|

Promosi Melalui Iklan Baris, Berkedok Jasa Pijat

(SI) Bisnis prostitusi memang tak pernah mati.Tak terkecuali di Kota Yogyakarta.Ada saja cara untuk menjalankan bisnis syahwat itu.Termasuk melalui iklan baris di koran dengan berkedok jasa pijat.
RANGKAIAN kalimat di sebuah iklan baris di salah koran menggelitik untuk dibaca.Kata-katanya memancing keingintahuan sebagian pembaca. Misalnya, ‘Debby dan Ajeng, Massage: 0813281xxxx’ atau ‘Ika/Audi massage bagi anda yang ingin santai dan rilex Hb 08574359xxxx’.

Ada juga yang menambahkan kalimat ‘dijamin anda fresh rileks oke dan pasti puas’. Bagi pembaca koran pada umumnya, hal itu mungkin sudah biasa. Sebuah promosi atas usaha jasa pijat yang dikelola oleh seseorang dengan harapan agar dapat pelanggan sebanyak-banyak. Karena penasaran,kemarin secara sengaja Seputar Indonesia (SI) mencoba menghubungi beberapa nomor yang tercantum di iklan baris tersebut.Tujuannya adalah mencari tahu jenis jasa apa saja yang sebenarnya ditawarkan. Nomor pertama yang dihubungi langsung tersambung.

Agak lama memang pemilik telepon mengangkat panggilan. Hampir di ujung panggilan baru diangkat oleh seorang perempuan. Dia mengaku bernama Ajeng tanpa menyebutkan berapa umurnya. Dari keterangannya, pemesan jasanya harus mem-bookingkamar hotel dahulu. ”Biasanya saya mijit di hotel di kawasan Seturan,”katanya. Hotel itu dimungkinkan adalah kelas melati.Sebab,kata Ajeng,tarif kamarnya antara Rp100.000 hingga Rp150.000.Harga itu menjadi beban si pemesan jasa pijat yang ditawarkan gadis bersuara berat tersebut. Tarif lain yang harus ditanggung pemesan adalah jasa pijat yang ditawarkan Ajeng sebesar Rp400.000 untuk jangka waktu 2 jam.

”Nanti kalau sudah dapat hotelnya, tolong hubungi saya lagi.Terserah hotelnya mau di mana,”katanya enteng. Nomor kedua yang dihubungi SI pun sama dengan yang pertama. Dia seorang perempuan yang mengaku bernama Ika. Namun tarif jasa pijat yang ditawarkannya lebih murah daripada Ajeng, yakni Rp350.000. Ika juga menyarankan agar pemesan mencari kamar hotel dulu baru kemudian bersepakat untuk bertemu. ”Biasanya saya mijat di hotel daerah Gedong Tengen,” aku Ika. Promosi praktek prostitusi berkedok jasa pijat seperti itu sebenarnya sudah jamak diketahui.Apalagi bagi wisatawan luar kota atau pelancong yang sengaja datang ke Yogyakata. Dari informasi,para pelaku bisnis birahi ini konon service-nya ‘lebih baik’ dari pada Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi.

Bahkan ada sebagian dari mereka yang masih berstatus mahasiswa. Pola kerja praktik prostitusi berkedok jasa pijat itu cukup terbuka. Menurut pengakuan Deninama samaran- yang mengakui mengetahui seluk-beluk bisnis berkedok pijat ini, pemesan bisa langsung bernegosiasi harga di telepon. Jika sudah sepakat soal harga beserta tempatnya, si tukang pijat tidak lantas langsung percaya begitu saja.Dia akan mencoba mengkonfirmasikan ke informasi hotel yang dimaksud untuk memastikan pemesannya adalah penyewa kamar yang disepakati.

”Kalau ternyata dikonfirmasi penyewa kamar adalah bukan yang memesannya,maka si tukang pijat tidak akan datang,” urai Deni kepada SI.Namun jika telah dipastikan pemesannya ada di kamar hotel yang dimaksud,maka si tukang pijat pun datang. Setelah bertemu,awalnya si perempuan biasanya berpura-pura sebagai tukang pijat beneran. Namun lama kelamaan dia mulai menawarkan diri memberikan service sesuai dengan tarifnya. Jika disepakati maka dilanjutkan, namun jika tidak si perempuan akan pergi dan meminta uang transport sebesar Rp50.000.

”Meski dalam iklan ditulis 2 jam, namun dalam prakteknya lama waktunya antara 30 menit hingga satu jam,”katanya. (abdul malik mubarak)

Posted by Wawan Kurniawan on 18.41. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented