|

Warga Yogya Gelar "Tapa Bisu Mubeng Beteng"

Kompas Online - Ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya melakukan ritual "tapa bisu mubeng beteng" Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat menyambut malam pergantian tahun baru Jawa 1 Sura 1943 Je, Jumat dini hari.

Prosesi mengelilingi tembok keraton sejauh lima kilometer itu dilakukan warga dengan berjalan kaki tanpa berbicara, merokok, makan atau minum. Ritual budaya itu dilepas oleh adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Joyokusumo dari Bangsal Ponconiti, Keben, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada pukul 24.00 WIB.

Selanjutnya mereka berjalan kaki ke Alun-alun Utara menuju ke barat melalui daerah Ngabean, kemudian ke selatan menuju "pojok beteng kulon" (benteng sisi barat), dan berjalan ke timur menuju "pojok beteng wetan" (benteng sisi timur).

Peserta ritual yang terdiri orang tua dan remaja ini kemudian berjalan ke utara menyusuri Jalan Brigjen Katamso, dan selanjutnya belok kiri melalui Jalan Ibu Ruswo dan kembali ke Alun-alun Utara.

Rombongan peserta ritual membentuk barisan sepanjang sekitar 500 meter, dan mereka memadati sepanjang jalan yang dilewati. "’Tapa bisu mubeng beteng’ itu untuk memeringati tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan," kata kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Gunokadiningrat.

Ia mengatakan secara resmi pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak melakukan ritual tersebut. Namun, kegiatan itu dilakukan para abdi dalem keprajan dan punokawan yang mengabdi di keraton.

Seluruh abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki dengan membawa bendera atau panji. "Semua bendera atau panji merupakan lambang lima kabupaten dan kota di Provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), serta panji abdi dalem juga dibawa. Di depan barisan pembawa panji ada pembawa bendera negara RI yakni Merah Putih," katanya.

Sementara itu, seorang peserta ritual Sunardi (53) warga Berbah, Kabupaten Sleman, DIY mengatakan hampir setiap tahun dirinya mengikuti ritual "tapa bisu mubeng beteng", karena batin terasa tenang saat menjalani ritual ini.

"Saya selalu berjalan tiga kali putaran. Saya tidak merasa lelah karena sudah biasa," katanya, yang mengikuti ritual itu bersama beberapa orang.

Posted by Wawan Kurniawan on 18.46. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented