki Mawa Beya memang telah berlangsung sejak Jumat, 20 November lalu di Tembi Rumah Budaya. Namun untuk penampilannya di atas panggung baru dibuka oleh Wakil Bupati Bantul Sumarno, Sabtu (21/11) di Pasar Seni Gabusan, Bantul.

Ada sekitar 76 musisi asal Indonesia maupun dari luar negeri seperti Malaysia dan Austria mengisi acara malam di Pasar Seni Gabusan ini. Meski sempat hujan, alunan musik jazz menjadi dapat menghangatkan suasana malam yang dingin.

Pada pukul 18.30 WIB, di panggung Condrolukito penampilan I Wayan Sandra & Sonoseni Essamble menarik perhatian ratusan penonton di Pasar Seni Gabusan, Bantul. Dari empat lagu yang dibawakan mereka menyita mata dan telinga pengunjung malam ini yang diiwarnai turunnya hujan. Usai penampilan mereka ini, dilanjutkan Albert Yaph & BassGroove 100. penampilan cukup menawan dengan dominasi betotan bass.

Alberth Yaph sang pemimpin ternyata benar-benar ingin berkontribusi tak sekadar bermain asal saja.

Acara kembali bergulir dengan tampilnya Philosophy. Bintang Indrianto, Arief Setyadi, dan Gerry Herb Egrang tak hanya bermain memikat.

Bukan itu saja, ternyata Dewa Budjana naik ke atas panggung usai lagu pertama dan langsung nge-jam session bersama.

Sebelum pentas, Dewa Budjana menyampaikan kerinduannya akan penampilan yang spontanitas. Hal ini ternyata dibuktikan oleh Dewa Budjana saat berkolaborasi dengan Sonoseni Essamble.

“Sebenarnya aku ingin sekali bermain bersama seperti ini, spontanitasnya. Kerinduan bermain seperti ini sudah aku tunggu-tunggu sejak diundang di Ngayogjazz pertama dulu. Baru Ngayogjazz ke 3 ini baru bisa terwujud,” ujar Dewa Budjana sebelum pentas.

Pentas dialihkan di panggung Kusbini. Penampilan Purwanto & Kua Etnika menjadi penghibur pertama. Selanjutnya akan ada Dwiki Dharmawan berduet dengan Dewa Budjana. terakhir akan ditutup oleh penampilan Tilung.

Nilai lebih
Pada sore sebelumnya, Sumarno mengatakan seharusnya yang membuka acara adalah Bupati Bantul, Idham Samawi namun Bupati berhalangan hadir karena ada acara di Bali. Dalam sambutannya Bupati, yang dibacakan Sumarno mengatakan hadirnya musik jazz di pedesaan memberikan apresiasi hiburan yang menarik pada masyarakat Bantul terlebih untuk menikmati musik jazz lebih dekat.

“Hal ini memberikan pengalaman baru bagi pelaku seni di Bantul melalui kolaborasi musik jazz dan seni tradisional Bantul. Saya berharap ajang silaturahmi budaya memberikan dinamika seni dan sosial yang harmonis di antara keduanya,” ujar Sumarno.

Lebih lanjut, Sumarno berharap acara serupa dapat diadakan kembali pada tahun berikutnya dengan lebih baik lagi.

Sedangkan Pengada Acara, Djaduk Ferianto sempat mengatakan bahwa acara semacam ini memiliki nilai lebih bagi masyarakat Bantul dan pelaku musik jazz. “Yang jelas mengembalikan musik jazz pada kondisinya semula, bahwa musik jazz memang berawal dari desa,” kata Djaduk.

Seperti Djaduk, Presiden Organisasi Festival Jazz Internasional, Fritz Thorm yang secara khusus datang malam ini mengatakan bahwa peristiwa ini memang mengembalikan musik jazz pada rumahnya. Orang yang ingin datang bisa gratis untuk menikmati suguhan musik jazz.

“Jika di luar acara ini mungkin anda akan mengeluarkan ongkos lebih mahal untuk melihat pertunjukan musik jazz. Di sini benar-benar gratis tanpa ada pungutan biaya,” ujar Thom.

Thom melihat bahwa musik jazz di Indonesia, khususnya Jogja memang memiliki ciri khas yang sangat berbeda dengan Eropa atau bahkan Amerika. Dia mengatakan banyak aktivitas yang bisa dilakukan di luar panggung.

“Sebenarnya itulah jazz. Tak hanya performen di atas panggung saja menjadi identitasnya tapi diskusi yang dilakukan kemarin [di Tembi Rumah Budaya]. Berbicara musik jazz dengan cara berdiskusi,” ujar Thom.

Selain itu, Thom juga sangat setuju jika musik jazz di Indonesia memiliki karakter yang menyejukkan bukan memusingkan. ”Jika mendengarkan musik jazz di sini seolah musik itu kembali pada citranya, yakni musik rakyat,” tutup Thom.

Oleh Joko Nugroho
HARIAN JOGJA

Posted by Wawan Kurniawan on 18.24. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels