|

Berbagi Senang di Kawasan Rebo Pungkasan

Sepasang pengantin berjalan pelan menuju tengah sungai yang dinamai penduduk Bendung Kayangan. Raut mukanya tampak khusuk. Mereka duduk pada sebuah batu agak besar. Kemudian seseorang mengguyur keduanya dengan air sungai sebanyak beberapa gayung batok kelapa. Doanya, agar perkawinan itu selalu suci dan langgeng hingga akhir hayat.
Begitulah sepenggal pelaksanaan tradisi Saparan Rebo Pungkasan yang digelar di salah satu sudut Kulonprogo, tepatnya di Pendoworejo, Girimulyo, Rabu (10/2). Saparan ini juga dilakukan di dua kecamatan lain yakni Samigaluh dan Kokap.

Saparan Rebo Pungkasan Bendung Kayangan merupakan tradisi turun-temurun yang hingga sekarang masih terus dilakukan. Tradisi ini dilaksanakan di sebuah bendungan yang menampung limpahan air dari Sungai Ngiwa dan Sungai Gunturan. Pertemuan kedua sungai yang berhulu di Gua Kiskendo dan daerah Purworejo ini berada tepat di atas bendungan.

Bendungan ini dinamakan Bendungan Kayangan karena di bagian hulu bendungan terdapat sebuah bukit yang salah satu sisi dinding bukitnya berdiri tegak lurus yang dinamakan Bukit atau Gunung Kayangan.

Pemangku adat acara itu Mulyono mengungkapkan, tradisi ini dilakukan untuk mengenang Mbah Bei Kayangan yang dipercaya sebagai abdi dalem atau pengikut Prabu Brawijaya yang lari dari Majapahit hingga sampai di wilayah yang sekarang masuk Pendoworejo, Girimulyo, Kulonprogo. “Konon di tempat inilah cikal bakal Dusun Kayangan mbah Bei bertapa dan berinisiatif membangun bendungan untuk keperluan pertanian. Apa yang dilakukan Mbah Bei Kayangan ini membawa kemanfaatan besar bagi kesuburan tanah di sekitarnya,” katanya.

Jika biasanya Rebo Pungkasan diisi dengan Kenduri Saparan Kembul Sewu Dulur (pembagian makan tradisional) dan Jamasan/ngguyang (memandikan) jaran kepang kali ini agak berbeda. Diantaranya ada ngguyang pasangan manten, ngguyang anak lelaki yang baru saja sunat, dan juga ngguyang sepeda onthel dan wayang.

“Ini untuk semakin memeriahkan acara agar semakin menarik dan variatif. Yang penting dari ngguyang itu kita ingin mewujudkan rasa syukur atas apa yang sudah kita peroleh. Ngguyang seperti mensucikan diri, membuang yang kotor dari diri kita dan membagi kebahagiaan yang sudah diperoleh agar bisa dinikmati bersama,” kata Koordinator Paguyuban Desa Budaya Menoreh, Godod Sutejo.

Tak hanya penduduk lokal, beberapa wisatawan asal Jakarta juga turut hadir.

Membawa berkah
Kesemarakan juga terasa dalam kegiatan saparan di Dusun Wonogiri Desa Sidoharjo Samigaluh. Sebilah tombak milik Ki Jati, tokoh sakti dari Kraton Jogja yang dimakamkan di Dusun Wonogiri, Desa Sidoharjo, Samigaluh, mengiringi kirab kesenian dan langkah prajurit yang memikul jodhang ubo rampe sebagai wujud rasa syukur kepada yang maha kuasa.

Setiap langkahnya mantap, layaknya bangga membawa beraneka warna hasil bumi, apapun yang tumbuh di tanah itu.

Setiap warga takzim mengikuti arakan tumpeng dari Masjid Darussalam menuju rumah kepala Dukuh Wonogiri sebagai pemimpin yang dihormati di wilayah terbawah itu. Doa dilafalkan oleh pemuka agama setempat sebelum makanan tersebut dipersembahkan kepada rakyat.

“Rasa syukur yang mendalam atas karunia yang maha kuasa kami wujudkan dalam setiap prosesi acara ini, rasa syukur diungkapkan supaya tahun depan terhindar dari marabahaya dan bencana,” kata pemuka adat Dusun Wonogiri Sidoharjo, Hadi Sumarno.

Acara tersebut, paparnya bernama kepungan atau dalam bahasa Indonesia syukuran yang rutin digelar setiap tahun tepatnya Rebo Pungkasan (terakhir) pada bulan Sapar. Acara dibagi menjadi dua bagian yaitu bersih desa dan mengarak tumpeng hasil bumi yang diperoleh.

Bersih desa bermakna agar selalu harmonis kepada lingkungan agar selalu memperhatikan keseimbangan lingkungan untuk menuju bulan yang baru agar lebih mawas diri. Sedangkan tumpeng bermakna rasa syukur agar selalu ditambahkan rezeki setiap tahun.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda, dan Olahraga Kulonprogo Bambang Pidegso menuturkan digelarnya kirab budaya ini adalah wujud realisasi ide untuk pelestarian seni budaya Jawa.

Kesenian budaya yang ditunjukkan dengan iring-iringan kirab akan terus dipertahankan sebagai wujud pengembangan kesenian yang ada di Kulonprogo.

Oleh Pribadi Wicaksono & Victor Mahrizal
WARTAWAN HARIAN JOGJA

Posted by Wawan Kurniawan on 23.48. Filed under , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented