|

Tiga Dusun Jadikan Percontohan Integrated Farming

RADAR JOGJA - KULONPROGO - Tiga dusun di desa Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo dijadikan percontohan untuk menerapkan program pertanian terpadu atau integrated farming yang didukung dengan sector peternakan. Ketiga desa yang dijadikan pilot project adalah dusun Mejing, dusun Klepu dan dusun Sentul. Harapannya dengan integrated farming petani yang ada bisa lebih berdaya dan mampu mandiri dalam mengelola usahanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Agus Langgeng Basuki mengatakan integrated farming ini merupakan program dari pemerintah provinsi di tahun 2009. Program pertanian terpadu ini mengkombinasikan sector pertanian dan peternakan. Dimana sisa hasil pertanian digunakan untuk makanan ternak, sedangkan kotoran ternak bisa dijadikan pupuk organik sehingga kedua bidang itu bisa saling mendukung.

"Ada lahan pertanian, kandang komunal dan rumah kompos yang dikelola oleh kelompok tani yang ditunjuk. Jadi para petani tidak hanya mendapatkan hasil dari satu bidang saja, tetapi mereka bisa lebih berdaya,"ujarnya di sela panen raya padi organik di dusun percontohan integrated farming di desa Banjaraum, Kalibawang kemarin.

Agus menuturkan dipilihnya tiga dusun ini karena mendasar dari potensi yang ada, dimana setiap petani didusun tersebut juga beternak sehingga tinggal mengembangkan. Dana yang digelontorkan pun tidak sedikit, sekitar Rp 700 juta ditambah dengan swadaya masyarakat sendiri. Kedepan, jika dusun percontohan ini dinilai berhasil maka akan diterapkan ke daerah lainnya.

Ditambahkan oleh Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian DIJ Sasongko pemantauan perkembangan integrated farming ini akan dilakukan setiap bulan.. Dimana nantinya kelompok tani yang ditunjuk diminta untuk membuat laporan pertanggungjawaban serta kendala yang dihadapi dalam pengelolaannya. "Nantinya laporan itu diberikan ke dinas kabupaten dan provinsi untuk pemantauan,"imbuhnya.

Ketua kelompok tani "Rukun" Samingan menjelaskan luas lahan yang digunakan untuk program pertanian terpadu ini sekitar 67 hektar yang tersebar di tiga dusun. Selain itu juga dibangun kandang komunal dan rumah kompos yang digunakan untuk membuat pupuk organik. Menurutnya dengan sistem terpadu ini, kerja petani jauh lebih mudah karena memanfaatkan apa yang ada. Semisal untuk pemupukan tinggal mengambil kompos yang dibuat sendiri. Samingan mengungkapkan pada masa tanam pertama tahun 2009 rata-rata produktivitasnya mencapai 10..581 kilogram gabah kering panen per hektar.

"Kami dari kelompok juga mengembangkan unit pengolahan hasil dan unit penyediaan pupuk organik. Program ini cukup memberdayakan anggota kami yang berjumlah 50 orang," tuturnya.(ila)

Posted by Wawan Kurniawan on 20.44. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented