|

'Semoga 2010 dapat lebih ramai'

HARIAN JOGJA: Sejumlah pekerjaan rumah (PR), Pemkot Jogja masih belum terselesaikan di awal tahun. Masalah itu di antarnya Terminal Giwa ngan, penataan Alun-alun Kidul (Alkid), perparkiran serta penataan Malioboro. Di 2010, sejumlah harapan muncul dari komunitas di Giwangan, Alkid dan Malioboro.

Harapan besar mereka di tahun ini, semua masalah dapat terselesaikan sehingga mereka dapat menyongsong hidup dengan lebih baik. Pasalnya, jika tidak ada perubahan di tahun ini, imbasnya yang akan terkena juga masyarakat sendiri bukan hanya komunitas. “Terkadang dilematis. Kita dituntut untuk dapat membayar uang sewa kios. Sementara, pengunjung tidak terlalu banyak. Sebab itu, ya kita kadangkadang memberikan harga yang tinggi, tergantung orang itu tahu atau tidak,” ungkap Isti Raharjo (54), salah seorang agen bus di blok E. Kondisi tersebut hampir terjadi di setiap kios, baik agen tiket, penjaja makanan, kurir pengangkut koper, becak, maupun pedagang kelontong.

Sejauh Harian Jogja melakukan perjalanan di dalam Terminal Giwangan ongkos yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Untuk ongkos kurir pengangkut koper misalnya dalam sekali angkut bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp30.000, tergantung ringan atau beratnya barang.

Sementara untuk angkutan becak, meski jarak tidak terlalu jauh, kira- kira hanya 3 kilometer, harga yang dipatok juga bisa melambung. Pernah dalam suatu kesempatan Harian Jogja menggunakan jasa becak dari Terminal Giwangan hingga Jalan Panjaitan. Harian Jogja harus merogoh kocek sebesar Rp20.000. Saat ditanyai kenapa harganya terlalu tinggi, pengemudi becak mengaku terpaksa menerapkan harga itu, karena sulitnya untuk mendapatkan penumpang.

“Sudah dari malam, baru pagi ini saya mendapatkan penumpang,” jawabpengemudi becak tersebut. Saat itu, Harian Jogja menggunakan becak pada pukul 05.00 WIB, ketika habis melakukan perjalanan dari Surabaya. Belum lagi, sampai di agen tiket, calon penumpang dapat dikenai harga yang tinggi. “Ya seperti itu kondisinya. Makanya yang terpenting transaksi di awal. Kalau sudah harga jadi di awal, tentu keributan setelah itu tidak bakal terjadi,” ungkap Isti yang akrab dipanggil Pak Kent.

Humas Paguyuban Agen dan Perwakilan Bus Malam (Papbima) itu mengaku pernah memberikan harga tiket seharga Rp175.000, meski harga sebenarnya hanyalah Rp125.000. “Kalau orang sok tapi ndak tahu, bisa saja harga itu saya berikan,” ujar dia. Ditegaskannya, strategi itu digunakan agar dapat digunakan membayar kios. Kiosnya yang berukuran 2,5 meter x 4 meter tersebut seharga Rp85 juta, dibayar dengan cicilan selama 15 tahun. Dia telah membayar uang muka Rp20 juta.

Tiap tahunnya, ia mengangsur Rp700.000. Hal ini juga dialami oleh Sutarmi (35). Dalam sehari, ia mengaku tidak mesti mendapatkan empat kursi. Penghasilannya mulai berkurang tiga tahun sejak terminal tersebut berdiri. Dulu penghasilannya mencapai Rp600.000. Namun kini, hanya Rp250.000. Pendapatannya tersebut ia gunakan untuk membayar retribusi Rp1.000 tiap harinya dan listrik Rp24.000 dalam sebulan. “Penghasilan itu memang tidak cukup.

Keadaan in isaya rasakan tiga tahun setelah saya menempati terminal ini. Mungkin waktu itu, calon penumpang masih bingung mencari agen karena tempatnya yang luas. Saat ini calon penumpang sudah tahu mana tempat yang mudah dijangkau,” ungkap ibu tiga anak ini yang menempati blok M. Dia menempati blok yang jauh dari keramaian. Dia menjelaskan, awalnya di bloknya tersebut terdapat 10 agen, namun karena sepi kini tinggal 2 agen saja.

“Pada awalnya, PT Perwita Karya menyatakan kalau daerah yang saya tempati ini dekat dengan turunan para penumpang, namun kenyataannya tidak begitu,” kata dia. Sebab itu, hampir sama dengan agen lainnya, dia berharap blok penjual tiket di pindahkan ke lantai bawah, bukannya di lantai dua. ”Lebih strategis di bawah, sehingga kita tidak harus menyuruh pegawai kita untuk berlomba-lomba menghadang calon penumpang di bawah,” pinta dia.

Meski sulitnya mencari penghasilan di terminal, salah seorang pedagang makanan, Asyiyah (41) mengaku tetap bertahan. Dia adalah pihak kedua dalam menempati blok tersebut, karena pemilik mengaku tidak bisa berjualan di terminal. ”Pihak pertama mengaku kesulitan. Lantas saya beli Rp140 juta. Namun hingga kini ya pendapatan warung belum mampu menutupnya. Kalau dibanding ketika berjualan di Umbulharjo, pendapatan berkurang separonya dalam sebulan.

Semoga ke depan dapat lebih ramai,” jelas dia. Wakil ketua Papbima Antonius Sunarjo meminta agar Pemkot segera dapat melakukan penataan ulang. Kendati begitu, dirinya mengaku pesimis jika semua agen bus dapat dipindahkan seluruhnya ke bagian bawah, karena ruangan yang tersedia tidak memenuhi. Mantan Ketua DPRD Kota Jogja, Arif Noor Hartanto mendesak agar PT Perwita Karya dan Pemkot dapat mengimplementasi apa yang sudah disepakati, yakni tentang penunjukan tim appraisal.

Kendati dalam peraturan tersebut, Pemkot belum bisa melakukan layout atau penataan ulang, lanjut dia, Pemkot setidaknya mampu melakukan manajemen yang memungkinkan penumpang dapat melewati lantai dua, tempat agen tiket berjualan. “Selain itu, Pemkot juga sudah mampu mengupayakan agar pedagang kelontong atau batik dapat meningkat penjualannya. Keadaan ekonomi seharusnya dapat segera diselamatkan, “ ujar Arif yang sekarang duduk sebagai anggota DPRD DIY. (Andreas Tri Pamungkas)

Posted by Wawan Kurniawan on 15.52. Filed under , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented